Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
60. Aaron Tahu


__ADS_3

"Jadi bagaimana? Apa kalian masih mau jadi murid ku?"


Baron, Simon, Sarden dan Empoy mengangguk antusias. Mereka berempat tidak mungkin berubah pikiran, apalagi mereka sudah melakukan hal-hal yang belum pernah mereka lakukan. Sangat disayangkan kalau harus berhenti di tengah jalan.


"Baiklah. Untuk sekarang kalian pulang saja dulu. Aku akan menemui kalian jika aku sudah senggang. Hari ini aku harus pulang dulu. Tapi ... kalau ada sesuatu jangan menghubungi ku. Kau hubungi saja orang ini!" Azzura menunjuk Bert kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah Baron meminta nomor ponsel Bert, mereka membungkuk kepada Azzura. Tergambar raut wajah kebahagiaan dari keempat pemuda tersebut. Azzura ikut tersenyum. Andai orang-orang di masa lalu juga memperlakukan Azzura seperti ini, mungkin Azzura tidak akan mati sia-sia. Dia akan membantu banyak orang untuk keluar dari lingkaran hitam.


"Langsung pulang saja Bert!"


"Baik Nyonya!"


Azzura mengembuskan napas pelan, dia memalingkan wajah melihat ke arah luar dimana dia bisa memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di sana, berhubung ini adalah jam pulang kerja, jalanan hari itu terlihat agak padat.


"Bert tunggu!" titah Azzura.


Wanita itu langsung turun dari mobil ketika Bert menepikan mobil, Bert hanya bisa mengembuskan napas pelan. Sungguh, majikannya ini sanggup membuat Bert jantungan. Bagiamana Bert tidak jantungan, majikannya turun dan tiba-tiba menghampiri seseorang yang sedang kesulitan untuk mendorong mobilnya. Orang itu memang terlihat sudah agak tua, dan sepertinya tidak ada orang lain yang ingin membantu.


"Terima kasih Nona!" Bapak-bapak itu membungkuk ke arah Azzura saat mereka berhasil menepikan mobil. Azzura tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Jika ayahnya masih hidup, dia pasti sudah setua bapak ini. Belum lagi, cara bapak-bapak itu mendorong mobil, mengingatkan Azzura kepada Ayahnya yang suka mendorong gerobak di pasar.


"Nyonya, sebaiknya Nyonya masuk sekarang. Ini sudah gerimis. Tuan Aaron akan marah nanti."


Azzura pun masuk ke dalam mobil, namun ketika sudah duduk pun, Azzura masih fokus menatap pria tua yang sedang berusaha untuk mencari bantuan dengan ponselnya.


"Bert, apakah kau punya orang tua?"


Bert tersenyum getir.


"Aku sudah tidak memilih siapa-siapa Bert. Aku hidup sebatang kara. Kedua orang tuaku sudah meninggal."

__ADS_1


"Bukankah Nyonya Violet masih hidup Nyonya?"


Azzura menggelengkan kepalanya. "Dia bukan ibu kandung ku Bert. Apakah mungkin ibu kandung bisa setega dan sekejam dia, meskipun dia berkata kalau dia memiliki alasan untuk itu, tapi aku tetap tidak bisa menerimanya Bert. Alasan apapun yang dia buat, pada kenyataannya dia sudah menelantarkan aku demi anak tirinya."


Bert menatap Azzura dari kaca spion depan. Laki-laki itu tidak tahu kalau ternyata kehidupan Azzura semenyedihkan ini. Azzura tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Baru kali ini Bert mendengar Azzura berkeluh kesah.


"Sebenarnya orang tua saya juga sudah meninggal Nyonya. Saya sudah mengikuti Tuan ketika saya masih remaja."


Azzura yang tadi bersedih dengan tatapan tidak fokus dan wajah yang dia tolehkan ke arah jendela mobil langsung duduk tegap. Dia menatap Bert tidak percaya. "Ya ampun Bert. Maafkan aku, selama ini aku tidak mengetahui ini. Aku bertingkah seolah-olah kalau aku ini adalah orang yang tersakiti. Padahal masih banyak orang lain di dunia ini yang lebih tidak beruntung dariku.


Bert tersenyum tipis. Memang benar apa yang dikatakan Azzura, tapi, sebagai seorang laki-laki. Bert tidak bisa terus terpuruk meratapi hidupnya. "Tidak apa-apa Nyonya. Saya memiliki Kak Beck dan Tuan Aaron, sekarang bertambah lagi dengan datangnya Nyonya. Begini saja saya sudah senang."


Azzura mengangguk. Sebaik apa Aaron sampai orang yang bekerja dengannya saja bisa begitu menyayangi laki-laki kejam itu. Padahal jika di pikir-pikir, Aaron memiliki wajah yang sangar. Dia juga terlihat galak di beberapa kesempatan.


****


Azzura tidak menjawab, dia malah langsung berlari dan menghambur kepelukan Aaron. Lelaki itu melirik Bert sekilas, kemudian melirik Beck. Kedua orang itupun pergi.


"Ada apa?" tanya Aaron seraya menarik pinggang Azzura dan mengusap Surai indah sang istri dengan gerakan teratur.


"Tidak ada apapun. Aku hanya merindukan mu Kak. Biarkan aku memeluk mu sebentar, hmmm!"


Aaron tersenyum, dia melepaskan pelukannya, membawa Azzura untuk mendekat ke sofa dan diapun duduk, sementara Azzura, dia dudukan di atas pangkuan.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi bukan? Tidak mungkin kau tiba-tiba sedih seperti ini sayang."


Lagi-lagi Azzura menggeleng. Untuk sekarang dia tidak bisa menceritakan apapun. Apalagi jika Azzura harus menceritakan asal usulnya yang sebenarnya. Itu tidak mungkin. Aaron pasti akan menganggapnya gila. Cukup lama Azzura berada dalam posisi itu. Perlahan matanya terpejam. Mungkin karena terlalu nyaman berada di pelukan Aaron, Azzura menjadi tidak bisa mengontrol rasa kantuknya.

__ADS_1


"Aku tahu ada yang kau sembunyikan Azzura. Namun apa itu, aku akan menunggu kau mengatakannya sendiri. Aku bukan tidak perduli padamu, tapi memaksakan kehendak kita pada orang lain tidak pernah baik. Apapun yang terjadi, semoga kau tetap baik-baik saja."


"Tuan!"


"Shuuuuttt!"


Aaron menaruh jari telunjuknya di atas bibir, laki-laki itu tidak menatap kepada Beck dan malah berdiri sembari memangku sang istri.


"Kita bicara nanti Beck!"


"Baik Tuan."


Beck menunggu Aaron dengan sabar di ambang pintu, laki-laki itu terus bergerak gelisah. Sudah 10 menit sejak Aaron masuk ke dalam kamar, namun belum ada tanda-tanda kalau laki-laki itu akan kembali.


Krieetttt!


Pintu kamar itu terbuka, karena Aaron tidak keluar, jadi Beck yang berinisiatif untuk masuk.


"Katakan Beck!"


"Tuan, Erland memakan umpan kita, dia menawarkan kerja sama dengan pihak perusahaan dari Vietnam. Dan benar dugaan Tuan selama ini, Erland memiliki rahasia yang sangat besar Tuan."


Aaron tersenyum tipis. Laki-laki itu tidak pernah salah, Erland memang sudah menunjukkan gelagat tidak biasa semenjak perusahaan Aaron mengalami banyak masalah.


"Kita pergi ke perusahaan sekarang Beck."


"Baik Tuan!"

__ADS_1


__ADS_2