
Aaron turun dari mobilnya di pelataran rumah Robert. Bert sudah memberikan kabar bahwa Azzura ada di rumah Robert. Alasannya belum jelas karena Bert mengatakan semuanya terjadi begitu cepat. Mereka tidak bisa memprediksi apa yang terjadi.
"Kenapa ada mobil kepolisian di sini Beck?"
Aaron memperhatikan mobil-mobil itu. Dia berjalan semakin cepat menuju rumahnya, lebih tepatnya rumah Robert, rumah sang ayah.
"Tante!" gumam Aaron melihat ibu tirinya Bora sedang di seret oleh beberapa polisi dan kedua tangannya pun sudah di borgol. Aaron celingukan mencari sosok istrinya. Tidak ada siapapun di sana. Namun ketika netra Aaron melihat sesuatu yang menggenang di atas lantai, jantung Aaron berdegup tak karuan.
"Azzura!" teriak Aaron di rumah itu berharap jika Azzura baik-baik saja.
"Maaf Tuan Muda, Nyonya Azzura ke rumah sakit!"
Deg!
Semakin berdeguplah jantung Aaron. Dia kembali berlari keluar dari rumah itu tanpa menghiraukan apapun. Bahkan, dia tidak memperdulikan Beck yang sedang menelpon di samping mobil dan langsung masuk ke mobil miliknya lalu mengemudikan mobil itu seperti orang kesetanan.
Brummm!
"Tuan!"
Beck ingin mengejar mobil itu namun percuma saja karena ternyata mobil itu melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi. Diikuti menggunakan mobil lain pun belum tentu bisa terkejar. Apalagi jika hanya dikejar dengan berlari.
"Shi*t!"
__ADS_1
Aaron memukul stir mobilnya beberapa kali. "Kenapa ini harus terjadi, bajingan gila itu sudah membuat istriku terluka. Benar-benar gila! Aku tidak akan mengampuni mu Erland!"
Aaron tiba di rumah sakit terdekat dan semakin berdeguplah jantungnya. Dia mendekati meja resepsionis masih dengan wajah panik karena terlalu khawatir.
"Maaf Sus, apa ada pasien dengan nama Azzura Aurora?"
Bukannya menjawab suster itu malah melongo menatap wajah tampan Aaron yang terlihat semakin tampan karena buliran keringat yang membanjiri pelipisnya.
Brak!
Suster itu terperanjat karena Aaron menggebrak meja resepsionis.
"Bisa kerja gak? Saya tanya ada pasein darurat dengan nama Azzura Aurora tidak?"
"Tuan!"
Sebuah suara lembut menyadarkan Aaron. Laki-laki itu berbalik, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Azzura datang menghampirinya dengan pakaian berdarah-darah. Azzura menatap Aaron dengan mata berkaca-kaca. Namun, Aaron juga bisa melihat ada kemarahan di sana, bahkan ketika Aaron memeluknya, Azzura tidak membalas pelukan itu. Dia menarik tangan Aaron, membawa suaminya keluar dari rumah sakit dan berhenti di taman rumah sakit tersebut.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Kau kenapa? Apa tubuh mu tidak terluka?"
Settt!
Plakkkkk!
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi Aaron. Buliran bening di sudut mata Azzura semakin lama semakin tak terkendali. Wanita itu menatap Aaron dengan mata berkilat marah.
Bugh!
Satu bogeman kembali Azzura layangkan di perut Aaron. Tentu saja pukulan itu tidak menggunakan kekuatan yang besar, karena jika dia melakukan itu, Aaron pasti akan mati.
"Brengsek! Kenapa kau tidak bisa di hubungi hah? Aku menelpon mu, menelpon Beck berkali-kali. Aku berusaha untuk menghubungi mu tapi nomor kalian tidak aktif. Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan Aaron. Papa hampir mati, dan sekarang keadaannya semakin parah karena dia berusaha untuk melindungi ku dari serangan wanita iblis itu. Kau kemana saja kau. Bagaimana jika Papa tiada hah?"
Azzura semakin tertunduk. Meskipun dia sangat jarang bertemu dengan Robert, namun dia sudah menganggap Robert seperti ayahnya sendiri. Azzura menyayangi orang itu karena Robert adalah ayah dari suaminya. Terlebih, Robert juga sangat baik. Azzura berpikir jika dalam kehidupan nyata dia sudah tidak memiliki Ayah, dalam kehidupan ini Azzura ingin memilikinya.
"Sayang!"
Aaron kembali mendekat. Dia mengabaikan perutnya yang teramat sangat nyeri dan mencoba untuk memeluk Azzura yang kini sedang meronta dan semakin gencar memukul dadanya.
"Shuutttt. Tenang. Papa akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja. Semuanya sudah berakhir Sayang, sudah berakhir!"
"Bagaimana jika Papa tidak selamat Kak, dia masih berada di ruang operasi. Apa yang harus kita lakukan. Bagaimana ini Kak ... Bagaimana, aku tidak ingin kehilangan siapapun. Tolong selamatkan Papa!"
"Iya, para dokter sedang mencoba untuk menyelamatkannya Sayang, kita berdoa saja hmmm!"
Tangan besar Aaron mengusap lembut Surai Azzura, dia tidak menyangka jika istrinya akan sangat menyayangi Robert. Dan bodohnya. Tadi dia memang mematikan ponsel karena urusannya di pulau belum selesai.
"Maafkan aku, Sayang!"
__ADS_1