
Azzura mengikuti langkah Aaron, mereka berjalan berdampingan dengan beberapa pengawal yang mengikuti mereka dari belakang. Sebuah ruangan kosong, tinggi nan gelap itu mereka masuki. Pemandangan tidak biasa ini terlihat sangat apik. Keduanya terlihat cocok menjadi ketua mafia pada kelompok yang mereka buat.
"Duduklah sebentar!"
Aaron menarik tangan Azzura, meminta wanitanya untuk duduk pada sofa sedang menghadap pada ruang kosong di depan mereka. Wanita itu pun duduk, masih menunggu apa yang akan terjadi. Dan setelah Aaron menjentikkan jari, tiba-tiba tembok di depannya bergeser. Dari jauh Azzura bisa melihat seorang wanita yang duduk di bangku dengan tangan dan kaki terikat. Di mulutnya terdapat lakban yang cukup besar, dan semakin diperhatikan, Azzura malah semakin terkejut.
"Jia Li!" gumamnya seraya berdiri. Aaron kembali menarik Azzura untuk duduk. Laki-laki dengan kaca mata hitam yang bertengger di atas tulang hidung mancungnya memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk membuka lakban di mulut Jia Li.
"Kak, sebenarnya ada apa ini?" Azzura menatap suaminya masih dengan wajah bingung. Dia tidak mengerti dengan semua ini.
"Kakak!" kembali wanita itu menggoyangkan lengan Aaron.
"Dia adalah orang yang telah mengirimkan para berandalan itu untuk mengganggu mu. Dan dia ternyata menyuruh mereka untuk melecehkan mu juga. Apa pantas orang seperti ini di biarkan hidup?"
__ADS_1
Azzura menggeleng kemudian dia mengangguk. "Alasan, dia pasti memiliki alasan kenapa dia melakukan ini semua. Jangan langsung menghabisinya Kak!"
Aaron Tersenyum kecil, dia mengusap kepala sang istri kemudian kembali fokus ke depan dan memerintahkan anak buahnya untuk memberikan hukuman.
Sling ....
Cerarrrr!
"Arggghhhh!"
"Rubby, kau tahu sesuatu ... tidak mungkin Jia Li melakukan ini sendiri kan? Orang-orang yang kemarin menyerang ku itu adalah orang-orang terlatih yang otaknya gak ada. Jumlah mereka pun terlalu banyak. Tidak mungkin Jia Li yang melakukan ini semua."
"Iya Bos. Jia Li memang mendapat sokongan dari orang lain. Kau bisa menanyakan ini pada suamimu."
__ADS_1
Azzura beralih menatap Aaron. "Kak, apakah ada orang lain yang membantu Jia Li? Tidak mungkin Jia Li melakukan ini sendiri kan?"
Sebuah senyuman kembali Azzura dapatkan. "Erland adalah dalang dari semuanya Sayang. Besok dia akan mendatangi ku dengan kontrak kerja sama baru dengan perusahaan dari Indonesia. Dia ingin menjebak ku untuk masalah yang lebih besar. Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku sudah mempersiapkan segalanya untuk membuat laki-laki itu hancur sampai ke dasar."
"Kalau begitu, jangan siksa Jia Li terlalu lama. Berikan dia hukuman yang lebih berat tapi jangan berulang-ulang seperti ini. Jangan membuat ayahnya sedih Kak."
"Ampuni aku A-azzura. Aku menyesal karena sudah melakukan i-ni padamu. Aku, aku janji. Aku tidak akan pernah lagi mengganggu mu. Tolong aku Azzura!" Jia Li yang sudah terlihat sangat lemah masih berusaha untuk memohon. Namun Aaron bergeming, dan Azzura yang melihat itu semakin sedih. Bukan Jia Li yang dia khawatirkan, namun ayahnya. Apa yang akan ayahnya rasakan jika dia tahu anak yang selama ini dia sayangi dan dia manjakan mendapat siksaan tidak beradab seperti ini.
"Tuan ...!"
"Aku tahu!"
"Kirim dia ke rumah sakit Beck! Dan buat peringatan dengannya. Jika dia melakukan hal seperti ini lagi. Jangan ragu untuk memenggal kepalanya."
__ADS_1
"Baik Tuan."