Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
77. Penolakan


__ADS_3

Azzura menautkan alis saat mendengar pengakuan Zhan. Dalam kebingungannya, dia menyentuh punggung tangan Zhan dan melepaskan genggaman laki-laki di depannya. Zhan memang orang yang baik, sejak dia masuk ke kampus ini sampai sekarang, mungkin hanya laki-laki ini yang tidak memperlakukannya seperti sampah. Tapi dia sudah memiliki suami, apa yang harus dia jawab.


Azzura mengangkat tangan kanannya, dia memperlihatkan punggung tangan yang di jari manisnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat cantik. "Maaf Kak, tapi aku sudah memiliki suami. Kau bukan hanya terlambat, namun sejak awal kau memang sudah tidak memiliki kesempatan!"


Laki-laki itu bungkam. Lidahnya kelu, otaknya seakan berhenti saat itu juga, Azzura sudah menikah, wanita itu sudah memiliki suami? Tapi ini tidak mungkin.. Azzura masih sangat muda, bagaimana mungkin ini terjadi. Lalu, bagaimana dengannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Kedua mata Zhan hanya menatap nanar punggung Azzura yang sudah mulai menjauh.


"Tidak, ini tidak mungkin. Aku yakin, dia hanya bercanda. Aku akan menayangkan ini lagi padanya. Aku , aku tidak akan pernah percaya jika Azzura sudah menikah."


Lain dengan Zhan, lain dengan Azzura. Wanita cantik itu terlihat semakin cantik saat dia mulai duduk di bangkunya dengan gerakan yang sangat anggun. Ekor matanya melirik Jia Li, wanita itu sudah bisa kuliah lagi. Syukurlah. Semoga setelah ini suaminya bisa lebih berbelas kasih kepada orang lain. Meskipun Jia Li salah, namun melakukan penyiksaan juga bukan tindakan yang benar. Menyelesaikan masalah tidak harus selalu menggunakan kekerasan bukan?


Brak! Brak! Brak!


Dosen di depan sana memukul white board beberapa kali. Azzura, wanita itu kembali fokus pada apa yang ingin dia pelajari. Lupakan masalah Aaron yang tempramen, dan lupakan masalah Zhan yang baru saja mengungkapkan cinta, kosongkan ruang dalam otak agar semua pelajaran hari ini bisa masuk ke kepalanya.


Jam makan siang sudah tiba. Azzura telah menemui Raina, mengajak sahabatnya itu untuk pergi ke kantin. Namun, saat mereka sudah dekat ke arah kantin, Azzura melihat pemandangan yang cukup aneh. Para mahasiswi tengah berkerumun. Mereka seperti sedang melihat berlian karena mata mereka yang sangat berbinar.


"Apa di kampus kita ada idola baru ya Ra, tumben banget mereka heboh kayak gini."

__ADS_1


"Entahlah. Mungkin saja seperti itu," sahut Azzura tidak ingin terlalu menanggapi hal tersebut.


"Eitssss. Tunggu dulu. Sepertinya aku tahu siapa yang datang!" Raina tersenyum dengan senyum penuh arti. Pemandangan di depan sana awalnya terlihat biasa saja untuk wanita yang tidak terlalu menyukai hal-hal berbau pria. Namun saat melihat pria mana yang ada di kantin tersebut, jiwanya meronta-ronta. Raina rasanya ingin melompat dan memekik kegirangan.


"Siapa?" tanya Azzura tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel karena dia sedang berusaha untuk menghubungi suaminya.


"Itu, dia suami kamu Ra. Suami kamu!"


Deg!


Azzura langsung menghentikan langkahnya. Dia mendongak, dan ... benar saja, di ujung sana ada seorang laki-laki yang sedang duduk dengan gagahnya. Wajah tampan, pakaian yang ... oh, tentu kalian tahu bagaimana tampilan seorang pemimpin perusahaan besar. Terlebih, di sampingnya ada Beck yang entah sedang menunggu apa.


Azzura hendak berbalik namun orang yang ingin di hindari sudah lebih dulu berdiri dan memanggil namanya.


"Sudah, temui saja suami tajir mu itu Ara!"


Raina mendorong bahu Azzura sampai wanita itu benar-benar mendekat ke meja yang sudah di hinggapi pangeran tampan seperti Aaron.

__ADS_1


"Siang Baby. Duduklah! Aku sengaja datang ke sini karena Bert tidak bersama mu."


Azzura tersenyum tipis, dia memperhatikan tatapan orang-orang yang menatap tidak suka ke arahnya. Para wanita itu seperti sedang mengibarkan bendera perang, padahal Azzura tidak melakukan apapun.


"Kak, kenapa kau ke sini? Kau sengaja ingin menarik perhatian para wanita di kampus ini hah?" Azzura berbisik dengan suara yang sangat pelan. Bahkan jika dilihat sekilas, hanya bibirnya saja yang bergerak, namun tidak ada apapun yang keluar dari sana.


Aaron tersenyum. Dia meminta Beck untuk menaruh makanan yang sudah dia pesan dari restoran bintang lima dan sengaja dia bawa ke kampus Azzura agar wanitanya ini bisa makan-makan high class.


"Aku merindukan mu Baby, jangan pikirkan pendapat orang lain. Kita hidup tidak menyusahkan mereka. Terlebih, kau adalah istriku, kenapa aku tidak boleh memanjakan mu seperti ini hah?"


Azzura menundukkan kepalanya sampai hampir mentok ke meja jika Aaron tidak menggunakan tangannya untuk dia jadikan alas kening istri cantiknya itu.


"Astaga ... jadi si Azzura udah punya suami. Dan suaminya adalah ... orang tajir?"


"Bukan cuma tajir, Lo liat, dia itu sangat terkenal. Semua orang di kota ini hampir tidak ada yang tidak mengenalnya." Seorang Mahasiswi menyodorkan ponsel pada temannya memperlihatkan sebuah artikel tentang Aaron dan segala jenis harta yang laki-laki itu miliki.


"By ... apa kau tidak ingin makan?"

__ADS_1


Azzura bergeming. Bahkan ketika Raina menyenggol bahunya, wanita itu masih enggan untuk bersuara.


"Aku ingin pulang Kak!"


__ADS_2