Ayo Nikah

Ayo Nikah
Bab 46 Pernikahan


__ADS_3

Raka seolah terdesak, ingin dia mengatakan tidak. Namun, kenyataan iya. Di tengah dilema yang dihadapi Raka, Cessi malah menyeletukkan kata-kata menohok.


"Iya! Abang Raka sudah menyentuhku!" jawab Cessi dengan suara nyaring, tetapi masih dengan keadaan kepala yang merunduk.


Radja yang mendengar hal tersebut berdecak kesal, dia menatap kearah Raka dengan tajam.


"Ayah kecewa!" katanya.


"Yah! Bukan seperti itu!" Raka ingin menjelaskan, namun sang ayah seolah tidak mau mendengar.


"Menjelaskan apalagi? Jujur!" perintah Radja seolah tidak ingin dibantah lagi.


Dengan raut wajah melas, Raka menjelaskan. Jika, dirinya telah menyentuh Cessi. Walaupun hanya sebatas memegang tangan saja, atau mengecup bibir sang istri.


Cessi yang mendengar pengakuan Raka tersebut menjadi malu, sedangkan Radja hanya bisa meraup wajahnya kasar.


“Raksa! Kamu tidak s*b*d*h itu kan?” bentak Radja yang geram akan putarannya tersebut.


Sedangkan Raka hanya menatap ke arah sang ayah dengan sorot mata polos, seolah belum mengerti dengan maksud dari Radja.


“Kenapa, Yah? Kan tadi tanya? Kalau, aku sudah menyentuh Oliv atau belum? Aku jawab, iya. Walaupun, hanya tangan. Pernah mencium Oliv di bibir, hanya itu. Tidak lebih,” balas Raka.


“Bukan yang itu Raksa! Maksud Ayah … .”


Radja bingung sendiri, bagaimana menjelaskannya. Dia lalu menatap Bik Indah, berharap wanita itu mau menjelaskan maksud. Dari ucapannya yang membuat Raka salah tanggap.


“Bik,” panggil Radja.


Wanita itu menganggukan kepala kecil, kemudian menjelaskan bahasa halus. Agar Raka mengerti.


“Den, maksud Tuan Besar. Menyentuh itu? Apakah, Den Raka telah melakukan hubungan suami–istri,” jelas Bik Indah.


Raka menepuk dahinya, dan menggelengkan kepala. Setelah mendengar, apa yang baru saja Bik Indah sampaikan.


“Apa benar?” tanya Radja yang tidak akan percaya begitu saja.


“Beneran, Yah! Kalau, gak percaya? Tanya saja ke Oliv,” tantang Raka.


Kini perhatian Radja tertuju kepada, Cessi. Gadis itu sedari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya.


“Sebenarnya, namanya siapa? Oliv atau Cessi?” tanya Radja yang merasa bingung. Karena, nama di dalam buku nikah tertulis Cessioliv.

__ADS_1


“Namanya, Oliv, Yah.”


Raka yang menjawab pertanyaan dari sang ayah, mendapatkan tatapan tajam dari lelaki itu.


“Ayah gak tanya sama kamu!” balasnya dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


Radja kembali, mengulangi pertanyaan yang sama kepada Cessi.


“Jadi, nama kamu siapa?”


Jantung gadis itu berdetak dengan cepat, seraya meremas ujung bajunya. Karena, merasa gugup. Sedangkan tangan yang satunya, masih digenggam oleh Raka.


“Gak, pa–pa. Ayah baik, ko. Walaupun wajahnya mengerikan,” jelas Raka.


Cessi mengumpulan keberaniannya, lalu menonggak. Menatap kearah Radja yang sedari tadi memperhatikan–nya.


“Nama, saya Cessioliv. Biasa–nya, dipanggil Cessi. Hanya tiga orang yang memanggil saya dengan panggilan Oliv. Bik Indah, Abang Raka dan sahabat saya, Bargon.”


Radja tertegun dengan nama seseorang yang sangat dia kenal, dia pun menyatakan. Hubungan Cessi dengan orang tersebut.


“Apa kamu sangat dekat dengan Bargon, anak Pak Herman?” tanya radja ingin memastikan.


“Iya, saya sangat dekat. bahkan, kami bersahabat sejak lama,” jawab Cessi yang berharap. Jika, Radja bisa membantunya. Untuk bertemu dengan para sahabatnya yang kini tengah ditimpa masalah.


Raka yang mendengar hal itu, menjadi kebakaran jenggot. Dia sangat mengutuk mulut ayahnya sendiri, yang suka terbuka tanpa adanya filter.


“Ayah!” pekik Raka.


Sedangkan, Cessi yang memang sudah tahu akan hal itu hanya menganggukkan kepalanya. Menjawab, pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Radja.


“Kamu benar-benar keterlaluan, Raksa! Calon istri orang, kamu embat juga?” terang Radja dengan raut wajah kekecewaan. Sekarang, dia bisa mengira. Alasan putranya yang menikah secara diam-diam.


“Cih! Ayah salah sangka!” balas Raka yang tentu saja tidak akan pernah menerima tuduhan murahan seperti itu.


“Lalu?” tanya Radja dengan senyum mengejek.


Raka pun menjelaskan semuanya, dari awal dia bertemu dengan Cessi. Hingga, membuat perjanjian. Semuanya tidak luput dari cerita Raka, dimana dirinya menyatakan. Jika, terlebih dahulu ingin menikahi Cessi. Sebelum kejadian Cessi dengan Bargon.


“Ayah masih belum bisa menyatakan apapun! Ayah harus mencari bukti, atas semua yang kamu katakan. Selama itu? Ayah harap, kamu tidak membuat Cessi hamil!” ucapk Radja dengan tegas dan bangun dari posisi duduknya.


Perjalanan dari luar kota, dimana memerlukan beberapa jam lamanya. Hingga, Radja bisa sampai. Membuat lelaki itu merasa lelah dan ingin segera beristirahat.

__ADS_1


Namun, masalah yang tengah terjadi. Memang harus segera diselesaikan, walaupun Radja memerlukan waktu. untuk membuktikan semua ucapan putranya bukan hanya isapan jempol belaka.


“Aku berjanji, Yah!” balas Raka dengan kesungguhan.


Radja hanya tersenyum sekilas, kemudian mempercepat langkahnya menuju ke kamar.


“Huf … ayah memang mengerikan,” gumam Raka. Dia bisa bernafas lega, setidaknya untuk sekarang.


“Bang,” panggil Cessi.


“Kamu jangan khawatir, aku akan menjagamu dengan baik,” jelas raka. Menenangkan perasaan istrinya, yang ia tahu tengah ada keraguan dan kebimbangan.


“Bibik, sangat harap. Jika, Den Raka. Tidak membuat Non Oliv hamil,” kata Bik Indah tiba-tiba dan membuat mereka menatap ke arah wanita itu dengan perasaan yang heran.


“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Bik. Bahkan, nanti … aku akan memberikan sebuah pernikahan yang mewah untuk Oliv,” terang Raka dengan kesungguhan hati.


Bik Indah hanya tersenyum dan memilih pamit, dia harus meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda.


Sedangkan Raa dan Cessi, pasangan suami–istri itu memilih untuk ke kamar mereka. Karena, ingin membahas sebuah misi rahasia.


“Bang, apa benar? Abang akan membuatkan sebuah pernikahan yang mewah untukku?’ tanya Cessi dengan polos. Ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


“Tentu saja, kamu wanita pertama dalam hidupku,” jawab Raka.


Namun, apa yang Raka ucapkan hanya membuat Cessi memutar bola matanya malas.


“Wanita pertama, atau kedua?” tanya Cessi dengan nada menyindir.


Membuat Raka tertawa lepas, dia merasa sangat bahagia. Karena, melihat perasaan cemburu yang ditampakkan oleh istrinya.


“Emangnya, kenapa?” tanyanya sengaja menjahili sang istri.


“Gak pa–pa, cuma mau ngasih tau aja. Kalau Abang, merupakan pemuda kedua yang menciumku,” balas Cessi dengan santai dan naik keatas ranjang.


Raka yang mendengar hal itu, menjadi naik pitam. Tanpa aba-aba, dia segera menindih tubuh Cessi. Mengunci gadis itu, agar berada di dalam kukungan–nya.


“Bang!” teriak Cessi yang merasa sesak.


“Ulangi, ucapanmu tadi?” tanya Raka dengan sorot mata tajam.


“Yang, mana?” kata Cessi pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


“Bagian, bibir!” Raka menekankan ucapanya tersebut. Membuat nyali Cessi menciut, apalagi kilatan kemarahan yang menyala-nyala di maat Raka.


“Aku hanya bercanda.”


__ADS_2