
"Nyonya A-zzura, kenapa Anda ke sini?"
Azzura menautkan kening melihat tingkah Hugo yang sangat aneh. Wanita cantik itu ingin menyentuh bahu Hugo namun kembali dia menerima penolakan. Hugo mundur satu langkah, dia tidak berani menatap mata Azzura. Yang penting bagi Hugo sekarang adalah menyelamatkan diri. Sebenarnya dia sedang tidak dalam posisi menguntungkan. Istilah kata, maju kena, mundur kena. Jika Azzura marah, dia pasti akan habis di hajar wanita cantik itu, dan jika Aaron yang marah, dia pasti akan langsung mati ditembak laki-laki bucin yang sangat protektif kepada betinanya.
"Kau sudah gila Bang? Apa kau sakit?"
"Tidak Nyonya, aku baik-baik saja."
"Ekhemmmm!"
Azzura dan Hugo menoleh ketika mendengar suara deheman dari samping mereka, jadi inilah yang membuat Hugo ketakutan. Azzura lupa kalau dia datang bersama dengan suaminya.
"Kau tidak usah takut. Hari ini suasana hatiku sedang baik. Aku memiliki sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu Hugo!"
Hugo mengangguk mengiyakan. Ia melirik Azzura meminta penjelasan tentang apa yang suaminya bicarakan. Wanita itu hanya mengangkat bahu acuh. Jika bertanya padanya, jelas saja Azzura akan mengatakan kalau dia tidak tahu.
"Ikut aku keluar sebentar Hugo!"
"Baik Tuan."
Azzura memperhatikan mereka berdua, dia sudah ingin mengikuti mereka dari belakang namun Aaron memintanya untuk masuk kembali.
"Ikh, padahal aku juga pengen tahu apa yang mereka obrolin. Jangan sampe Bang Hugo di depak dari Beijing. Kalau sampai itu terjadi, aku harus mencari teman dimana lagi."
"Aaron tidak akan melakukan itu Bos, apapun yang dia lakukan, percayalah bahwa sekarang dia tidak akan membuat keputusan yang merugikan atau membahayakan mu."
"Okelah. Aku mengerti."
"Bos!"
Azzura menoleh ketika ada yang memanggilnya. "Ada apa?" tanya Azzura duduk kursi kerja milik Hugo.
"Bos, sebenarnya kami memiliki kendala dengan gedung ini!"
"Kendala? Maksud mu kendala apa Emeli? Bukankah selama ini semuanya baik-baik saja?"
Emeli menggelengkan kepala, dia melirik ke arah pintu takut jika Hugo akan mendengarnya.
"Aku tidak tahu ini salah atau tidak, tapi Bang Hugo berencana untuk membubarkan kelompok kita, dia mengatakan kalau dia akan mencarikan kami pekerjaan yang lebih baik. Aku dengar dia juga akan menutup usahanya. Tolong kami Bos, kami sudah seperti keluarga di sini, dan kami juga sudah sangat menyayangi Bang Hugo. Dia adalah satu-satunya orang yang telah membantu kami semua ketika kami sedang kesulitan. Jika memang suami Bos ingin mengambil gedung ini, kami mohon bujuk beliau agar kami bisa tetap tinggal."
"Memangnya apa alasan dia ingin melakukan ini? Dia tidak bilang? Karena suamiku tidak.mungkin melakukan itu Emeli."
__ADS_1
"Kami semua tidak tahu Bos, Bang Hugo bilang dia hanya ingin beristirahat saja. Dan dia berjanji kalau dia akan memberikan uang yang besar kepada kami."
Azzura diam untuk beberapa saat, ini agak membingungkan sebenarnya, terakhir kali mereka bertemu, Hugo masih terlihat baik-baik saja. Tidak ada hal aneh yang dia bicarakan. Kenapa semuanya bisa berubah dalam sekejap.
"Aku akan berbicara padanya nanti. Kau tidak usah khawatir Emeli. Semuanya akan baik-baik saja. Kalian tidak akan kehilangan Hugo baik dalam dunia kerja ataupun dalam kehidupan pribadi kalian. Aku membawa sedikit makanan, makanlah sebelum kalian pulang!"
"Baik Bos. Terima kasih!"
****
"Kak!"
Azzura menghampiri Aaron yang kala itu sedang berkutat dengan laptopnya di balik meja kerja yang dia miliki. Azzura mengembuskan napas beberapa kali hingga membuat Aaron sangat penasaran.
"Ada apa?" Aaron menarik tangan Azzura, mendudukkan gadis itu di atas pangkuan. Wajahnya datar namun belaiannya sangat menenangkan.
"Kakak ngobrolin apa sama Bang Hugo? Apa ini ada sangkut pautnya dengan Bang Hugo yang ingin menghentikan bisnisnya?"
Aaron tersenyum. "Kau tidak usah khawatir. Aku sudah menawarkan hal yang mungkin akan sangat disukai oleh Hugo. Dia ingin menghentikan bisnis itu karena dia ingin kembali ke Thailand. Dia ingin memulai bisnis baru di sana."
"Lah, terus anak buahnya yang di sini bagaimana?"
"Rencananya gak jadi. Aku memintanya untuk bergabung dengan ku, sementara usaha yang dia kelola saat ini akan menjadi tanggung jawab ku, perusahaan itu akan lebih di kenal karena sekarang akulah pemegang saham terbesar di sana. Aku ingin melegalkan peminjaman itu Sayang, Hugo akan mendapatkan persentase dan anak buahnya akan tetap bekerja. Hugo akan menjadi bagian dari orang-orang ku."
"Aku sudah membuat keputusan. Membiarkan mu keluar sendirian tidak baik, aku akan meminta Bert, Hugo dan beberapa orang lainnya untuk menjadi pengawal mu. Apa boleh jika seperti itu?"
Azzura mengangguk antusias. Kalau seperti ini, dia akan sangat bahagia. Bertambahlah orang yang akan bisa dia kerjai.
"Kapan Bang Hugo akan pindah ke mes di belakang rumah ini?"
"Mungkin beberapa bulan lagi!"
"Lah, kok masih lama?"
Aaron mengacak poni istrinya gemas. "Ini tidak akan lama, semua orang yang bekerja dengan ku harus melewati tahap seleksi yang baik, sebelum mereka lulus dari pulau kita, dia tidak akan bisa kembali ke sini."
"Ya sudahlah, yang penting Bang Hugo gak balik ke negaranya. Itu saja sudah cukup!"
Azzura hendak berdiri namun Aaron menghentikan pergerakannya.
"Ada apa Kak?" tanya Azzura menatap suaminya lekat.
__ADS_1
"Besok kuliah pagi kan? Sekarang peluk aku dulu, aku juga ada rapat pagi-pagi buta. Aku tidak akan bisa mengantarkan mu ke kampus besok."
"Eissshhhhhh. Dasar manja!"
Aaron tidak perduli, baginya memeluk Azzura ketika dia merasa lelah bisa mengurangi rasa lelah itu sendiri. Baban di pundaknya seperti menghilang untuk sementara waktu.
"Aku harus menyelesaikan beberapa masalah Baby. Nasib ribuan karyawan tergantung pada ini. Aku harus bekerja lebih kerasa agar mereka bisa tetap memiliki pekerjaan."
Azzura tersenyum tipis, dia memeluk Aaron seperti apa yang suaminya minta. Lagi-lagi Azzura menemukan hal baru, Aaron ini adalah orang yang sangat kejam kepada musuh. Tapi dia juga sangat baik kepada orang-orang biasa yang tidak mengetahui apa-apa.
****
"Azzura!"
Zhan berjalan menyamai langkah Azzura. Dia tersenyum, ketika melihat Azzura hanya menatapnya dengan tatapan datar.
"Ada apa?" tanya Azzura.
"Eummm, nanti siang aku ingin mengajak mu makan di kantin. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan."
Azzura berpikir untuk sesaat, dia menoleh ke belakang melihat ke arah Bert yang sejak tadi memang selalu mengikutinya.
"Aku akan ke sana saat makan siang Kak!"
"Baiklah, terima kasih!"
"Hmmmm!"
"Cieeeee!" Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Zhan sembari merangkul bahu laki-laki itu. "Udah mulai terang-terangan gangguin anak itu, emang cantik sih. Wajar jika dewa kampus yang tidak pernah tertarik pada wanita manapun terpincut."
Bughhhhh!
Laki-laki bernama Raiden yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat dari Zhan meringis ketika Zhan memukul bahunya.
"Jangan melantur. Aku hanya ingin mengajaknya bergabung dengan organisasi kita di kampus ini."
"Ah itu cuma alesan aja."
"Ya sudah kalau tidak percaya," ucap Zhan pergi meninggalkan Raiden.
"Yakkkk! Zhan! Jangan tinggalan aku!" Raiden berlari mengejar Zhan, mereka berdua tidak mengetahui jika sejak tadi ada dua wanita yang mendengarkan percakapan mereka tentang Azzura.
__ADS_1
"Brengsek! Wanita ****** itu sudah bener-bener keterlaluan. Semakin hari dia semakin tidak tahu malu."