Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 40 Malam Pertama


__ADS_3

Seperti banteng di dalam arena matador, nafas Cessi naik–turun tidak terkendali. Hingga, dia menjawab pertanyaan Raka.


“Bukan hamidun! Tapi, hamidul!”


“Apa bedanya?” balas Raka. Seolah mengejek, menambah kekesalan Cessi.


“Bedalah, Abangku sayang! Hamidul itu kepanjangan dari hamil duluan! Kalau, hamidun? Gak tau Abang!” kata Cessi dengan menggebu-gebu.


Raka mengusap dagunya dan tersenyum kecil, seolah memiliki kosa kata baru.


“Kalau, begitu. Kamu aja yang hamidun,” pinta Raka dengan menekankan kata hamidun.


“What? Apa hamidun?” tanya Cessi tidak mengerti.


“Hamidun? Hamil … sama … suami … sendiri,” balas Raka dengan senyum yang mengembang.


“Cih! Gak nyambung!” balas Cessi.


Bukannya merasa tersinggung, Raka semakin ingin menjahili Cessi.


“Iya, nantikan kita bisa sambungin? Mau ‘kan?” tanya Raka dengan menaik–turunkan alisnya menggoda Cessi.


“Maksudnya, malam ini?” tanya Cessi yang masih belum mengerti dengan arah pembicaraan yang Raka bawa.


“Alah, kura-kura dalam perahu. Katanya gak tau, tapi … nyatanya suhu,” balas Raka.


Hal itu membuat Cessi semakin geram, Raka sangat pandai dan memiliki ingatan yang kuat. Atas apa yang pernah dia katakan sebelumnya, seperti memang sengaja di copy paste.


“Aku beneran gak tau, Bang! Buat apa pura-pura? Ga ada duitnya,” balas Cessi.


Raka semakin antusias, dia berdehem terlebih dahulu dan mendekati Cessi. Kemudian membisikan sebuah kata yang membuat gadis itu sontak saja mundur.


“Ma–maksud–nya ma–lam per–rtama?” tanya Cessi dengan nada yang terbata-bata.


“Malam pengantin baru,” jawab Raka dengan enteng.


“No!” balas Cessi dengan tegas.


“Why?” tanya Raka dengan polos.


Cessi terjebak oleh kata-kata yang diucapkan oleh Raka, di satu sisi. Dia yang memang istri sah pemuda yang duduk di hadapannya, tidak boleh menolak hal tersebut.


Cessi memang bukan seorang yang memahami agama secara luas, akan tetapi pelajaran di sekolah tentang ilmu tersebut. Membuat Cessi sedikit–banyaknya memahami, jika kondrat sang istri adalah patuh.

__ADS_1


Selama, apa yang dikatakan atau diperintahkan oleh sang suami masih berada dalam norma wajar dan agama. Maka, dia berdosa. Jika, menolaknya.


Apalagi, sudah jelas. Jika, sang suami. Harus memberikan nafkah lahir dan batin, sebagai bentuk tanggung jawab.


Tidak boleh seorang istri, hanya mau dengan nafkah lahir dan menolak yang batin. Dimana, posisi sang istri yang hanya menginginkan uang dari suaminya. Namun, menolak untuk melayani nafsu birahi sang suami.


Hukumnya, sudah memberatkan untuk pihak istri. Karena, telah termasuk ingkar atas kewajibannya sebagai istri.


Dengan raut wajah yang pasrah dan terlihat masam, Cessi menatap ke arah Raka.


“Iya, Bang. Malam ini, malam pertama kita,” katanya dengan nada lesu.


Raka yang tadinya sangat berambisi untuk menggoda sang istri, kini menjadi tidak tega. Apalagi, raut wajah Cessi yang tidak sedap dipandang. Membuat Raka menyudahi, kisah malam pertama yang entah kapan akan terjadi.


“Aku hanya bercanda! Jangan, nangis. Soalnya, aku gak punya permen.”


Raka mencoba menghibur Cessi, bahkan dia mengacak-acak rambut istrinya itu. Seperti seorang kakak yang tidak tega ingin menjahili sang adik, agar tidak menangis.


“Tapi, Bang—”


“Sudahlah, aku juga harus pergi kerja. Takut telat, nanti komisiku dipotong lagi,” kata Raka cepat, memotong ucapan Cessi. Sebelum sang istri meneruskan perkataannya.


Raka pun segera bangun dari posisi duduknya dan berjalan menuju pintu keluar, akan tetapi Cessi menahan pergelangan Raka. Seolah tidak ingin sang suami pergi.


Pandangan mata mereka saling bertemu, seolah ada suatu rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan, Raka tanpa sadar mendekatkan tubuhnya ke arah Cessi.


Deru nafas gadis itu, bisa dia rasakan. Saking dekatnya mereka, begitupun dengan Cessi. Terpaan udara yang keluar dari lubang hidung Raka. Membuat jantungnya berdetak dengan kencang.


Tidak bisa mereka pungkiri, jika ada tarikan magnet yang sangat kuat. Ketika menatap satu–sama lain dengan intens.


Sampai ada suatu dorongan kuat yang membuat Raka mendekatkan wajahnya ke arah Cessi, dia ingin kembali mengecup bibir gadis itu.


Berbeda dengan sebelumnya, dimana Cessi akan berteriak dan marah. Namun, kali ini gadis itu hanya pasrah dan menutup matanya.


Raka yang melihat Cessi memejamkan matanya, merasa geli. Muncul kembali ide, untuk menjahili istri kecilnya itu.


Raka meniup-niup wajah Cessi dan membisikan sesuatu, tepat di sebelah telinga istrinya.


“Nanti malam, kita lanjutkan.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Raka segera meninggalkan Cessi. Membuat istrinya mengumpat dengan nyaring, karena merasa telah dikerjai olehnya.


“Abang Raka! Menyebalkan!” pekik Cessi dengan menekankan kata menyebalkan.

__ADS_1


Sedangkan Raka yang telah berjalan menjauh, hanya tersenyum penuh arti. Dia yakin, bahwa akan bisa membuat cessi jatuh cinta padanya.


Walaupun, mungkin akan memerlukan waktu yang cukup lama. Sampai sang istri menyadari perasaannya sendiri.


“Aku yakin, kamu akan jatuh cinta padaku,” batin Raka.


Sedangkan Cessi yang ditinggalkan begitu saja oleh Raka, tidak henti-hentinya mengumpat kesal. Bukan hanya di kerjai oleh sang suami, akan tetapi keadaan tubuhnya yang tidak sinkron dengan otaknya.


“Gue kenapa sih? Apa mungkin, kalau suka sama om-om mesum kayak dia?”


Cessi terus saja berbicara sendiri dan mengacak-ngacak rambutnya, merasa kesal. Karena, merasakan perasaan aneh setiap kali berada di dekat Raka.


“Apa karena, dia telah menjadi suamiku,’” gumam Cessi masih mengira-ngira, penyebabnya. Hingga, Bik Indah mengetuk pintu dan mengagetkan gadsi itu.


Tok


Tok


“Non,” panggil Bik Indah. Dia merasa segan untuk masuk, walaupun pintu kamar tidak dikunci dan terbuka lebar setelah kepergian Raka.


Dia melihat Cessi yang tengah berbicara sendiri, hal itu membuat Bik Indah menjadi khawatir dan ingin mengajak gadis itu melakukan hal yang lebih bermanfaat.


"Eh, Bik Indah. Masuk Bik," ajak Cessi dengan ramah. Barulah wanita itu masuk kedalam kamar.


"Non Oliv baik-baik, saja?" tanya Bik Indah hati-hati dan mendapatkan anggukan kecil dari Cessi.


Kemudian, Bik Indah mengajak Cessi untuk bercerita. Tentang kehidupan gadis itu selama ini, lebih tepatnya. Selama menjadi anak angkat dari Pak Broto dan Ibu Indri.


Cessi paham akan arah pembicaraan yang dimulai oleh Bik Indah, seolah sedang mengumpulkan informasi. Akan tetapi, gadis itu malah melesetkan pembicaraan mereka. Tentang malam pertama.


"Bik, aku ko deg-degan. Malam ini 'kan malam pertama, aku jadi istri Abang Raka," jelas Cessi dengan raut wajah serius.


Sedangkan Bik Indah yang mendapat pertanyaan tersebut, bingung mau menjawab apa. Wanita itu hanya bisa tersenyum kecut.


"Bibik gak tau, Non," jawabnya jujur.


Kali ini, Cessi yang ingin mencari informasi dari Bik Indah.


"Loh, 'ko bisa? Gi mana caranya, Bibik bisa hamil? Kalau … tidak melakukan malam pertama," tanya Cessi dengan polosnya.


Wajah Bik Indah menjadi pias seketika, dia semakin terpojokkan. Dengan apa yang baru Cessi katakan.


"Itu—"

__ADS_1


__ADS_2