
"Jangan biarkan dia lolos Beck!" titah Aaron singkat nan padat.
"Apa yang kau dapat?" tanya Aaron pada orang suruhannya. Mereka tidak bisa bertemu secara langsung karena Aaron dan Beck ingin mengikuti mobil Erland.
"Itu jebakan Tuan. Tidak ada hal berarti yang Erland lakukan. Dia hanya minum, bermain dengan wanita, dan tidak ada hal lain selain itu. Sepertinya dia tahu jika Tuan mengikuti mereka."
"Shi*" Aaron melemparkan ponselnya begitu saja. "Kita pulang saja Beck. Tidak ada gunanya kita mengikuti dia. Aku rasa pria ini memiliki seseorang dibelakangnya."
"Baik Tuan."
Buku-buku tangan Aaron menunjukkan urat-urat berwarna hijau kebiruan. Laki-laki itu menatap jalanan di sampingnya dengan tatapan nyalang. Ada yang tidak beres dengan Erland. Apakah laki-laki itu juga tahu jika dirinya tidak bisa melihat, tapi itu tidak mungkin. Aaron yakin dia sudah menyembunyikan masalah ini dengan baik.
"Beck. Aku ingin melihat niat sebenarnya dari Erland. Aku ingi tahu, dia sebenarnya memiliki niat seperti apa. Untuk bisnis dengan klien dari Kamboja, coba kau berikan proyek itu kepada Erland. Kau juga tahu apa yang harus kau lakukan. Buat orang-orang itu menunjukkan kontrak kepada mu terlebih dahulu. Baru setelah itu kau arahkan klien kita untuk bekerja sama dengan Erland."
"Baik Tuan."
Aaron mengembuskan napas panjang, matanya terpejam. Aaron mendekap tubuh Azzura erat, merengkuh tubuh mungil itu seakan dia akan kehilangan sang gadis jika dekapannya di lepas. Azzura masih terlelap, padahal Aaron memberikan dosis yang sangat kecil. Namun sepertinya Azzura memang cukup kelelahan.
"Ganti plat nomor mobilnya Beck. Aku yakin Erland melihat mobil ini tadi."
Beck mengangguk. Bukan cuma plat nomor yang dia rubah, tapi warna mobil itupun berubah. Mobil mewah berwarna hitam berubah menjadi Berwarna putih dalam sekejap. Setelah sampai di rumah, Aaron membawa Azzura naik ke lantai atas dengan Beck sebagai penunjuk jalan.
"Urus maslah ini secepatnya Beck!"
"Baik Tuan."
Beck pun pergi meninggalkan Aaron dan Azzura. Tanpa mereka sadari, seseorang dari lantai bawah memperhatikan apa yang sedang terjadi. Setelah dia yakin, dia mengirimkan sebuah pesan kepada orang di sebrang sana.
"Tuan memang sudah pulang Pak. Tapi dia tidak menggunakan mobil yang kau sebutkan. Tuan memakai mobil lain. Mungkin Bapak salah menduga."
Erland membaca pesan yang di kirim orang suruhannya dengan kening berkerut. Dia yakin, tadi seperti ada yang membuntutinya. Tapi siapa, jika itu bukan Aaron, apakah dia memiliki musuh lain. Apa yang sudah dia lakukan sampai dia bisa mendapat musuh. Yang Erland ganggu hanya Aaron. Tidak ada orang lain lagi.
__ADS_1
Apa Erland harus mendekati gadis itu, sepertinya Azzura adalah kelemahan Aaron yang paling memiliki dampak besar kepada bos nya itu. Jika Azzura terluka, Erland yakin Aaron akan lebih terluka. Apalagi jika Erland berhasil meniduri wanitanya Aaron, dia pasti akan sangat stres. Dan ini akan menjadi sangat menyenangkan.
"Cih, aku tahu kau sangat mencintai gadis ingusan itu Aaron. Aku akan melakukan apapun agar aku bisa memilikinya. Aku tidak akan pernah membiarkan mu bahagia setelah apa yang kau lakukan. Percayalah. Aku akan menghancurkanmu."
"Bos!"
"Ada apa?" ketus Erland pada anak buahnya. Erland mengambil botol alkohol seukuran botol parfum kemudian menenggaknya.
"Bos, mobil yang tadi memang bukan mobil Aaron. Plat nomor yang tercatat adalah plat nomor milik orang lain. Ini data-datanya!" Anak buah Aaron memberikan sebuah map kepada bosnya tersebut.
"Aku sudah tahu. Pergilah! Jangan ganggu aku. Kalau kau punya gadis yang masih segel, kirimkan ke sini. Aku sedang ingin bermain."
"Baik Tuan."
****
Bughhhhh! Bughhhhh Bughhhhh!
"Mulailah lagi. Pukul lagi!"
Hugo memberikan aba-aba agar pelatihnya melakukan serangan kembali.
Bughhhhh!
Hugo tertawa. Akhirnya dia bisa mendaratkan pukulan pada lelaki bertubuh kekar didepannya. Namun belum sempat ia melakukan persiapan. Satu pukulan sudah kembali melayang kepadanya dan ....
Bughhhhh!
Brukkkkk!
"Issshhhh!"
__ADS_1
Anak buah Hugo meringis melihat bos mereka tumbang dengan wajah yang sudah tidak berbentuk lagi. Darah segar mengalir dari hidung bos mereka. Dan satu matanya sudah membengkak sebesar telur ayam.
"Kenapa Bang Hugo giat banget ya. Padahal, kita semua bisa melindungi dia. Selama ini Bang Hugo juga kan selalu berlindung pada kita."
"Mungkin dia ingin memiliki kemampuan lain selain menghitung uang. Bang Hugo ini sudah sangat gagah. Sayang aja kalau seumpamanya dia tidak bisa melakukan apapun. Berlindung pada kita terus menerus juga tidak baik kan. Kalau Bang Hugo lagi sendiri terus ada orang yang ganggu gimana?"
"Iya juga sih. Tuan Aaron dan Bos Azzura pasti bangga memiliki anak buah yang gigih seperti bos kita. Iya gak Kak?" tanya Emili menyenggol lengan Drake yang masih setia memperhatikan Hugo.
Laki-laki itu mengangguk mengiyakan. "Aku lebih bangga karena memiliki bos yang memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaan yang sedang dia emban."
****
Jika Hugo sedang berjuang dengan segala kekuatan yang dia miliki. Lain dengan Aaron. Laki-laki itu sedang tertunduk di sofa yang ada di kamarnya. Didepan Aaron ada sosok Azzura yang sedang menatapnya dengan tatapan horor. Wanita cantik itu berdecak pinggang.
"Kau membohongi ku Kak. Kau bilang akan membangunkan ku. Tapi kenapa kita sudah ada di rumah? Kau tidak adil."
"Tapi aku sudah berusaha untuk membangunkan mu. Kau yang tidak bangun-bangun. Padahal aku sudah menggoyangkan juga menepuk pipimu. Tapi kau masih tak kunjung membuka mata."
"Jadi Kakak menyalahkan ku? Kakak pikir aku babi?"
"Aku tidak mengatakan itu. Tapi aku memang sudah membangunkan mu. Kau tanyakan saja kepada Beck. Dia akan tahu kalau aku tidak berbohong."
Bukannya percaya Azzura malah semakin mendelik ke arah suaminya. "Kalau bertanya kepadanya sama saja bohong. Dia akan membelamu. Dimana letak kejujurannya."
"Terus aku harus bagaimana?" Aaron pura-pura bingung. Padahal dia memang tidak membangunkan Azzura dan malah membuat wanitanya itu tidur semakin nyaman. Aaron tahu ini salah, tapi dia terpaksa melakukan ini agar Azzura tidak ikut terlibat dalam masalah yang sedang dia hadapi.
Azzura mengerucutkan bibirnya kesal. Dia berjalan gontai mendekati Aaron kemudian duduk di atas pangkuan suaminya. Memeluk leher suaminya manja.
"Kak, jangan pernah berusaha untuk melindungi ku. Mungkin aku dikirim ke sini karena aku harus melindungi mu dari orang itu. Percayalah padaku Kak. Aku akan menjaga mu, aku janji aku tidak akan mengacau. Jangan seperti ini padaku. Aku juga ingin melakukan sesuatu untuk mu. Aku ingin melakukan sesuatu yang berguna."
Aaron menatap mata Azzura lekat, dia tahu, dari tatapan yang Azzura berikan Aaron tahu kalau wanita di depannya sangat tulus. Haruskah Aaron membawa Azzura pergi meninggalkan semua masalah ini. Tapi Aaron masih sangat penasaran akan kecelakaan yang pernah menimpanya.
__ADS_1