Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 19 kecewa


__ADS_3

Cessi membuka mulutnya lebar, setelah mendengarkan apa yang disampaikan oleh Raka. Dia mencium aroma tidak sedap, di balik rencana pemuda itu.


“Mau, atau tidak?” tanya Raka lagi. Sebab, Cessi yang hanya diam saja.


“Tergantung! Jika, berat dan aneh-aneh? Gue gak mau!”


“Dasar, pemilihan!”


Raka berdecak kesal, disaat yang genting seperti saat ini. Cessi masih saja melakukan negosiasi, membuat Raka merasa kesal. Karena, sikap tidak patuh gadis itu.


“Terserah, kamu! Tapi, aku gak bisa berbuat apapun. Jika, kamu sampai diteke down sama pihak sekolah!” ancam Raka dan membuat Cessi menggembalakan matanya tidak percaya.


“Maksudnya, apa Om?” tanya Cessi penasaran.


Kemudian Raka menjelaskan, segala kemungkinan yang akan terjadi. Dari Cessi yang bisa dikeluarkan dari sekolah, atau akan berhadapan dengan ayahnya Bargon. Dimana, bisa saja lelaki itu menikahkan Cessi dengan putranya.


Cessi menggelengkan kepalanya, menolak segala kemungkinan yang telah disampaikan oleh Raka. Dia tidak menginginkan salah satu dari itu sampai terjadi.


“Gue gak mau, Om!” pekik Cessi, menolak.


Raka pun tersenyum sinis, lalu meminta Cessi agar mau menuruti semua apa yang diminta olehnya. Tanpa boleh menolak ataupun membantah.


“Makanya, kamu harus mendengarkan apa kataku! Jangan ngeyel!”


Cessi pun mau menyetujui, apa yang dikatakan oleh Raka. Walaupun, hatinya sangat merasa keberatan.


Membuat pemuda itu, tersenyum penuh arti dan meminta Cessi untuk mulai menjalankan. rencana yang telah disusun di dalam otaknya.


Disaat, Cessi dan Raka tengah sibuk dengan rencana mereka. Bargon yang telah sampai di rumah, tengah dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuanya.


“Kamu kenapa, sih, Gon? Ayah, menyekolahkan, kamu! Biar menjadi orang yang memiliki etika! Bukan, seperti ini! Ayah malu! Kamu sudah mencoret nama baik Ayah!”


Bargon hanya bisa menunduk kan kepalanya, dia merasa sangat sedih. Sang ayah hanya memikirkan nama baiknya saja. Tanpa, pernah bisa menanyakan perasaan dirinya. Sebagai anak selama ini.


“Ini semua gara-gara, kamu Bu! Coba urus bargon dengan baik! Ini, tidak! Kamu selalu saja mengurus butikmu! Dan mengabaikan putra kita!” Ayahnya Bargon pun menyalahkan sang istri.


Kemudian, terjadi perdebatan yang sengit. Diantara keduanya, membuat Bargon kecewa dan sangat muak. Dengan kedua orang tuanya, yang tidak pernah mau akur dan selalu menyalahkan satu sama lainnya. Tanpa pernah ada yang mau mengalah sama sekali.

__ADS_1


“Aku mencari uang! Kamu juga gak memperhatikan Bargon! Kamu hanya sibuk di kantor!” bentak Ibunya Bargon. Terpancing emosi.


“Aku wajar, mencari uang! Bekerja seharian di kantor! Sedangkamu? Itu seorang istri! Harus mengurus suami dan anak!” balas Ayahnya Bargon.


“Aku juga mencari uang! Tugas suami, bukan hanya mencari uang! Seorang suami, juga harus memperhatikan anak dan istrinya!”


“Cukup! sudah cukup! ayah! Ibu! Bargon sudah besar! Sudah capek! Dengan perdebatan kalian!” teriak Bargon. Meluapkan perasaannya yang selama ini tertahankan.


Bargon mengalami tekanan psikis, karena ulah kedua orang tuanya. Dimana sejak kecil, Bargon tidak pernah merasa diperhatikan dan disayangi dengan sepenuh hati. Kedua orang tuanya hanya memikirkan uang, taha, serta kekayaan. Lalu, melupakan dirinya.


Padahal, Bargon adalah aset yang paling utama untuk kedua orang tuanya. Sebab, seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Merupakan harga yang tidak dibandingkan dengan apapun.


Hingga, Ayah dan Ibunya Bargon terdiam. Mereka menghampiri putranya itu dan memeluknya dengan erat.


“Maafkan, Ayah, ya Gon,” pinta ayahnya Bargon dengan pelan.


“Ibu, juga. Maafkan, Ibu ya?” tambah Ibunya Bargon.


Tanpa Bargon sadari, jika sebenarnya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya, sebab Bargon adalah anak tunggal.


Namun, tentang cara orang tua dalam menyampaikan perasaan mereka. Berbeda-beda, bahkan sering di salah artikan.


“Lalu, apa yang harus Bagon lakukan?” tanya Bargon pelan.


Berita tentang dirinya dengan Cessi telah tersebar luas dan menjadi trending topik saat ini. Berita itu, bagaikan buih di lautan, amat sulit untuk mengumpulkannya kembali.


Ayahnya Bargon, mengurai pelukannya dan menatap sang istri. Seolah, meminta pendapat. Wanita itu.


“Kamu, maunya bagaimana, Gon?” tanya sang ibu.


Bargon terdiam sesaat, memikirkan apa yang dia inginkan. Agar, kesalahpahaman ini cepat berlalu dan bisa membersihkan nama ayahnya.


“Apakah, kamu mau menikahi gadis itu?” tanya ibunya Bargon dan membuat mata putranya terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang disampaikannya barusan.


“Apa bisa? Kami masih sekolah, Bu!” pekik Bargon dengan nada tinggi.


Dia tidak mau merusak hubungan baiknya dengan Cessi, apalagi. Bargon, sangat mengetahui. Jika, gadis yang selama ini dia sukai. Memiliki cita-cita yang sangat tinggi.

__ADS_1


Tidak mungkin, Bargon menghancurkan itu semua. Sama halnya, Bargon menghancurkan impian Cessi. Di masa hadapan.


“Lalu, bagaimana? Berita yang tersebar! Mengatakan, jika kamu dan gadis itu. Tengah melakukan hal yang tidak senonoh!” terang ayahnya Bargon dengan raut wajah serius.


Sungguh, sadis tangan para netizen. Mereka menyebarkan fitnah yang kejam, tanpa memikirkan efek buruknya. Kepada mereka sendiri dan juga orang lain.


Namun, inilah zaman sekarang. Dimana orang , katanya bisa mengekspresikan diri. Tetapi, kadang salah dalam melakukannya dan membuat orang lain merugi.


“Apakah, kalian masih. Bisa bersekolah? Setelah kasus ini tersebar luas?” tanya Ibunya Bargon yang sudah pesimis dengan masalah yang tengah dihadapi oleh putranya itu.


Bargon mencerna, baik-baik. Apa yang baru saja disampaikan oleh ibunya. Mungkin sja, mereka masih bisa kembali ke sekolah.


Namun, semuanya akan pasti berubah. Tidak sama seperti sebelumnya, bahkan. Mungkin saja, mereka akan di bully oleh pelajar lainya yang telah mengetahui kasus mereka.


“Bargon masih bingung, Bu,” kata Bargon dengan lirih.


Kemudian sang ayah memberikan masukan, di mana Bargon bisa menikahi Cessi. Secara sembunyi, yaitu menikah siri. Nanti, setelah mereka lulus sekolah. Barulah, menikah secara resmi.


Itu pun, Bargon dan Cessi hanya bisa bersekolah dari rumah saja. Tentunya, sang ayah akan mendatangkan guru les untuk mereka.


Bargon pun menimbang-nimbang, apa yang baru saja disampaikan oleh ayahnya. Menurut Bargon, tidak ada salahnya menerima usulan tersebut.


Namun, dia memikirkan. Jawaban apa yang akan diberikan oleh Cessi. Setelah mendengar permintaannya yang mengajak gadis itu untuk menikah.


“Jadi, gimana Gon?” tanya sang ibu. Mendesak Bargon untuk memberikan sebuah jawaban yang pasti.


“Apa Ibu, dan Ayah bisa menerima kehadiran Cessi disini?” tanya Bargon ingin memastikan dulu. apakah, orang taunya bisa menerima Cessi dengan baik atau tidak.


“Menurut, Ibu bagaimana?” tanya Ayahnya Bargon kepada sang istri.


Kemudian, wanita itu menjelaskan. Jika, bisa menerima Cessi dengan baik. Apalagi, dia juga sangat tertarik dengan gadis itu. Sejak pertemuan pertama mereka.


Sedangkan, ayahnya Bargon hanya mengikuti. Apa saja yang akan mereka inginkan. Sebab, lelaki itu hanya ingin melakukan yang terbaik demi keluarganya.


“Baiklah, Bargon akan mengajak Cessi menikah,” jelas bargon dengan semangat empat lima. Membara seperti gunung Bromo.


“Lalu, dimana Cessi sekarang?”

__ADS_1


Deg


Bargon melupakan hal itu.


__ADS_2