
Disaat Cessi tengah menghadapi kejelasan statusnya, disisi lain. Bargon menghadapi kekecewaan yang berat, setelah di usir dengan paksa dari kediaman Raka.
Pemuda itu, hanya bisa menggenggam erat tangannya. Merasakan perasaan yang amat geram, karena telah terlambat.
Mau tidak mau, Bargon pun meninggalkan tempat tersebut. Dengan langkah gontai, dia menuju ke motornya dan membawa kendaraan beroda dua itu pergi.
Selama di perjalanan, air mata pemuda tersebut menetes tanpa henti. Seorang pemuda yang latah hati, serta merasa menyesal. Disaat menyatakan suka pada gadis yang dia inginkan selama ini, semuanya telah menjadi angan-angan belaka.
"Kenapa, Oliv? Kenapa?" gumam Bargon selama di atas motor yang dikendarainya. Dia bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah salah. Jika, dia mencintai seseorang. Hanya karena, Bargon belum siap menyatakan perasaannya. Gadis yang disukai, telah bersama orang lain.
Sakit, akan tetapi tidak berdarah. Itulah yang dirasakan Bargon, dia harus menerima semuanya. Sebab, sudah tidak ada pilihan lain lagi.
Disaat, Bargon yang mengendarai motor dengan keadaan yang penuh kekecewaan. Tanpa sadar, dibelakang pemuda itu ada sebuah truk tangki yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Tittt
Suara klakson mobil yang berbunyi nyaring, baru Bargon tersadar. Namun, sudah terlambat. Mobil truk tersebut, telah mendekat dan menabrak motor yang dikendarai oleh Bargon.
Brak
Tabrakan tidak bisa dihindari, motor yang dikendarai oleh Bargon terseret mobil truk tersebut ditambah dengan keadaan pemuda itu yang ikut terpental.
"Aaaa … ."
Teriakan Bargon, ketika kejadian itu terjadi dengan cepat. Bahkan, pemuda tersebut tidak bisa menghindari sama sekali mobil truk yang menabraknya dari arah belakang.
Keadaan sangat sangat memperhatikan, kecelakaan terjadi terlalu cepat. Ditambah jalanan yang sepi, membuat tidak banyak kendaraan lain yang melintas.
Membuat kecelakaan antara mobil truk dan motor Bargon, menjadi sebuah perhatian. Serta beberapa kendaraan lain yang sedang melintas, terpaksa berhenti.
Motor Bargon mengalami kerusakan yang sangat parah, sedangkan mobil truk yang menabraknya. Hanya mengalami kerusakan di bagian depan saja, setelah menabrak motor Bargon. Mobil truk tersebut, menabrak pohon yang berada di sisi jalan.
__ADS_1
"Tolong! Tolong!" teriak pengendara yang lain. Ketika, melihat kecelakaan tersebut.
Naas nasib Bargon, bukan hanya patah hati. Namun, juga patah tulang. Akibat kecelakaan tersebut, Bargon merasakan rasa sakit yang luar biasa di bagian kakinya.
"Arg … tolong aku!" kata Bargon. Seraya melihat beberapa orang yang mendekat ke arahnya, sebelum penglihatannya yang memudar.
Kepala yang terasa sangat berat, ditambah bau anyir yang menyengat. Membuat pemuda itu, kehilangan kesadarannya.
"Oliv, jika aku mati. Maka, di kehidupan selanjutnya. Akan aku pastikan, kalau kita bersama," batin Bargon bertekad. Sebelum pingsan.
Riuh orang yang berada di tempat kejadian, mereka segera menghubungi ambulans. Serta menolong korban, dimana ada Bargon dan sang supir truk.
Keadaan jalanan waktu itu, menjadi agak terganggu. Karena, para pihak kepolisian yang turun ke tempat kejadian perkara. Langsung mengamankan tempat tersebut, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sedangkan para korban, langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Keadaan sang supir truk yang menabrak motor Bargon tidak mengalami keadaan yang berarti, sebab berada di dalam mobil.
Berbeda dengan Bargon yang harus masuk ruang ICU, dikarenakan keadaan yang sangat parah. Bahkan, pemuda itu hampir kehabisan darah. Jika saja, tidak mendapatkan pertolongan yang cepat.
Kedua orang tua Bargon yang mengetahui, keadaan sang putra semata wayang mereka. Segera menuju ke rumah sakit tersebut, mereka rela meninggalkan pekerjaan yang selama ini. Mengalihkan perhatian mereka kepada Bargon.
Karena, tidak ada perubahan. Membuat Amara yang saat itu tengah berada di dalam kamarnya, menaruh curiga dan segera menghubungi Bargon.
Namun, sayang. Berkali-kali gadis itu menghubungi ponsel Bargon, selalu saja berada diluar jangkauan.
Menandakan, jika ponsel milik Bargon tidak aktif. Amara yang semakin curiga, jika telah terjadi sesuatu. Segera menghubungi, keluarga Bargon.
Kebetulan dengan kemampuan Amara dalam bidang teknologi, membuat gadis itu tidak merasa kesulitan yang berarti. Bahkan, dengan mudahnya. Dia mendapatkan nomor telepon rumah Bargon dan segera menghubunginya.
Cukup lama Amara hanya mendengar suara berdering, hingga suara seorang wanita menyapanya. Diseberang sana, membuat Amara bernafas lega.
"Halo, dengan kediaman keluarga Bargon Lubis."
__ADS_1
"Hallo, maaf jika mengganggu waktunya. Saya adalah teman Bargon, Bu. Apakah Bargon–nya ada?" tanya Amara dengan sopan.
Baru saja senyum mengembang di wajah gadis itu, namun setelah mendengar jawaban dari seberang sana. Dimana yang sedang diajaknya berbicara lewat sambungan telepon, merupakan asisten rumah tangga Bargon.
Perasaan Amara, remuk–redam. Bahkan, ponsel yang sedang berada di dalam genggaman gadis itu terjatuh seketika. Setelah mendapat kabar duka yang sangat mendalam.
"Non, Non," panggil asisten rumah tangga Bargon berkali-kali memanggil lawan bicaranya, hingga pada akhirnya. Sang asisten rumah tangga itu, menutup telepon. Karena, tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.
Sedangkan, Amara. Kini hanya terpaku di tempat, dengan lelehan air mata. Serta, tangan yang membekap mulutnya sendiri.
Sampai ponsel miliknya terjatuh sekali pun, diabaikan begitu saja oleh gadis tersebut. Perasaan sangat terkejut, setelah mendengar berita yang baru saja didapat.
Amara tidak bisa membayangkan, keadaan Bargon saat ini. Tubuhnya terasa lemas seketika, dengan keadaan demikian. Gadis itu sampai terduduk di tempat dia berdiri, tubuhnya merosot ke lantai.
"Ini tidak mungkin?" lirih gadis itu. Menepis perasaan yang sama sekali tidak bisa dibayangkan, Amara kembali mengingat. Kejadian, sebelum Bargon pergi dari rumahnya.
Dimana, pemuda itu pergi mencari keberadaan Cessi. Amara mengepalkan tangannya kuat, ada perasaan tidak terima yang menyeruak begitu saja.
Karena, Cessi. Bargon pergi dan mengalami kecelakaan, hal itu yang ada didalam benak Amara. Membuat gadis itu menyalakan, Cessi dalam keadaan yang terjadi kepada Bargon.
"Ini salah Cessi! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" teriak Amara yang merasa kecewa dan sedih dalam waktu yang bersamaan.
Amara yang terus saja berteriak-teriak, memaki dan menyebut-nyebut nama Cessi. Membuat sang ibu yang tidak sengaja melewati kamar putrinya tersebut, segera menghampiri Amara.
"Mara! Mara! Kamu kenapa, Sayang?" panggil sang ibu. Namun, tidak digubris sama sekali oleh Amara. Membuat wanita itu, segera masuk kedalam kamar sang anak dan melihat keadaan Amara yang tidak biasa.
"Amara! Kamu kenapa?" tanya ibunya Amara dengan perasaan penuh tanda tanya. Melihat putrinya yang seperti mengalami tekanan, wanita itu segera mendekati Amara.
Namun, diluar dugaan. Gadis yang biasanya pendiam dan penurut, jika berada di rumah. Kini menjadi meronta-ronta tidak jelas.
"Pergi, Bu! Pergi! Tinggalkan Amara!" teriak Amara, seraya meraung-raung. Membuat sang ibu tambah bingung, serta menerka-nerka. Apa yang terjadi kepada anak semata wayangnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mara?"
"Cessi!"