
"Terima kasih Ara. Disinilah rumah ku. Memang kecil, tapi aku dan ibuku nyaman. Apa kau mau mampir dulu?"
Azzura tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dia memeluk Raina sebentar sebelum dia pamit untuk pulang.
"Terima kasih Rain, aku harus segera pulang, banteng pemarah itu akan semakin mengamuk jika aku berlama-lama di sini. Kapan-kapan aku ajak main ke rumah ya! Lain kali kita nonton drama bareng. Aku di rumah tidak memiliki teman, Rain."
Raina mengangguk mengiyakan. Ia melambaikan tangan ketika Azzura telah pergi dari area rumahnya. Senyum itu terlihat sangat tulus, selama ini Raina belum pernah mendapatkan teman, semua orang menjauhinya dengan alasan yang sama, yaitu karena Raina miskin dan tidak memiliki apa-apa. Dia begitu bersyukur akan hal ini. Raina yang selalu dikucilkan akhirnya mendapatkan teman.
"Mama!"
Raina berteriak sembari berlari kecil, ia masuk kedalam rumah dengan binar bahagia. Rasa syukur dihatinya teramat sangat besar.
"Mama Raina akhirnya punya teman Ma. Raina tidak sendirian lagi." Wanita itu terlihat sangat bahagia. Meskipun hidup dalam kesederhanaan, dia tidak pernah mengeluh. Hanya kadang-kadang sedih juga, tetapi itu tidak pernah lama.
****
"Beck tunggu!"
Aaron menautkan alis mendengar instruksi Azzura pada bodyguard mereka. Baik Azzura dan Beck sama-sama mencondongkan tubuhnya ke arah depan. Mereka melihat seseorang yang sangat mereka kenal.
"Itu Erland Beck. Cepat kau ikuti dia!"
Beck mengangguk mengiyakan, ketika orang bernama Erland itu masuk ke dalam sebuah mobil mewah, Beck mengikuti mobil itu dengan sangat hati-hati. Jika Azzura dan Beck terlihat sangat serius, tidak dengan Aaron, laki-laki itu diam, terheran dengan tingkah dua orang yang ada didekatnya. Apakah mereka menganggap Aaron tidak ada, bahkan Azzura benar-benar bertingkah seperti seorang bos muda.
"Ekhemmmm!" Aaron berdehem. Dia menatap dua orang dekatnya bergantian. Tetapi Aaron semakin dibuat dongkol lantaran kedua orang itu mengabaikannya. Tidak ada yang mendengar kode darinya. Jangankan mendengar, menoleh saja tidak, padahal Aaron sudah menarik ujung kaos yang dikenakan istrinya beberapa kali.
__ADS_1
"Apa kalian melupakan ku hah?" ketus Aaron merasa kesal kepada anak buah dan juga istrinya.
Azzura menoleh, dia kembali duduk seperti semula. Melihat Aaron tidak senang karena tingkahnya, Azzura pura-pura tidak mengetahui apapun. Wajah cantiknya dia gunakan untuk membujuk sang suami. Padahal tadi mereka baru saja baikan, dan sekarang drama saling membujuk itu kembali terulang. Benar-benar sangat membosankan.
"Tuan, aku tidak bermaksud untuk mengambil posisi mu. Kau tidak usah khawatir. Takhta tertinggi di dunia perbosan adalah dirimu. Tidak akan ada yang bisa menggantikan mu sampai kapanpun."
Aaron menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang aku maksud, aku senang jika kau sudah mulai terbiasa dengan kehidupan ku. Aku memang sudah mengatakan hal ini kepada anak buah ku. Selain aku, orang yang harus mereka patuhi adalah kau. Tapi dengan syarat kalau mereka tidak boleh mematuhi perintah apapun yang bisa membuat dirimu berada dalam bahaya."
Azzura mengangguk mengiyakan. Pantas saja, orang-orang di rumah dan juga di pulau itu terlihat sangat tunduk padanya. Jadi karena Aaron memang sudah mengantisipasi ini sejak awal. "Apa kita berhasil mengikutinya Beck?" tanya Azzura. Dia kembali melihat ke arah depan, ke arah dimana bar yang tadi dimasuki oleh Erland.
"Hati-hati Beck. Bisa jadi ini adalah jebakan. Jangan sampai mereka tahu keberadaan kita."
"Baik Tuan. Mobil hitam itu berhenti di sebuah bar Nyonya."
Aaron mengangguk mengiyakan. Sekarang dia benar-benar menjadi anak buah istrinya sendiri. Dengan gerakan pasti, Aaron mengeluarkan ponsel dari saku coat yang dia kenakan. Setelah menekan nomor seseorang, Aaron memberikan perintah kepada orang yang berada di sebrang telepon.
"Apa kau mengerti maksud ku?"
"Baik Tuan. Akan kami laksanakan dengan baik."
"Hmmm. Segera laporkan apapun yang kalian lihat dan kalian dengar!"
"Baik Tuan!"
Aaron menutup kembali ponselnya. Dia melirik Azzura sekilas, gadis kecilnya itu terlihat sangat serius, bahkan ketika Aaron menatapnya, dia sama sekali tidak sadar. Apakah Azzura sangat menikmati permainan ini.
__ADS_1
"Sayang!" Aaron menarik kedua bahu Azzura dan mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya. Aaron sedikit heran, kenapa istri cantiknya ini sangat antusias ketika melakukan hal yang seharusnya dia takuti.
"Kenapa?" tanya Azzura dengan wajah polosnya. "Apa aku melakukan sesuatu yang salah lagi?"
Aaron menggelengkan kepala. Dia menunduk untuk mengecup mata istrinya sekilas. "Kau pasti lelah, tidak usah ikut mengintai. Semuanya akan baik-baik saja sayang. Jangan khawatir. Sekarang istirahat lah sebentar. Nanti jika orang-orang kita sudah selesai di dalam sama, aku akan membangunkan mu."
Azzura menggelengkan kepala, namun sialnya apa yang dia inginkan tidak sesuai dengan kondisi tubuhnya saat ini. Azzura tiba-tiba menguap, dan rasa kantuknya tiba-tiba menyerang.
"Aku sudah bilang kalau kau itu lelah Sayang, seharian belajar pasti menguras otak, emosi dan juga tenaga. Sudah menurutlah. Aku janji akan membangunkan mu kalau ada sesuatu yang mendesak."
Azzura luluh, selain karena dia sangat mengantuk, memeluk suaminya seperti ini merupakan hal yang sangat menyenangkan. Hangat, dan wangi tubuh suaminya ini sangat memabukkan. Jika aroma ini bisa Azzura bawa kemana pun, Azzura pasti akan membawanya.
"Kalau gitu aku tidur dulu Kak. Awas kalau tidak membangunkan ku. Aku pasti akan sangat marah." Azzura menatap mata suaminya dengan tatapan tajam. Wanita itu seolah mengatakan jika dia tidak ingin di bohongi atau dibantah oleh suaminya.
Aaron mengangguk, dia mendekap Azzura semakin erat, mengusap lengan wanita itu penuh keseriusan.
"Maafkan aku Azzura, aku tidak bisa membiarkan mu terlibat dalam urusan ku."
Aaron mengoleskan sedikit minyak bawah hidung sang istri, minyak itu sebabnya merupakan obat bius. Aaron terpaksa melakukan ini. Belum saatnya bagi Azzura untuk terjun kedunianya. Aaron hanya tidak ingin Azzura terluka karena ikut mengurus masalah ini.
"Jadi bagaimana Tuan?"
"Tunggu sampai orang-orangnya ku memberikan kabar, dan satu hal yang harus kau ingat Beck, jangan pernah membuat Azzura tahu apa yang sedang kita lakukan, dia ini masih terlalu muda untuk berkecimpung di dunia seperti ini Beck. Apapun yang terjadi, jangan libatkan Azzura dalam permasalahan kita."
"Baik Tuan!" sahut Beck kepada bosnya. "Itu sepertinya Erland Tuan!" tunjuk Beck pada lelaki yang baru saja keluar dari bar terbesar di kotanya.
__ADS_1