
Aaron turun dari mobilnya menuju tempat yang sudah dikatakan Bert 30 menit yang lalu. Satu hal yang Aaron senangi dari Bert dan Beck adalah mereka yang selalu bergerak cepat untuk memberikan kabar.
Suara riuh para mahasiswi di kampus itu terdengar ketika Aaron berjalan melewati para mahasiswi tersebut. Wajah tampan nan dingin, dengan tubuh tinggi tegap membuat mereka tidak bisa berkedip.
Ada beberapa orang yang memang sudah tahu jika itu adalah suami dari Azzura, namun hampir semuanya tidak ada yang tahu, hubungan yang terjalin antara Azzura dan juga orang ini.
"Apa kau yakin wanita gila itu tidak membawa komplotan, Bert?"
"Saya tidak yakin, Tuan."
"Eishhhhhhh. Kau membuat kepercayaan ku hilang 50% Bert."
Bert mengangkat kedua bahunya. Dia tidak mengikuti Azzura ke dalam karena dia sedang menunggu Aaron dan juga memang Azzura belum lama 'kan masuk ke dalam. Jadi dia tidak benar-benar salah. Hanya mungkin saja ya seperti itulah. Bert memang tidak secerdas dan tidak secekatan Beck. Tapi dia masih bisa diandalkan.
Sepasang kaki panjang itu berjalan semakin cepat. Beberapa orang yang memang mengetahui siapa Aaron membungkuk ketika Aaron melewati mereka. Dewan kampus di sana hampir semuanya tahu jika Aaron adalah donatur teroyal yang mereka miliki.
Tangan besar Aaron masuk kedalam saku jas yang dia kenakan, dengan gerakan yang sangat cepat selongsong senjata api dia todong kan ke arah Gardenia hingga satu tarikan dari jemari Aaron membuat sesuatu yang ada di dalam benda yang dia pegang meletus.
__ADS_1
Duar!
Byurrrrrrr!
"Rainnnn!"
Azzura berjongkok mengarahkan tangannya ingin meraih Raina tetapi Aaron menarik tangan Azzura sembari memberikan isyarat kepada Bert untuk segera melompat agar gadis itu bisa segera diselamatkan.
"Kakak ... kenapa kau melakukan ini, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Raina?"
Azzura menatap mata Aaron berkaca-kaca. Bert menang sedang berusaha untuk membawa naik Rania ketepian kolam renang, namun dia tidak tahu apakah sahabatnya itu akan baik-baik saja atau tidak.
"Hmmm. Langsung bawa dia ke kantor polisi. Jangan biarkan dia lolos. Harusnya sejak dulu kita memang sudah memenjarakan dia."
Beck mengangguk paham. Dia menyeret Gardenia dari arena kolam renang itu untuk keluar dari sana. Beck memang lebih hebat dari Bert. Dia bisa membuat orang-orang di kampus itu tidak ada yang mendatangi area kolam renang demi menjaga image bosnya.
"Kau akan mati di tangan ku," gumam Gardenia tanpa suara. Seringai muncul di wajah wanita itu.
__ADS_1
Azzura bisa melihat tatapan tajam yang Gardenia tunjukan padanya. Dia sangat ingin menenggelamkan Gardenia ke kolam renang, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena alasan kemanusiaan. Peluru yang bersarang di lututnya sudah cukup. Azzura tahu karir Gardenia berakhir di sini, dia yang berprofesi sebagai seorang instruktur tari tidak akan mungkin bisa menjalani pekerjaannya lagi setelah semua ini. Gardenia akan cacat seumur hidup.
Azzura mengusap sudut matanya ketika melihat Bert sedang berusaha memberikan CPR kepada Rania, namun saat dia ingin mendekati orang-orang itu, Aaron tiba-tiba menarik pinggangnya membuat bibir mereka bertemu.
Entah apa yang terjadi, Azzura merasa ada yang berbeda dengan apa yang Aaron lakukan sekarang, ciumannya bukan ciuman menuntut, melainkan ciuman kekhawatiran, putus asa, namun juga lega. Physical touch yang Aaron berikan padanya membuat Azzura menitikkan air mata. Aaron mungkin tidak mengatakan jika dia khawatir dan marah, namun dari sentuhan dan perilakuan yang dia tunjukkan, Azzura sangat memahami apa yang Aaron rasakan saat ini.
"Kakak," lirih Azzura mengusap bulir bening yang meluncur dari pelupuk mata suaminya. "Aku baik-baik saja. Aku aman sekarang, kau sudah menyelamatkan ku dan juga Rania, kenapa kau menangis seperti ini, hmmm?"
Bukannya menjawab, Aaron malah menarik bahu Azzura, mendekap tubuh mungil itu hangat dengan bahu bergetar. Aaron tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai dia terlambat datang dan Azzura tenggelam sebelum dia sampai. Aaron tidak ingin kehilangan wanita ini, dia sudah sangat mencintainya. Hanya Azzura yang Aaron inginkan. Bukan yang lain.
Zhan tersenyum kecut, dia berbalik dengan wajah tertunduk lesu. Semuanya sudah berakhir. Benar-benar berakhir. Wanita yang dia sukai ternyata sangat mencintai suaminya. Zhan gila karena sempat berpikir untuk melanjutkan aksinya mendekati wanita itu. Sekarang semuanya sudah jelas. Tidak ada cinta yang tersisa untuknya. Sejak awal, Azzura memang sudah ditakdirkan untuk orang lain.
"Kak!"
Zia Li ingin menemui Azzura namun tidak jadi saat melihat Zhan pergi begitu saja. Dia berlari mengikuti laki-laki itu, mencoba untuk memanggil Zhan, namun laki-laki itu tidak menggubrisnya sama sekali.
....
__ADS_1
"Tugasku sudah selesai ... masih banyak rintangan yang harus kau lalui. Tapi sekarang aku harus pergi."