Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
47. Aaron Agresif


__ADS_3

"Kau pegang talinya pelan-pelan. Jika ingin lebih cepat sedikit di tarik tapi jangan kekencengan, nanti dia lari kemana-mana, atau malah berhenti mendadak."


"Ya udah Kakak contohin dulu. Kalau kayak gini aku takut, lagian untuk apa Kakak duduk di belakang kalau aku harus berusaha sendiri."


"Bawel! Aku akan menjagamu, aku juga tidak akan melepaskan tangan ini," ucap Aaron melihat ke arah tangan mereka yang sejak tadi sudah menempel pada tali yang terkait di kepala kuda tersebut.


"Oh, baiklah. Bagaimana caranya agar dia mau jalan?"


"Katakan saja! Alberto ... jalan!"


"Baiklah!" Azzura tersenyum dan mulai mengucapkan apa yang Aaron katakan.


"Alberto! Kuda yang baik nan gagah, jalan!"


Azzura mengerutkan kening ketika melihat Alberto hanya diam tidak mau menuruti apa yang dia katakan. Namun ketika dia ingin bertanya, suara kikikan Aaron membuat Azzura menoleh ke arah sang suami.


"Kau mengerjai ku Kak?"


"Maaf, tapi kau sangat lucu Ara!" Aaron mengecup pipi Azzura kemudian menarik kedua tali kuda tersebut hingga Azzura sedikit tersentak terkejut.


"Seperti ini saja. Kau boleh mengobrol dengan kudamu. Tapi bukan berarti dia mengerti setiap hal. Meskipun dia mengerti, isyarat seperti ini lebih tertanam di otaknya."


"Sekarang aku akan melonggarkan genggaman ku. Kau yang mengambil alih!"


"Tapi Tuan!"


"Aku ada di belakang mu Ara. Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak percaya padaku?"


"Aku percaya!"


"Good girl!"


"Hyaaaa!"


Azzura yang awalnya sedikit takut semakin lama semakin nyaman. Ini bahkan lebih seru dari sekedar menunggang Buggati milik suaminya yang hancur lebur kemarin lusa.


"Tuan!"


"Hmmm!"


"Apa orang-orang di pulau ini tahu kalau Tuan tidak benar-benar buta?"


Aaron menggeleng pelan. "Tidak semuanya. Hanya beberapa orang, dan mereka adalah orang-orang yang sudah aku percaya."


"Aku dengar Tuan sempat hampir buta itu karena sebuah kecelakaan. Apakah itu sabotase?"

__ADS_1


"Iya. Semuanya sudah direncanakan. Tetapi orang yang kala itu merusak rem mobilku ditemukan terbunuh setelah kecelakaan itu terjadi. Aku masih berusaha menyelidiki ini. Aku ingin melihat, siapa orang yang bisa menembus keamanan milik anak buah ku."


"Apa kau sudah menyelidiki orang-orang yang paling dekat dengan mu Kak?"


"Tidak, baik Ayah maupun istri barunya tidak ada yang lepas dari pantauan ku. Dan aku sudah memeriksa mereka. Tidak ada yang mencurigakan."


Azzura mengangguk-angguk kan kepalanya paham. "Aku mengerti Tuan, tapi aku rasa orang yang menganggu mu ini tidak jauh. Mereka masih memiliki hubungan dekat dengan mu, itulah sebabnya gerak-gerik dia tidak terpantau karena dia memang bisa mendekati dan mengecoh Tuan dengan leluasa."


"Aku memang sedang mencurigai seseorang!"


"Siapa?"


"Seorang gadis cantik yang selalu berada didekat ku!"


"Yakkkk!"


Aaron memekik ketika kuda itu tiba-tiba meringkik dan berhenti secara mendadak.


Brukkkkk!


Mereka terguling di atas rerumputan hijau. Aaron meringis ketika merasakan tangannya sedikit ngilu karena menahan kepala Azzura agar tidak terbentur tanah yang padat.


"Kau baik-baik saja!" tanya Aaron khawatir.


Azzura malah berguling dan tengkurap di atas tubuh suaminya. Wanita cantik itu menatap bola mata Aaron tajam.


Laki-laki itu hanya tersenyum. Bukannya menjawab dia malah memejamkan mata sembari menyangga kepalanya menggunakan kedua tangan.


"Kenapa tidak menjawab?"


"Aku hanya bercanda Ara!"


Bruk!


Wanita cantik itu membenamkan wajahnya di atas dada bidang sang suami. Wajah cantiknya cemberut, jemari tangannya tak berhenti bergerak, telunjuknya yang mungil itu mengusap dan memainkan jakun Aaron yang mulai naik turun.


"Tuan kenapa ini sangat menonjol? Apa kau tersedak buah plum?"


Brukkkkk!


Aaron membalik keadaan, kini dialah yang berada di atas tubuh Azzura, menahan kedua lengan gadis cantik itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dia gunakan untuk menjaga tubuhnya agar tidak terlalu menimpa tubuh Azzura. Deru napasnya semakin cepat, bulir keringat keluar dari wajah tampannya. Aaron menatap Azzura penuh minat, dari mata, hidung, bibir, dan berakhir di dua gundukan kenyal yang sangat dia sukai.


"Kalau ini buah apa, apa kau menanam buah melon?"


Azzura mendengus kecil, dia sebenarnya bisa saja mendorong tubuh laki-laki itu dengan mudah. Namun, salahkan lah hatinya yang selalu suka diperlakukan seperti ini. Seperti seorang budak yang menjadi tawanan mafia bucin.

__ADS_1


"Apa kau ingin mencobanya?" tanya Azzura enteng.


"Cih, kau yang meminta ini Baby! Jangan menyesal!"


Srakkkk!


Azzura melotot ketika baju yang dia kenakan sudah robek terkoyak begitu saja.


"Tuan apa kau ini harimau lapar?"


"Tidak usah mengganggu waktu makan siang ku Baby!'


"Tapi Tu-an. I-ni tempat u-mumhhh! Tuanhhhh jangan la-kukan ini please!"


"Tidak akan ada orang lain di sini Ara! Kau nikmati saja bagian mu."


"Yakkkkk! Kau gila Aaron!"


****


Azzura mendengus melirik Aaron kesal. Wanita cantik itu tidak habis pikir dengan suaminya ini, dia benar-benar berotak mesum. Azzura memang suka kontak pisik, dampak yang dirasakan tubuhnya membuat dia terbang ke awang-awang. Namun jika di tempat terbuka seperti itu saja Aaron sangat agresif. Apa yang akan terjadi jika mereka terjebak di ruangan tertutup berhari-hari.


"Apa kau masih marah?" tanya Aaron merapikan baju kemeja kebesaran miliknya di tubuh Azzura.


"Bagaimana aku tidak marah. Kau merobek baju kesayangan ku Tuan, dan kenapa kau malah berbuat hal seperti itu di alam terbuka!"


Glekkkk!


Beck dan Bert menelan ludah ketika mendengar keluhan Ayunda. Mereka berdua memutar musik agak lebih besar untuk menyamarkan suara Azzura dan Aaron. Mereka belum pernah melihat Aaron segila ini pada perempuan. Saat Aaron belum mengalami kecelakaan, mereka suka bermain ke klub malam, memesan wanita cantik nan seksi untuk menerima mereka, meskipun wajah para wanita itu tidak secantik wajah Azzura, namun untuk body dan perawatan sepertinya bisa dipertimbangkan. Namun seperti itulah Aaron, melihat wanita telanjang pun dia tidak menunjukkan reaksi apapun.


"Apa kau suka mereka mendengar kegiatan kita? Aku akan mengganti semua bajumu. Jika perlu, kita beli juga tokonya sekalian."


Wanita cantik itu mendengus, Azzura melihat ke arah Beck dan Bert.


"Kami tidak mendengar apapun Nyonya."


"Memangnya kalian tuli. Sudah jelas kalian mendengar semuanya. Kenapa kalian bohong. Takut aku malu? Aku tidak akan malu Bert, Beck, kalian juga tahu kelakuan laki-laki dibelakang kalian ini seperti apa."


Beck dan Bert hanya mengangguk mengiyakan. Aaron Memeng memperlakukan Azzura sangat istimewa. Bukan hanya sekarang, tapi sejak mereka bertemu untuk pertama kalinya.


****


"Bang Hugo!" Azzura berlari memasuki gedung perusahaan lusuh milik temannya.


Hugo pada awalnya tersenyum, dia ingin menyambut Azzura namun tiba-tiba sepasang kaki muncul dengan tongkat di sampingnya mengikuti Azzura dari belakang.

__ADS_1


"Tu-tuan Aaron!" Hugo membungkuk beberapa kali. Dalam salam terakhirnya, Hugo menunduk cukup lama. Habislah dia hari ini, pasti Aaron akan menghajarnya habis-habisan karena kejadian hari itu.


__ADS_2