
Namun, baru saja kaki Cessi melangkah. Tanganya di cekal oleh Bargon dan berhasil menghentikan langkahnya.
"Loe mau apa, sih, Gon?" pekik Cessi kesal.
Bargon yang dibentak oleh Cessi pun terbakar api cemburu, karena merasa. Jika, Cessi berubah. Disebabkan dekat dengan Raka.
"Gue mau loe! Gue hanya mau loe!" teriak Bargon nyaring dan menarik perhatian siswa dan siswi lainnya. Mereka pun sama-sama berteriak.
"Terima! Terima! Terima!"
"What?" teriak Cessi dengan mulut yang menganga. Cessi bukannya tidak mengerti dengan maksud ucapan Bargon, hanya saja dia belum siap dengan pernyataan suka yang dilakukan oleh pemuda itu yang terkesan dadakan dan tidak tulus.
“Gue suka sama loe, Oliv! Gue mau jadi pacar loe!” teriak Bargon dengan sekuat tenaga dan membuat para siswa dan siswi lainya semakin ricuh, serta mengerumuni mereka berdua.
“Terima! Terima!”
Hal itu membuat Cessi merasa malu dan segera keluar dari kerumanan itu, dia merasa jika Barghon sudah sanggat keterlaluan.
Cessi terus berlari, tanpa menghiraukan teriakan dari banyak orang. Gadis itu ingin segera masuk kekelasnya, seking lajunya Cessi berlari. Dia tidak sengaja menabrak Pak Martin, hingga wali kelasnya itu terpental.
“Aw! Kamu kenapa Cessi!” teriak Pak Martin dengan mwngwluh kesakitan. Sedsngkan Cessi yang juga terjatuh dengan posisi terduduk, merasa semakin malu. Ditam,bah cemilan yang diberikan oleh Raka, semuanya telah berhamburan.
“Maaf, Pak! Maaf!”
Cessi terus meminta maaf dengan perasaan yang tidak nyaman, lalu memungguti kembali cemilan yang berhamburan dan memasukannya kedalam tasnya. Sebab, kantong kresek tadi telah robek.
Dissat Cessi tengah sibuk memeungut ce,milan yang berjartuhan. Bargon pun datang dan membantu Cessi tabpa berbicara.
Pak Marin yang merasa kasihan dengan kedua murid nya itu pun. Segera bangun dan ikut membantu, dia juga berpesan. agar Cessi lebih berhati-hati lagi.
“Jangan berlarian di lorong sekolah! Itu berbahaya!” pesan Pak Martin dengan nada tegas, sebelum berlalu meninggalkan Cessi dan Bargon.
Setelah kepergian Pak Martin, Bargon segera menarik tangan Cessi. Menuju belakang sekolah, dia melihat keadaan yang sepi. Kemudian, menodong beberapa pertanyaan kepada gadis yang disukainya itu,
__ADS_1
“Oliv! Kenapa kamu bersama om-om, kemarin? Terus, kenapa kamu gak mau menerima gue? Apa kamu menjadi baby sugar om-om?”
Plak
Salam lima jari, mendarat dengan sempurna di pipi Bargon. Matanya melotot dengan sempurna, dia merasa tidak percaya. Jika, Cessi bisa melakukan hal seperti ini kepadanya. hanya gara-gara om mesum kemarin.
“Oliv, loe—”
“Apa?” pekik Cessi nyaring, dia merasa kecewa kepada Bargon dengan apa yang diucapkan oleh pemuda itu, ternyata selama ini. Bargon belum mengenalnya dengan baik. padahal mereka sudah lama mengenal dan sering bersama.
Bargon yang melihat Cessi menangis, segera memeluk gadis itu. Walaupun, berkali-kali Cessi meronta dan memukul tubuhnya. Namun, bargon masih memeluk Cessi dengan erat.
Bargon tahu, ada sesuatu yang terjadi dan membuat gadis itu, menjadi seperti ini. Karena, Bargon tahu. Jika, Cessi sangat jarang menangis. Jika, bukan sesuatu yang membuat benar-benar merasa sakit.
Setelah, Cesi agak tenang. Barulah, Bargon mengurai pelukannya dan menangkupkan tangannya ke wajah Cessi. Gadis yang dia sukai sejak lama.
“Loe kenapa? Ada gue, untuk loe,” jelas bargon.
Cessi hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada hidupnya. Sebab, tidak ingin menyusahkan Bargon.
Bargon dan Cessi berbalik badan dan melihat beberapa pelajar lainya di temani oleh Pak Martin tengah melihat jedadan mereka yang sedang berpelukan.
“Tidak, Pak! Kami—”
“Ah, alasan! Ayo bawa mereka! Kita laporkan ke kepala sekolah,” teriak seorang siswi yang menyukai Bargon dan membenci Cessi. Dia menghasut teman-teman yang lain dan membuat Bargon dan Cessi dibawa ke kantor kepala sekolah.
Nasi sudah menjadi bubur, tidak bisa kembali menjadi nasi lagi. Bargon dan Cessi tidak bisa menolak, apa yang telah terjadi. Mau menjelaskan seperti apapun, tidak akan dipercaya.
Sebab, mereka sudah tertangkap basah, berduaan ditempat yang sepi dengan adegan yang katanya tidak senonoh.
Disinilah, mereka berdua. Duduk di hadapan kepala sekolah yang menatap nyalang ke arah mereka.
“Bapak sangat kecewa kepadamu, Cessioliv! Padahal, kamu siswi terbaik di sekolah ini!”
__ADS_1
Suara penuh kekecewaan dan emosi, tergambar dengan jelas dari apa yang baru disampaikan oleh Sang kepala sekolah. Membuat Cessi membuang nafas panjang.
“Ini hanya salah paham, Pak! Kami tidak melakukan apapun,” jelas Bargon yang tidak ingin kesalah pahaman ini. Membuat dirinya dan Cessi berada di dalam masalah yang bisa.
“Apanya yang salah paham! Bapak melihat kalian berduaan dan sedang berpelukan! Kalian, pikir bisa membodohi kami!” pekik Pak Martin yang juga ada disana.
Cessi hanya bisa menundukan kepalanya, dia bingung harus bagaimana. Hal yang paling ditakuti olehnya adalah. Ketika nantai sang kepala seolah memanggil kedua orang tuia angkatnya.
Entah apa yang akan terjadi, jika hal itu benar-benar dilakukan oleh sang kepala sekolah. Cessi yakin se–yakin–nya, jika kedua orang tuanya angkatnya akan semakin marah padanya.
“Saya tidak berbohong, Pak!”
Bargon masih bersikeras dengan apa yang dikatakan olehnya, sebab memang tidak melakukan apapun, Selain berpelukan dan hal itu disalah artikan. Padahal, Bargon hanya ingi n menenangkan Cessi.
“Cukup! Bapak tahu! Jika, orang tuamu! Adalah pemegang saham terbesar di sekolah ini! Tapi … kamu juga tidak bisa semaunya!”
Cessi tertegun dengan apa yang dikatakan oleh sang kepala sekolah, tentu saja hal itu ditujukan kepada bargon. Sebab, selama ini Cessi hanya mengetahui. Jika, Bargon hanya dari keluarga biasa-biasa saja.
“Mohon, maaf, Pak! Saya tidak membawa kedua orang tua saya dalam kasus ini! Saya hanya ingin menjelaskan! Apa yang sebenarnya terjadi!” Bargon masih kekeh akan pendiriannya, dan ingin membebaskan dirinya dan juga Cessi.
“Kamu bisa menjelaskannya, nanti! Setelah kedua orang tuamu datang! Dan kamu, Cessi! Bapak sudah menghubungi kedua orang tuamu!”
Cessi menonggak dan menatap wajah sang kepala sekolah, yang dikenal sangat tegas dalam menindak. Siapapun yang melakukan kesalahan, hal itu membuat Cessi semakin tertekan.
Tidak berapa lama, pintu ruangan itu pun diketuk, Pak Martin pun segera membukakan pintu. Ternyata ibunya Bargon yang datang. Wanita sosialita itu duduk dengan anggun didepan kepala sekolah dan menanyakan perihal dirinya dipanggil
“Mohon, maaf, Pak! Kenapa anda memanggil saay kesini?’ tanya ibunya Bargon dengan nada tidak suka. Sebab, memiliki kesibukan dan harus pergi ke sekolah.
Sang kepala sekolah pun menjelaskan, apa yang terjadi. Terlihat ibunya Bargon mengeritkan dahnya dan melihat ke arah Cessi. Memperhatikan gadis itu dari atas hingga kebawah.
“Jadi, apa yang akan anda lakukan?” tanya ibu Bargon kepada sang kepala sekolah. Tanpa, mengalihkan perhatiannya dari Cessi.
“Saya akan memberikan tindakan tegas, tentang apa yang telah mereka berdua lakukan,” jelas kepala sekolah dengan nada serius.
__ADS_1
“Baiklah! lakukan!”
“Ibu!”