
“Non Oliv, kenapa?” tanya Bik Indah membuyarkan lamunan Cessi.
“Aku hanya ingin bertemu dengan ayah kandungku, Bik. Agar, dia bisa menikahkanku dengan Abang Raka secara sah,” jawab Cessi dengan mata yang penuh akan harapan.
Bik Indah tertegun dengan apa yang disampaikan oleh Cessi dan membatin, “Dimana dirimu sekarang, Mas Burhan? Putri kita ingin bertemu.”
Disaat Cessi dan Bik Indah yang tengah sibuk memikirkan, tentang lelaki yang bernama Burhan. Hingga, tidak menyadari akan kedatangan Raka.
Pemuda itu berkali-kali, mengetuk pintu. Namun, tidak juga dibuka oleh penghuni yang berada di dalamnya. Membuatnya merasa kesal, untung Raka mengantongi kunci rumah.
Dia pun bisa masuk, tanpa menunggu lebih lama lagi. Bisa pegal kakinya berdiri didepan pintu. Hingga, dia melihat Bik Indah dengan Cessi yang tengah duduk di ruangan tengah.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Raka tiba-tiba. Membuat kedua wanita itu tergaket dan menatap ke arahnya.
“Den Raka,” panggil Bik Indah. Sedangkan, Cessi yang melihat sang suami. Langsung menghampiri Raka dan memeluknya erat, tanpa merasa malu.
“Hey, kamu kenapa?” tanya raka yang bingung dengan sikap Cessi.
“Aku kangen, dan jangan tinggalkan aku sendirian lagi,” balas Cessi yang masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Raka yang mendengar hal itu, tersenyum sendiri. Dia mengurai pelukan mereka dan menatap wajah Cessi dalam.
“Aku ada urusan tadi, sekarang … urusanku sama kamu,” terang Raka.
Raka yang mendapat telepon dari kantornya dan harus segera kesana, ditambah sang ayah yang juga ingin pulang. Membuat Raka, menjadi supir pribadi Radja.
Padahal, lelaki itu bisa menyetir mobil sendiri. Namun, sengaja ingin menjebak Raka. Agar bisa dieksekusi oleh ibunya, Rumini.
Karena, Rak yang menikah. Tanpa memberitahukan apapun kepada wanita yang telah melahirkannya kedua itu.
Tentu saja, Raka di semprot habis-habisan oleh Rusmini. Ibunya bahkan, meminta Raka untuk menemukan dirinya dengan Cessi.
Gadis yang Raka nikahi, hal itu yang membuat Raka kembali lagi. Dia ingin mengajak Cessi untuk bertemu dengan sang ibu.
Namun, Raka harus menyelesaikan pekerjaan yang telah menuntutnya. Terlebih dahulu, barulah dia menemui sang istri.
Cessi menatap bingung ke arah Raka, dan bertanya, “ Emang, apa urusannya dengan aku?”
Pertanyaan polos yang Cessi lontarkan, membuat Raka menjadi gemas. Dia mencubit pipi sang istri, kemudian menjelaskan. Bahwa, mereka akan menghadap sang ratu.
__ADS_1
Cessi masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Raka, dengan wajah polosnya. Dia bertanya, “Siapa Ratu? Kekasih, Abang?”
Takkk
Raka menjitak dahi istrinya dan membuat gadis itu mengeluh, merasakan panas di bagian tersebut. Gara-gara ulahnya.
“Aw! Sakit, Bang!” pekik Cessi dengan nada kesal. Ingin membalas, namun tidak berani.
“Makanya, jangan asal nyerocos! Sekarang, ganti bajumu. Terus … kita akan jalan-jalan,” jelas Raka.
Namun, Cessi malahan mematung di tempat. Kata ganti ‘bajumu’, membuat dirinya menatap pakaian yang dikenakan.
Sebab, Cessi merasa sudah mengenakan baju. Apa yang salah dengan penampilannya, hal itu yang dipertanyakan oleh batinnya.
“Ayo,” ajak Raka. Seraya menuntun Cessi kembali ke kamarnya, untuk mengganti pakaian.
Bik Indah yang melihat raut wajah bingung, tercetak dengan jelas di wajah Cessi. Berinisiatif, menawarkan bantuan.
“Non, biar Bibik bantu,” katanya dan membuat gadis itu menatapnya dan menganggukan kepalanya pelan.
“Biar Bibik yang mengantar, Non Oliv. Ya, Den,” pinta Bik Indah kepada Raka.
Sedangkan, Bik Indah dan Cessi kini sudah berada di dalam kamar dan tengah memilih pakaian yang ingin gadis itu kenakan.
“Non,” panggil Bik Indah dengan meringis. Karena, melihat isi lemari Cessi yang hanya ada kaos oblong dan celana jeans saja.
“Kenapa, Bik?” tanya Cessi dengan polos.
Bik Indah pun, mengambil inisiatif. Dengan membuka lemari sebelah pakaian Cessi, dan mengambil dress dengan lengan agak panjang. Serta, bagian bawahan yang sampai lutut.
“Pakai yang ini, aja,” terangnya. Seraya menyerahkan dress tersebut.
Cessi ragu mengambil dress yang disodorkan oleh Bik Indah, dia trauma dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana, dirinya yang mengenakan mini dress dan dimarahi wanita itu.
“Kenapa, Non?” tanya Bik Indah yang melihat Cessi hanya diam saja.
“Apa boleh? aku mengenakan pakaian, ini?” tanya Cessi dengan polos.
“Tentu saja, Non. Apapun yang ada di dalam lemari ini, boleh Non Oliv kenakan. Karena, Den Raka yang membelikannya. Khusus, untuk Non. hanya saja, jangan pakaian yang seksi. Hal itu … takutnya membuat masalah,” jelas Bik Indah dan membuat Cessi paham. Alasan, kenapa waktu itu. Bik Indah marah padanya.
__ADS_1
Dengan hati senang, dia menerima dress pilihan Bik Indah dan berlari ke kamar mandi. Cessi mengganti pakaiannya dengan cepat, karena sudah tidak sabar bisa keluar bersama dengan Raka.
“Bagaimana, Bik?” tanya Cessi dengan memutar tubuhnya.
“Cantik, Non,” jawab Bik Indah dan menarik Cessi untuk menemui Raka yang masih menunggu di ruangan tengah.
“Den,” panggil Bik Indah ketika sudah berada di hadapan Raka.
Pemuda itu yang tadinya memainkan ponsel miliknya, segera menoleh ke arah BIk Indah dan Cessi.
Raka seolah terhipnotis dengan penampilan Cessi yang sangat sederhana, namun bisa menggetarkan hatinya.
“Bang,” panggil Cessi. Membuat Raka tersadar dan berdehem, menetralkan perasaannya. Apalagi, jantungnya yang seolah ingin meledak. Seking dentuman yang sangat kuat.
“Ehem … ayo kita berangkat,” jelas Raka dan segera bengun dari posisi duduknya. Lalu, berjalan menuju ke pintu keluar.
Sedangkan, Bik Indah berpesan kepada Cessi. Agar gadis itu tetap tenang, ketika menghadapi ibunya Raka nanti.
Cessi hanya menganggukkan kepalanya pelan, menjawab apa yang dikatakan oleh Bik Indah dan segera menyusul suaminya yang telah lebih dulu berlalu.
Disaat mereka berdua telah berada di dalam mobil, Cessi yang masih memikirkan tentang keadaan sahabatnya. Meminta izin kepada Raka, untuk bisa bertemu dengan Amara.
“Bang, nanti … aku bolehkan mengunjungi Amara?” tanya Cessid dengan hati-hati dan menatap kearah Raka yang berada di balik kemudi.
“Gak!” balas Raka dengan nada tegas.
“Kenapa? Kalau, Abang gak izinin aku ketemu dengan Amara? Ya, udah! Aku juga gak mau ketemu dengan ibu Abang!” ancam Cessi. Kemudian, dia membuang wajahnya ke arah samping. Melihat jalanan yang mereka lewati.
Raka mendengar, apa yang dikatakan oleh Cessi hanya mempu menggeram kesal. Dia mencengkram dengan kuat stan mobil yang tengah dipegang. Tidak bisa Raka pungkiri, jika dia merasa cemburu dengan Amara.
Dimana, gadis itu mampu mengalihkan perhatian istrinya. Bahkan, berani mengancamnya. Apa yang membuat Cessi sangat menyayangi Amara, sampai berani melakukan hal itu yang mengusik pikirannya.
“Hanya, Amara ‘kan?” tanya Raka ingin memastikan dan menarik perhatian Cessi dan membuat istrinya itu menganggukan kepalanya cepat.
“Iya, hanya Amara,” balas Cessi.
“Tidak dengan Bargon?”
“Itu—”
__ADS_1