Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
Bab 44. Bersyukur


__ADS_3

Beck menempelkan jemarinya di atas earphone yang dia pakai. "Kalian mundur. Jangan biarkan siapapun mendekat!"


Melihat Aaron langsung bersimpuh di atas tepian jembatan yang pembatasnya ambruk, Beck menjadi sangat yakin jika bosnya itu tidaklah buta. Bahkan saat dia berlari, Beck melihat betul garis lurus yang diikuti laki-laki itu. Namun entah karena apa, Aaron sampai menyembunyikan masalah sebesar ini dari siapapun.


"Azzuraaaaa!" Aaron semakin tertunduk dalam, tanpa terasa bulir bening mengalir dari pelupuk mata indahnya. Aaron memukul permukaan jembatan itu hingga buku-buku tangannya berdarah.


Srakkkk!


Tiba-tiba sepasang tangan keluar dari ujung jembatan tersebut. Semakin lama, suara gemersiknya semakin keras dan itu membuat Aaron mendongak melihat ke arah sumber suara.


"Azzura!" pekik Aaron menghampiri istri cantiknya. Aaron dengan sigap membantu Azzura naik sampai gadis itu benar-benar bisa dia genggam.


Brukkkkk!


Wanita cantik itu ambruk di atas dada Aaron, mereka sama-sama menghembuskan napas panjang. Napas lega namun juga ada rasa lelah di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini Tuan?" Azzura bersuara masih enggan untuk beranjak. Dia sangat lelah, dan dada Aaron terasa sangat nyaman. Masa bodoh dengan rencana yang telah dia susun dengan matang. Azzura tidak ingin kehilangan pria ini lagi. Kalau Aaron memang ingin mempermainkannya, itu tidak masalah karena Azzura akan melakukan apapun untuk menikmati hidup. Sebelumnya dia berpikir jika hari ini dia akan mengalami kematian kedua, namun Azzura sangat bersyukur karena Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk yang kesekian kalinya.


"Azzura! Jangan tinggalkan aku, maafkan aku. Dulu aku tidak yakin dengan perasaan ku padamu. Tapi sekarang, sekarang aku sadar bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang ingin aku miliki di dunia ini. Aku mencintaimu Azzura! Sangat! Jangan pernah tinggalkan aku."


Aaron mengerutkan kening saat Azzura diam tidak menjawab ungkapan hatinya. Aaron berusaha untuk duduk, dia juga mendudukkan Azzura tepat di antara kedua pahanya.


"Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak bersua Azzura!" Aaron menangkup kedua pipi Azzura, sedikit menggoyangkan pipi itu karena Azzura masih diam menatapnya namun tidak melakukan pergerakan apapun.


"Azzura ... jangan seperti ini Sayang, kalau kau tidak baik-baik saja kita pergi ke rumah sakit seka ...."


Cup!


Azzura mengecup bibir Aaron, sedikit menekannya namun memang hanya sebatas kecupan. "Aku juga mencintaimu Tuan. Sangat, aku tidak menyangka kau akan mengatakan ini. Aku pikir cintaku bertepuk sebelah tang ...."


Wanita itu berhenti mengoceh tat kala Aaron menempelkan bibir mereka, melu mat bibirnya sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Butiran kristal keluar dari pelupuk mata cantiknya. Azzura benar-benar sangat terharu. Dia tidak menyangka jika Aaron akan melakukan ini. Ciuman yang Aaron berikan pun sangat berbeda dari ciuman sebelumnya, kali ini rasanya Azzura dibawa terbang ke awang-awang. Hatinya menghangat begitupun dengan bibirnya.


"Terima kasih karena kau masih bertahan di samping ku Azzura!"


****

__ADS_1


Prang!


Sebuah gelas hancur lebur ketika seorang pria melemparkan gelas itu pada dinding diseberang. Bibirnya berkedut, kedua tangannya terkepal hingga urat-urat di punggung tangan itu bermunculan.


"Maaf Bos. Mereka, teman-teman saya mati. Dan saya sudah tidak bisa melakukan pekerjaan ini lagi. Wanita itu sangat menyeramkan bos!"


Pluk!


Erland melemparkan kantong kuning pada dada orang suruhannya. "Pergilah dari negara ini. Jangan sampai mereka menemukan mu. Aku tidak ingin nama ku terseret. Sebaiknya kau pergi malam ini juga!"


"Baik Bos. Terima kasih!"


"Bajingan. Dia tetap meminta uang dariku meskipun wanita itu baik-baik saja. Bersabarlah Aaron. Ini hanya permulaan, orang-orang ku masih kau tahan dan serangan berikutnya pasti akan aku lakukan dengan persiapan yang lebih baik. Kau tunggu saja!"


Erland mengambil gelas lain di meja itu, menuangkan alkohol tak berwarna kemudian menenggaknya sampai habis.


"Hallo Bu. Iya, semuanya akan baik-baik saja. Anak mu ini sangat cerdas Bu, kau tidak perlu khawatir."


Senyuman di bibir laki-laki itu terlihat sangat menyeramkan. Semakin lama tawanya semakin terdengar dan semakin kencang.


"Aku akan pastikan kalau kau akan mendapatkan apa yang harus kau dapatkan Aaron. Tidak perduli cepat atau lambat, aku akan membuat mu menerima semuanya."


****


"Minum dulu!" Aaron menyodorkan segelas air pada Azzura. Bukan cuma menyodorkan, dia juga membantu air itu masuk ke dalam mulut istrinya. Setelah dia yakin jika tenggorokan sang istri sudah lebih baik, Aaron mulai menyendok sup, meniupnya sebentar kemudian menyodorkan sendok itu ke mulut sang istri.


"Aaaaaa! Buka mulut mu!"


Azzura membuka mulut meskipun keningnya mengkerut, dia tidak mengerti akan sikap yang Aaron tunjukan. Apakah wajar orang jutek nan bengis didepannya ini bisa berubah menjadi sangat baik. Rasanya begitu aneh.


"Tuan apa kau baik-baik saja?" Azzura menempelkan punggung tangan di kening Aaron karena kini mereka sedang duduk di sofa panjang yang ada di kamar mereka. Posisi Azzura dan Aaron yang saling berhadapan membuat Azzura bisa menyentuh laki-laki itu dengan leluasa.


"Aku baik-baik saja. Kau belakangan ini cuma makan sedikit. Aku hanya sedang membantumu agar kau bisa kembali makan dengan lahap. Dan ya, satu lagi. Sampai kapan kau akan memanggilku Tuan?"


Azzura terbengong. Dia sudah terbiasa memanggil Aaron dengan sebutan itu, kalau tiba-tiba dia mengubahnya, bukankah itu akan sangat canggung.

__ADS_1


"Aku ... aku akan memikirkannya lagi Tuan. Aku bingung harus memanggil mu apa."


"Ayang juga gak papa!"


"Prerrrttttt!" Azzura membekap mulutnya karena dia tidak tahan untuk tidak tertawa. Suaminya ini benar-benar sangat lucu. Bagaimana mungkin jika Aaron ingin membuat panggilan yang begitu menggelikan. Sebenarnya itu normal-normal saja dalam pandangan masyarakat. Tetapi karena Azzura belum pernah berpacaran sebelumnya, dia merasa hal itu terlalu berlebihan.


"Apa panggilan itu terlalu norak?" tanya Aaron dengan wajah menelisik namun tangannya masih terus menggerakkan sendok mengisi mulut dan lambung sang istri sebanyak mungkin.


"Aku tidak masalah Tuan, tapi aku akan mencoba memanggil mu dengan sebutan lain. Ya misalanya Kakak, atau Om!"


"Om?" ucap Aaron menghentikan gerakan tangannya.


"Apa aku terlihat sudah sangat tua?"


Azzura menggeleng. "Tidak, bukan begitu, tapi Tuan, perbedaan umur kita memang cukup jauh. Iya kan?"


Aaron menipiskan bibir sembari mengangguk. " Tapi aku tidak mau di panggil Om, selain Om kau boleh menggunakan panggilan lain." Aaron menaik turunkan alisnya dengan senyum menyeringai.


"Daddy?" tanya Azzura dengan mata membulat.


"Bingo!" Aaron menjentikkan jarinya hingga membuat Azzura sedikit terkejut dan refleks mundur.


"Ya ampun. Kau itu sangat mesum Tuan!"


"Mesum sama manggil Daddy gak ada hubungannya Sayang. Kau berpikir terlalu jauh." Aaron meletakkan piring di atas meja, dia menggeser posisi duduknya agar bisa lebih dekat dengan Azzura.


"Jangan mendekat Tuan, aku berani jamin, besok kau akan babak belur jika berani menyentuh ku."


"Aku sudah mengatakan apa yang kau mau. Tapi kenapa kau ingkar janji, seharusnya aku sudah boleh menyentuh mu kan!"


Azzura menggeleng cukup keras. "Tidak, ungkapan cinta juga butuh pembuktian!"


"Pembuktian?"


"Hmmmm. Iya pembuktian. Pembuktian kalau kau benar-benar mencintai ku!"

__ADS_1


"Ya ampun. Apalagi ini ...."


Aaron benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita. Dinikahi sudah, mengungkapkan perasaan sudah. Lalu apalagi yang harus dibuktikan. Benar-benar sangat merepotkan.


__ADS_2