Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
36. Azzura Bahagia


__ADS_3

"Besok akan ada dosen yang memberikan materi untuk mu. Sebaiknya tidak usah mengacau karena besok aku harus pergi ke kantor. Ada rapat dengan beberapa klien!"


Azzura menipiskan bibir, dia menatap Aaron dengan tatapan penuh selidik. Tumben sekali suami angkuh nan arogannya ini banyak bicara, bahkan dia menjabarkan kegiatannya besok pagi, aneh memang, Aaron benar-benar membuat Azzura pusing. Azzura sangat bosan sebenarnya, dia ingin keluar rumah tapi pasti tidak diberikan ijin. Azzura ingin menemui Hugo juga teman-temannya yang lain.


"Tuan!"


Aaron menoleh ke arah Azzura, mereka saat ini sedang duduk bersantai di sofa setelah makan malam mereka selesai.


"Aku mau beli ice cream!"


Azzura melihat ekspresi Aaron dengan seksama, dia benar-benar berharap kalau Aaron akan membawanya keluar untuk membeli eskrim yang dia maksud, berada di rumah seharian rasanya sangat pengap. Azzura ingin merasakan udara bebas dan sedikit menggerakkan tubuhnya.


"Boleh!" ucap Aaron singkat. Azzura langsung tersenyum, dia berdiri menarik tangan Aaron meminta laki-laki itu untuk memalukan hal yang sama sepertinya.


"Mau ke mana?"


"Lah, kan beli eskrim!"


"Beck aja yang beli. Kita tunggu saja di sini, lagipula di luar hujan, ini sudah malam juga. Kenapa gak minta coklat panas aja!"


Azzura menghembuskan napas kasar, dia menjatuhkan dirinya tepat di sebelah Aaron, namun pria itu malah tersenyum melihat wajah sedih sang istri. Sebenarnya Aaron juga tahu kalau Azzura hanya beralasan ketika meminta eskrim di saat hujan seperti ini, jelas-jelas dia hanya ingin keluar.


"Kenapa sedih?"


Azzura menggelengkan kepalanya lesu. "Tidak apa-apa Tuan, gak usah jadi beli eskrim nya. Aku mau tidur!"


Azzura kembali beranjak hendak meninggalkan Aaron tetapi laki-laki itu malah menarik tangannya tanpa aba-aba hingga Azzura terduduk di atas pangkuannya.


"Merajuk, hmmm?"


"Tidak!" jawab Azzura bohong. Tentu saja dia merajuk, seharian ini Azzura sudah sangat baik, dia tidak banyak protes meskipun Aaron menjadikannya sebagai seorang tawanan. Namun kenapa minta keluar untuk membeli eskrim saja tidak boleh.


"Aku tahu kau berbohong!" ujar Aaron mengusap paha istrinya pelan.


"Tangan mu Tuan!"


"Aku tidak akan melakukan hal lebih, apa menyentuh ini juga tidak boleh!" Aaron sengaja membuat gerakan sensual demi memancing konsentrasi Azzura. Wanita itu agaknya terkejut namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.


"Lim!" panggil Aaron pada kepala pelayan di rumah itu.


"Iya Tuan!" sahut Lim mendekat ke arah Aaron dan Azzura.


"Tolong ambilkan mantel saya dan juga mantel milik Nyonya. Bilang juga pada Beck untuk menyiapkan mobil."

__ADS_1


"Baik Tuan!"


****


Sejak masuk ke dalam mobil, Azzura tak henti-hentinya tersenyum, wanita cantik itu terlihat sangat bahagia. Aaron pun ikut tersenyum, begitupun dengan Beck. Entah kenapa Azzura ini seperti memberikan aura positif kepada siapapun yang ada di dekatnya. Suasana hati Azzura seolah bisa mempengaruhi siapapun di samping gadis itu.


"Apa kau sangat senang?" bisik Aaron di dekat telinga sang istri.


Azzura mengangguk antusias.


Cup!


Azzura mengecup bibir Aaron sekilas. "Terima kasih!" gumam Azzura, dia benar-benar sangat bahagia. Dalam kehidupan sebelumnya, Azzura belum pernah diperlakukan seperti ini. Orangtuanya meninggalkan Azzura di saat Azzura sedang membutuhkan sosok orang tua. Pekerjaannya sebagai seorang buruh panggul di pasar sering kali mendapat ejekan dan cemoohan. Jangankan untuk menikmati hidup, bisa bertahan hidup tanpa kelaparan saja Azzura sudah sangat bersyukur.


"Terima kasih Azzura Aurora. Aku janji, aku akan membuat Aaron mengungkapkan isi hatinya. Kau tidak perlu khawatir, aku akan membuktikan bahwa Aaron benar-benar mencintai kita."


Senyum Aaron semakin lebar, sepertinya larangan untuk menyentuh dibuat hanya untu dirinya, tapi Azzura yang membuat peraturan itu malah bebas melakukan apapun.


"Kenapa kau sangat senang?" tanya Aaron penasaran.


"Aku senang karena aku belum pernah di ajak jalan cuma untuk makan eskrim. Selain dulu aku sibuk bekerja, tidak ada yang memperlakukan aku seperti ini."


****


"Biarkan aku membantumu!"


Aaron ingin mengambil sendok di tangan Azzura namun wanita itu menepisnya. "Tidak usah, aku bisa sendiri Tuan. Apa Tuan mau nyoba eskrimnya?"


Aaron diam untuk sesaat, sejurus kemudian tangannya menarik tengkuk Azzura dan me lu mat sisa eskrim di atas bibir istri cantiknya sekilas.


"Tuan!" Azzura mendorong bahu Aaron cukup keras! "Kenapa kau mencium ku tanpa ijin?"


Aaron tersenyum menyeringai. "Aku tidak mencium mu, bukankah kau yang menawariku untuk mencoba eskrimnya?"


Eissshhhhhh ... Azzura mendengus mendengar sangkalan Aaron, memang dia tidak akan menang jika beradu mulut dengan laki-laki di depannya ini.


"Maafkan aku Aurora, itu diluar kendali ku."


Malas meladeni Aaron, Azzura kembali menyantap eskrimnya. Dia melihat kanan kiri memperhatikan cafe es krim itu dengan seksama. Mimpi apalah Azzura sampai dia bisa menikmati hidup sebaik ini. Dan yang lebih membuat Azzura bahagia adalah, baik dia maupun Aurora, mereka sama-sama bisa merasakan kenyamanan hidup sebagai orang kaya bersama dengan suami tampan mereka. Agak lucu memang, satu tubuh beda ruh.


"Azzura!"


Azzura dan Aaron menoleh saat mendengar suara seseorang menginterupsi mereka. Wanita cantik di depan Aaron itu tersenyum kecut, melihat ulat keket ada di cafe yang sama membuat Azzura kehilangan selera.

__ADS_1


"Kamu masih hidup ya, aku pikir kamu kena infeksi terus mati!"


Bisikan Gardenia di telinganya membuat Azzura semakin tidak mood, dia menarik mangkuk eskrimnya lalu menumpahkan eskrim itu ke baju Gardenia.


"Yakkkkk!" Gardenia refleks berdiri, suara gaduh di cafe tersebut membuat orang-orang yang ada di sana menoleh ke arah Gardenia. Azzura hanya tersenyum menyeringai, siapa suruh main duduk di kursi orang, Gardenia ini benar-benar membuatnya jengkel.


"Maaf Kak, aku gak sengaja!"


Azzura awalnya memberikan ekspresi seolah-olah dia menyesal atas apa yang terjadi. Namun beberapa detik kemudian, Azzura mengedipkan salah satu matanya hingga membuat asap tebal mengepul dari telinga Gardenia.


"Apa yang terjadi?"


Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri mereka. Gardenia langsung menatap Mark dengan wajah sendu, matanya berkaca-kaca.


"Sayang lihat ini, Azzura menumpahkan eskrim di bajuku. Padahal ini baju mahal. Kenapa dia sangat membenciku Mark! Aku tadi hanya ingin menyapa nya saja."


Azzura menipiskan bibir melihat drama yang Gardenia buat, dia tahu, Gardenia sengaja melakukan itu untuk membuat orang-orang yang ada di sana salah paham.


"Mulut mu itu harusnya di jaga Gardenia. Bukankah tadi kau yang menyumpahinya mati!"


Aaron menarik tangan Azzura ke sisi tubuhnya, Azzura mengerti akan anggukan dari Aaron.


"Hikssss, aku sudah bilang aku tidak sengaja Kak, kenapa Kak Gardenia menuduhku seperti itu. Padahal selama ini aku sudah membiarkan dia tinggal bersama ibu meskipun aku harus rela di telantarkan. Tapi kenapa Kak Gardenia begitu tega. Hikssss, aku ingin pulang aja Kak Aaron!"


Azzura semakin lama semakin terisak di pelukan Aaron, air matanya mengalir deras, bahkan orang-orang yang tadi menatap Azzura kesal kini malah berbalik mengasihaninya. Apalagi ketika melihat orang yang ada di samping Azzura, mereka yakin jika siapapun yang ada di pelukan Aaron adalah orang yang baik. Aaron sangat terkenal di kota itu karena sikap dermawannya. Hampir di setiap majalah dan di berita pertelevisian Aaron selalu muncul sebagai donatur dari beberapa rumah sakit dan juga panti asuhan di kota itu.


"Katakan pada pemilik cafe ini untuk segera menutup cafenya jika tidak bisa memberikan pelayanan dengan baik, cafe sudah bagus tapi masih membiarkan serangga masuk. Sangat tidak masuk akal!" Aaron pergi membawa Azzura keluar dari sana. Sementara Gardenia, dia menatap tajam Azzura dan Aaron. Bibirnya mengerucut kesal, kedua tangannya pun mengepal sangat kuat.


"Aku membencimu Azzura!"


"Sudah, kita pergi saja dari sini!"


Mark menarik tangan Gardenia membawa wanita itu keluar dari cafe karena orang-orang di cafe tersebut menatap mereka dengan tatapan tidak menyenangkan.


****


Buahahahaha ... Azzura memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat terlalu kencang dan terlalu lama tertawa. Dia bahkan mengusap bulir bening di sudut matanya.


"Apa tadi Tuan melihat wajah bodoh Gardenia? Dia itu benar-benar tolol!"


Aaron ikut tersenyum ketika melihat Azzura begitu bahagia seperti sekarang. "Aku tidak menyangka kalau kau sangat pandai berakting Ara!"


"Hmmmm. Istri siapa dulu dong, suaminya udah keren masa istrinya mau diem aja di permalukan kayak tadi." Azzura kembali tertawa, malam ini dia benar-benar sangat senang. Puas rasanya melihat Gardenia malu seperti tadi. Azzura yakin, Rubby pasti senang karena mendapat tontonan yang seru.

__ADS_1


__ADS_2