Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
38. Bermasalah


__ADS_3

Aaron memperhatikan Azzura dan Yutu dengan sudut matanya. Padahal seharusnya siang ini Aaron harus pergi untuk menemui beberapa kliennya yang memang sudah membuat janji sejak kemarin.


"Jadi kita memang tidak pergi Tuan?" tanya Beck kepada Aaron.


"Kalau kau masih ingin tetap hidup, sebaiknya tidak usah menanyakan hal itu. Atau kau ingin berakhir seperti Bert. Kau mau aku tugaskan ke Afrika? Bosan bekerja di sampingku hah?"


Beck menggeleng dengan cepat. Ancaman dari Aaron tidak pernah main-main. Saudara kembarnya pasti sedang kesulitan di sana. Tapi ya mau bagaimana lagi, sejak awal mereka tahu kalau Aaron ini memiliki tempramen yang buruk meskipun sebenarnya dia sangat baik. Beck mengerti kenapa Aaron sangat tegas. Apa yang Robert tanamkan pada Aaron benar-benar tertancap di hati bosnya ini dengan sangat baik. Sejak ibu kandungnya meninggal Aaron sudah sangat jarang tersenyum dan semakin cuek. Namun Beck sangat mensyukuri satu hal, kebaikan Nyonya Robert dia turunkan kepada laki-laki yang saat ini sedang di landa kegelisahan dan cemburu.


"Kalau tidak suka bilang saja!" Beck bergumam namun masih bisa Aaron dengar. Aaron ingin menimpali Beck tapi pemandangan di depan sana terlihat lebih serius dan tidak bisa dia abaikan begitu saja.


"Tuan Aaron!"


Azzura bergumam dengan wajah bingung melihat suaminya duduk di sofa yang juga dia duduki. Aaron terlihat biasa saja, dia mengambil buku braille lalu membukanya perlahan.


Azzura mengangkat kedua bahunya acuh. Dia kembali fokus pada Yutu yang sedang menjelaskan materi.


Tatapan Yutu menjadi kurang fokus karena Aaron seperti sedang mengikutinya meskipun dia tahu laki-laki itu tidak bisa melihat. Bertahun-tahun menjadi dosen sepertinya masih tidak cukup untuk Yutu. Dia seperti seorang amatiran yang dipaksa untuk mengajar seseorang. Awalnya Yutu tidak ingin menerima tawaran dari pihak kampus, namun karena upah yang mereka tawarkan tidak main-main, Yutu menyanggupi permintaan pihak kampus padanya. Pantas saja bayaran yang ditawarkan Beck sangat besar, ternyata dia di suruh mengajar di kandang singa jantan yang bengis nan menakutkan.


"Tuan bergeser sedikit!" Azzura mendorong bahu Aaron. Sebenarnya masih ada jarak antara pahanya dan paha Aaron tapi kalau terlalu dekat seperti ini Azzura merasa kurang nyaman. Yutu ada di depan mereka dan pemandangan seperti ini agaknya kurang sopan.


"Yang belajar itu mata, telinga dan otak mu. Kenapa malah mempermasalahkan hal seperti ini sih!"

__ADS_1


Azzura melotot menatap Aaron sengit ketika tangan besar pria itu menarik pinggangnya dan tidak mau melepaskan tangan itu dari perutnya.


"Tuan!" tegas Azzura semakin melotot ke arah suaminya.


"Aku beri kau dua pilihan, mau duduk seperti ini, atau duduk di pangkuan ku!" bisik Aaron dengan seringai di wajah tampannya.


Azzura menghembuskan napas dengan mata terpejam. Harus dia apakan orang tidak berperasaan ini agar dia mengerti bahwa ada orang lain di depan mereka. Tidak masalah jika Aaron ingin menggodanya saat semuanya sepi. Tapi yang Azzura sayangkan kenapa dia harus melakukan ini di depan Yutu. Yutu adalah orang terpelajar, dia juga adalah dosen pembimbingnya di kampus. Apa jadinya jika nanti Azzura sudah kembali kuliah secara normal dan bertemu dengan Yutu. Azzura pasti akan sangat malu.


"Lanjutkan saja!" titah Aaron kepada Yutu. Setelah mendengar instruksi dari Aaron, Yutu pun melanjutkan proses mengajarnya sampai selesai.


****


"Saya permisi dulu Tuan! Besok saya akan kembali di jam yang sama."


"Mau ke mana Azzura!" pekik Aaron melihat istri kecilnya berjalan ke arah kolam renang, bibirnya mengerucut, dan air mukanya sangat tidak bersahabat. Azzura pasti sangat kesal karena apa yang tadi dia lakukan. Tapi itu tidak salah kan, Aaron hanya ingin menegaskan kalau Yutu tidak akan bisa menyentuh Azzura, bahkan menatapnya saja tidak boleh.


"Azzura!" Aaron meraih tongkat yang selama ini menjadi temannya melakukan kepura-puraan. Aaron tidak bisa untuk tidak menggunakan tongkat itu. Dia tidak tahu apakah para Maid di rumah ini ada di pihaknya atau tidak, bahkan jika boleh, Beck dan Bert pun harus dia curigai.


"Kau marah?" tanya Aaron ketika sampai di tepian kolam renang. Gadis itu bergeming. Dia masih menggoyangkan kedua kakinya yang berada di dalam air.


"Baiklah, jika kau terus marah seperti ini, tidak usah memanggil Yutu lagi, jika perlu, pecat saja dia dari kampus itu. Biarkan Beck mengurus semuanya."

__ADS_1


"Tuan kau!"


Azzura langsung berdiri hendak memukul laki-laki itu, namun sialnya karena terlalu bersemangat, Azzura terpeleset dan hampir jatuh kedalam kolam renang jika Aaron tidak menarik pinggangnya.


Baik Aaron maupun Azzura sama-sama terdiam. Mereka berdua saling menyelami netra satu sama lain. Semilir angin dan udara yang cukup dingin sore itu menambah kesan yang sangat berbeda. Meskipun seperti itu, namun tubuh dan hati mereka terasa hangat. Apalagi ketika tatapan itu turun ke bibir, wajah Aaron semakin mendekat ke arah wajah Azzura, sedangkan gadis itu, dia mulai memejamkan mata, deru napas Aaron membuat kepalanya berdenyut. Jantungnya berdegup sangat kencang, darahnya berdesir semakin hangat.


"Tuan Aaron, itu ada Erlan di ruang tamu." Beck langsung berbalik ketika dia menyadari apa yang sedang Aaron dan Azzura lakukan. Bodohnya karena dia asal masuk dengan tatapan fokus pada ponsel, matilah dia kali ini.


Desisan kemarahan terdengar dari mulut Aaron. Sementara Azzura, gadis itu hanya tersenyum dengan wajah memerah. Dia melepaskan tangan Aaron yang masih melingkar di pinggangnya lalu sedikit berjinjit kemudian mengecup bibir Aaron sekilas.


"Temuilah sekertaris mu Tuan. Aku akan pergi ke kamar ku."


Azzura berjalan melewati Beck, dia mengepalkan tangan sedikit mengangkat tangan itu ke udara. "Semangat!" gumam Azzura, dia seolah sedang memberikan dukungan untuk Beck namun sebenarnya Azzura hanya mengejek laki-laki itu.


"Kau sangat tega Nyonya!"


"Aku rasa kau memang sudah tidak betah tinggal di sini Beck, mulailah membuat pilihan, kau ingin menemui adikmu Bert di Afrika atau ingin aku kirim ke kutub Utara!"


Aaron juga berjalan melewati Beck dengan gagahnya. Ya meskipun ada tongkat di tangan laki-laki itu, namun memang benar apa yang Aaron katakan sebelumnya, aura dan juga ketampanan yang dia miliki tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki manapun.


"Apa yang kau inginkan Erlan!" tanya Aaron kepada pria yang sedang duduk di sofa dengan kepala tertunduk dalam.

__ADS_1


"Maaf Tuan, tadi siang saya mendapat kabar dari beberapa perusahaan cabang juga perusahaan yang bekerja sama dengan kita di Thailand kalau produk yang kita kirimkan sudah tidak diterima di sana."


__ADS_2