Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
37. Kepastian


__ADS_3

Aaron membaringkan Azzura di atas ranjang milik wanita itu, bibirnya menyunggingkan senyum, Aaron tahu apa yang selama ini Azzura alami, perlakuan keluarga, sikap Gardenia, semuanya Aaron tahu. Andai dia bisa bertemu lebih awal dengan gadis cantik di depannya, Aaron tidak akan membiarkan Azzura diperlakukan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, takdir sudah ada yang mengatur andaikan mereka bertemu lebih awal pun mungkin hubungan mereka tidak akan sebaik sekarang. Aaron kembali membayangkan bagaimana dia mulai menaruh perhatian pada Azzura.


"Aku tahu kau sudah menyukainya sejak kejadian di kolam renang itu Tuan, kau bahkan terlihat sangat frustasi saat Azzura hampir meregang nyawa untuk kedua kalinya demi menyelamatkan mu. Aku harap kau akan segera mengungkapkan perasaan mu yang sesungguhnya agar Aurora tidak menghalangi pergerakan kalian."


Rubby menggelengkan kepala melihat bagaimana perlakuan Aaron kepada tuannya. Laki-laki tampan itu terlihat sangat tulus, menutup tubu Azzura dengan selimut, tangan besarnya menggeser poni dan anak-anak rambut yang menghalangi wajah cantik Azzura, perlahan kepalanya menunduk, bibir seksinya mengecup kening Azzura sekilas lalu beranjak dan berjalan ke arah meja kerjanya. Aaron melirik Azzura sekali lagi. Setelah itu, dia kembali fokus pada laptop di depannya.


2 jam Aaron duduk tanpa mengalihkan perhatian. Tubuhnya terperanjat ketika mendengar suara petir menggelegar. Cahaya dari kilatan petir membuat kamar yang sudah remang-remang beberapa kali terlihat sangat terang. Aaron menoleh ke arah Azzura, wanita itu sepertinya sedang bermimpi. Dia terus bergerak gelisah.


"Apa yang terjadi?" Aaron mengusap buliran keringat di dahi sang istri. Bibirnya terlihat bergetar, tangan mungilnya meremas selimut sangat kuat, Aaron melepas cengkeraman tangan Azzura pada selimut tersebut lalu memindahkan nya pada tangan besar miliknya untuk dia genggam.


"Aku ada di sini Ara, kau baik-baik saja. Tidak ada yang akan melukai mu."


"Ibu, ibu bukan orang jahat. Ibu orang baik!"


Aaron mengerutkan kening mendengar kalimat yang keluar dari bibir Azzura, Aaron selama ini berpikir jika Azzura membenci ibu kandungnya, tapi kenapa dia masih memimpikan Violet, bahkan sampai mengatakan jika Violet itu baik, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Azzura lebih sering diperlakukan seperti seorang pembantu daripada sebagai anak kandungnya.


****


Raja siang sudah menampakkan sinarnya, namun sepasang sejoli di kamar yang luas terlihat masih enggan untuk bangun, tangan Azzura bertengger dengan manis di dada bidang Aaron sementara tangan laki-laki itu ada di bawah leher dan juga perut ramping istri kecilnya.


Sebuah senyum terukir di bibir Azzura, tangan mungilnya meraba sesuatu yang keras namun lembut, dengan tidak sopannya tangan itu meremas gundukan yang agak menonjol di antara yang lain, puas meremas bagian itu, usapan tangannya menjalar ke atas, mengusap leher dan jakun Aaron, kemudian naik lagi hingga ibu jarinya berada di atas bibir sang suami.


Aaron diam, sejak Azzura meraba dadanya sebenarnya dia sudah bangun, namun karena dia ingin melihat apa yang akan Azzura lakukan, laki-laki itu hanya menikmati meskipun sebenarnya dia sudah sangat ingin menerkam wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Apa kau sedang melecehkan ku Ara!"


Suara bariton yang sedikit serak itu membuat kesadaran Azzura kembali sepenuhnya. Dia membuka mata lalu mendongak, matanya terbelalak. Azzura melihat jemarinya yang ada di atas bibir Aaron.


"Astaga!"


Azzura hendak bangun namun Aaron menarik tangannya, mengungkung Azzura di bawah kurungan tubuh kekarnya.


"Apa kau tidak akan bertanggungjawab setelah membangunkan singa lapar Ara?" Aaron tersenyum menyeringai, tangan kanannya mencekal pergelangan tangan kiri Azzura sementara tangan kirinya dia gunakan untuk membelai wajah sang istri seperti apa yang tadi dia lakukan namun urutannya dia rubah.


"A-ap-a maksud mu Tuan? Aku membangun kan apa?" Azzura pura-pura bodoh di depan Aaron namun sebenarnya dia tahu apa yang Aaron maksud. Ini buka salahnya, Azzura pikir dia sedang bermimpi tadi, dan ini juga karena Aaron tidur di atas ranjangnya. Jadi sudah bisa diketahui siapa yang aalah bukan?


"Aku ingin melakukan apa yang kau lakukan?" Aaron menurunkan jemarinya mengusap leher Azzura kemudian turun ke tulang selangka.


"Stop!" Azzura mengecup bibir Aaron sekilas. "Jangan sentuh itu, kau akan membuat seseorang marah Tuan!"


Aaron tiba-tiba kehilangan mood, dia duduk di tepian ranjang membiarkan Azzura tetap berbaring dengan debaran jantung yang luar biasa.


"Apa kau berselingkuh di belakang ku Azzura? Siapa laki-laki itu? Apakah dia laki-laki yang pernah menari dengan mu waktu itu?"


Azzura menghembuskan napas kasar. "Aku tidak memiliki selingkuhan atau suami lebih dari satu. Yang aku bilang akan marah itu hatiku Tuan. Kau selalu ingin menyentuhku, tapi kau tidak pernah memberikan kepastian apapun."


Azzura berjalan mengitari ranjang kemudian berdiri membelakangi Aaron. "Tolong buka pengait bra ku Tuan, aku akan mandi, bukankah hari ini akan ada dosen ke rumah? Dan satu lagi, mulai besok jangan tidur di atas ranjang ku, kau menuduhku melecehkan mu. Tapi kan Tuan yang sembarangan tidur di ranjang orang, mana bisa Tuan menyalahkan pemilik ranjang."

__ADS_1


"Terima kasih!"


Azzura kembali berjalan menjauhi Aaron, laki-laki itu terlihat bingung, kepastian, kepastian apa. Bukankah sudah jelas jika mereka memang suami istri. Lalu kepastian seperti apa yang Azzura inginkan.


"Apa dia mau aku mengalihkan rumah ini atas namanya!" Aaron bergumam membuat Rubby jengah dan kembali tidur di atas kasur empuk miliknya.


"Bodoh, kalian berdua itu benar-benar sangat bodoh!"


Rubby mengumpat kepada Aaron dan Azzura, sepasang sejoli ini sudah beberapa kali memiliki kesempatan namun mereka seolah mengabaikan kesempatan itu. Benar-benar sangat menjengkelkan.


****


"Tuan! Dosen yang Anda minta sudah datang, beliau sedang menunggu di ruang tamu!"


Aaron mengangguk mengiyakannya, Azzura mengikuti Aaron dari belakang. Wanita cantik itu sedikit merapikan rambut karena tidak ingin memiliki kesan buruk di hari pertamanya.


"Selamat siang Tuan!"


Dosen laki-laki yang sebaya dengan Aaron menyodorkan tangan di depan suami Azzura itu. Aaron diam, dia hanya memperhatikan dosen tersebut dari atas sampai bawah. Beck benar-benar keterlaluan, Aaron pikir dia akan membawa dosen tua yang sudah beruban dan keriput. Tapi ternyata pemikiran Aaron salah.


"Maaf Pak, Tuan Aaron tidak bisa menjabat tangan Anda!" ucap Beck memberikan penjelasan.


Dosen yang masih terlihat sangat muda nan tampan itu mengangguk, menarik kembali tangannya seraya tersenyum. Dia ingin kembali berbicara namun tatapan matanya seolah terkunci ketika dia melihat Azzura yang sejak tadi berdiri di belakang Aaron.

__ADS_1


"Ekhemmmm!" Aaron berdehem. Dosen itu terlihat gelagapan, dia langsung menunduk karena takut melihat ekspresi Aaron yang sangat mengerikan.


"Dia istri saya, saya harap Anda bisa bekerja dengan baik. Satu kali Anda melakukan kesalahan, aku jamin. Hidup mu tidak akan bisa tenang Tuan Yutu."


__ADS_2