
Aaron mendengar percakapan Azzura dari balik earphone yang dia kenakan. Sebenarnya tanpa Azzura sadari, Aaron sudah menaruh alat penyadap suara di ponsel istrinya, jadi ketika Azzura melakukan sesuatu diluar dari ijinnya, Aaron masih tetap mengetahui kegiatan istri kecilnya itu.
"Beck, kau tugaskan seseorang untuk melindungi Azzura. Bilang kepada Bodyguard kita, jangan sampai Azzura tahu kalau dia sedang di awasi. Jangan sampai dia marah."
"Baik Tuan!"
Erland mendengarkan apa yang sedang Aaron dan Beck bahas, bibirnya menyunggingkan senyum. Erland tidak menyangka jika tuannya sekarang sudah memiliki seseorang yang sangat penting. 6 tahun mengikuti Aaron, membuatnya sempat berpikir jika Aaron tidak akan memiliki seseorang yang penting.
****
Aaron turun dari jet pribadinya, dia berjalan masih dengan gaya terkeren yang dia miliki. Di samping kiri ada Erland, dan di samping kanannya ada Beck sementara dua orang lainnya mengikuti dari belakang.
"Kita langsung ke tempat mereka saja Beck!" ucap Aaron, dia masuk kedalam Limosin berwarna hitam mengkilap. "Apa kau sudah membuat janji dengan mereka Erland?"
"Sudah Tuan, sepertinya mereka sudah menunggu!"
Aaron mengangguk, sebenarnya dia ingin memeriksa semua perusahaan yang bekerja sama dengannya. Namun sepertinya Aaron mengubah rencana, dia hanya akan pergi ke perusahaan cabang yang memang memasok barang untuk para klien mereka.
Aaron sampai di depan gedung perusahan cabang yang ada di negara itu, saat dia sampai, semua karyawan dan juga para petinggi di perusahan itu berjejer menyambut kedatangan Aaron. Aaron memang sangat jarang melakukan kunjungan, jadi ketika aaron sampai, mereka sangat antusias. Ada yang memang sangat menunggu kedatangan Aaron, tapi tidak banyak juga yang hanya ingin pencitraan untuk mendapatkan kesan baik dari pemilik asli perusahaan tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Aaron.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Aku mempercayakan perusahaan pada kalian karena aku yakin kalian bisa mengurus apapun yang ada di sini. Tapi kalau seperti ini caranya bagaimana kalian akan mengganti kerugian?"
seseorang yang di yakini sebagai CEO di perusahan tersebut hanya bisa menunduk sembari mengucapkan maaf beberapa kali. Aaron mendesah, tidak ada gunanya meminta maaf, semuanya sudah terjadi. Sekarang mereka hanya perlu memikirkan cara bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini.
"Jadi di mana sampel wine yang mereka tolak?" tanya Aaron ketika dia sudah sampai di gudang barang di perusahaan tersebut.
"Ini Tuan!" Seseorang mendorong sebuah box besar ke arah Aaron, dan CEO yang menjabat di perusahaan tersebut membukakan penutup botol lalu menyerahkan botol wine tersebut kepada Aaron.
__ADS_1
"Eishhhhh!" Aaron refleks menjauhkan botol itu dari hidungnya. Namun beberapa saat kemudian, hidungnya kembali mengendus bau dari wine produk miliknya.
"Tuangkan ke gelas!" titah Aaron pada orang yang sama.
Orang itu hanya menurut, mereka memang sudah mempersiapkan ini.
"Tuan yakin mau mencicipi ini?" tanya Nak sebagai seorang CEO yang sejak tadi melayani Aaron.
"Aku harus memastikan ini sendiri Nak, jika mereka bilang produk ku tidak bagus, maka aku harus memastikan sesuatu yang salah dengan produk ku."
Nak hanya mengangguk mengiyakan setelah menuangkan wine kedalam gelas, dia menyerahkan wine itu kembali kepada Aaron. Nak meringis dengan wajah khawatir. Namun ketika melihat bagaimana reaksi Aaron, segera dia mengubah ekspresinya. Minuman itu sebenarnya tidak layak untuk di minum manusia, dari bau dan rasanya saja sudah bisa dipastikan kalau itu benar-benar bukan wine yang perusahaan Aaron buat.
"Aku rasa memang ada yang salah dengan Wine ini Nak, apa yang lain juga sama?"
"Iya Tuan, bahkan untuk alkohol yang kadarnya kurang dari 5% saja rasa dan baunya sudah berubah. Ini terjadi setelah pengiriman terakhir. Saya sudah coba menghubungi pabrik yang ada di Beijing, tapi mereka mengatakan tidak ada masalah apa-apa dan malah menyalahkan kami. Apa ini masuk akal menurut Tuan?"
Bukannya memberikan penjelasan Nak malah menanyakan hal yang jelas-jelas tidak Aaron ketahui. Aaron keluar dari gudang tersebut. Dia mengajak semua orang untuk berkumpul di ruang rapat. Tanggal produksi dan kode produksi di botol tersebut sudah bisa dipastikan oleh Beck. Laki-laki itu menaruh 2 sampel yang berbeda di atas meja. Satu Wine yang dibawa langsung oleh Aaron dari China, sedangkan satunya lagi mereka ambil dari gudang penyimpanan.
Aaron mempersilahkan semua orang untuk mencicipi wine yang dia bawa dan wine sampel dari gudang di perusahaan itu. Mereka semua menunjukkan ekspresi yang sama.
"Kalian sudah tahu bagaimana rasa wine yang perusahaan saya buat bukan. Bukan kualitas wine perusahaan kita yang buruk. Tapi aku yakin, ada orang dalam yang sedang bermain dengan kita saat ini."
Aaron tersenyum menyeringai menatap orang-orang di ruangan itu. Dari balik kaca mata hitam yang dia kenakan dia bisa melihat ekspresi semua orang. Aaron yakin, orang ini adalah orang yang sama yang telah membuat dia kecelakaan dan hampir buta permanen.
"Siapapun kau. Aku akan menemukan mu!"
****
__ADS_1
Azzura menatap semua orang yang sudah mabuk sembari menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali Dia tidak habis pikir, kenapa orang-orang sangat suka mabuk, padahal minuman-minuman itu rasanya tidak enak dan sensasi membakar di tenggorokan membuatnya tidak tahan.
"Bang. Aku pulang dulu ya!" Azzura menepuk pundak Hugo yang juga sudah teler.
"Aku akan mengantarmu!" sahut Hugo hendak berdiri namun Azzura malah mendorongnya hingga Hugo kembali duduk.
"Jangan gila Bang. Kau pikir siapa yang ingin menjemput kematian. Sudahlah! Ini juga sudah malam, aku akan kembali kalau situasinya memungkinkan."
Azzura keluar dari ruangan tersebut. Dia melihat kiri kanan, mencari seseorang. Bukan cuma Hugo sebentar yang curiga. Tapi Azzura juga.
"Sepertinya aman Rubby!" ucap Azzura kepada anjing kesayangannya. Mereka pun melanjutkan langkah mereka, setelah sampai di lantai bawah, Azzura memesan taksi online untuk kembali ke rumah.
"Tolong agak cepat ya Pak!"
"Baik Nona!"
Azzura mengusap kepala dan ekor Rubby berurutan. "Apa yang sedang Aaron lakukan Rubby. Dia jauh dari rumah sekarang. Aku harap dia baik-baik saja."
Rubby menggoyangkan ekornya. Beberapa kali. "Kau bisa melihatnya di sini Bos!" Sebuah panel kecil muncul di belakang jok sopir taksi. Azzura tersenyum, melihat suaminya baik-baik saja Azzura merasa jauh lebih tenang. Dia ingin menyentuh panel itu tapi dia tidak mungkin bisa menyentuh Aaron yang asli.
"Kalian tidak bertemu baru beberapa jam Bos. Masa udah kangen aja."
Azzura menggelengkan kepala. "Kau tidak akan mengerti karena kau belum pernah jatuh cinta Rubby."
"Cih, cinta. Untuk apa cinta kalau saling melukai."
Kitttttttt!
__ADS_1
Suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar sangat nyaring. Azzura sampai terdorong ke depan karena sopir taksi itu tiba-tiba berhenti.
"Maaf Nona. Ada mobil yang berhenti di depan mobil ini."