Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
59. Kemunculan Geng Aneh


__ADS_3

Azzura memasuki kampus seperti biasa, tidak ada yang spesial. Terlebih hari ini sepertinya Raina tidak masuk, semakin tidak bersemangat lah Azzura untuk memulai pembelajaran.


"Selamat pagi Pak!" Azzura membungkuk ke arah prof Li. Dia tidak memberikan wajah baik pada dosen itu namun tetap memberikan hormat sebagai sopan santun.


Prof Li sedikit membungkuk ke arah Azzura. Jia Li dan Huanran dibuat melongo melihat apa yang terjadi di depan mereka. Jia Li tentu saja sangat kecewa melihat sikap papanya kepada Azzura. Li sudah berjanji kalau dia akan membuat Azzura kewalahan. Namun kenapa Li malah bersikap sebaliknya. Apakah ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Zia Li. Namun kenapa. Apakah karena Azzura memiliki orang hebat di belakangnya.


"Breng**!" gerutu Jia Li menatap Azzura tajam. Wanita itu mendelik, memperhatikan Azzura meskipun orang yang diperhatikan tidak memperhatikannya.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan A Jia, wanita sial lan itu tidak bisa ayah mu sentuh. Kau masih yakin ingin mengganggu nya. Apakah semuanya akan baik-baik saja?" Huanran bertanya bukan karena ingin memojokkan Jia Li. Tapi dia tiba-tiba merasa kalau Azzura ini tidak mudah untuk mereka singkirkan.


Jia Li mengepalkan kedua tangannya kuat. Matanya menatap sang ayah namun kembali dia menatap Azzura. Ada hal yang tidak beres yang dilakukan oleh Azzura. Jia Li sangat curiga jika ayahnya kini sudah menjadi sekutu wanita yang sangat dia benci.


"Tidak, ini tidak mungkin. Papa tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu. Ini pasti ada kesalahan. Papa pasti mendapatkan ancaman dari orang lain."


Jia Li kembali fokus pada pelajarannya ketika sang ayah sudah memulai pelajaran. Dia akan memikirkan cara untuk membuat Azzura keluar dari kampus ini sesegera mungkin. Meskipun Jia Li harus melakukannya dengan tangannya sendiri.


Setelah jam kuliahnya berakhir, Azzura hendak masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh Bert. Sebelum dia masuk, tiba-tiba ada empat orang pria yang bersujud di bawah kakinya. Salah satu dari ke empat pria tersebut mengatakan hal yang membuat Azzura terheran.


"Tolong jadikan kami sebagai murid mu Boss. Kami berjanji akan berubah jadi lebih baik, kami tidak akan mengganggu orang lemah lagi. Kami ingin belajar ilmu bela diri darimu".


Semakin di dengarkan, Azzura malah semakin bingung. Dia mencoba mengingat, siapakah ke empat pria yang sedang bersujud di kakinya, hingga Bert pun bersuara. "Mereka adalah orang-orang yang kemarin lusa mengganggu Rania, Nyonya."


Azzura mengerutkan kening sembari menoleh ke arah Bert. "Kau mengetahui masalah ini?" tanya Azzura dengan mata memicing.


Bert cengengesan, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maafkan aku Nyonya, tapi aku harus melaporkan apapun yang terjadi kepada tuan Aaron."

__ADS_1


"Cihh, kau itu sangat menyebalkan Bert." Azzura mendengus dan kembali fokus pada keempat pria yang masih menunggu jawaban darinya.


"Dengarkan aku para berandalan! Aku itu bukan ahli bela diri, dan aku tidak tertarik menjadikan kalian sebagai murid ku walaupun aku memiliki keahlian di bidang itu. Kalian carilah guru lain yang memang memiliki keahlian untuk menjadi guru bela diri yang seperti kalian inginkan."


"Tidak Boss! Kami tidak membutuhkan orang lain. Kami hanya membutuhkan Boss untuk menjadi guru kami. Kami akan melakukan apapun, asalkan Boss mau menerima kami sebagai murid Boss."


Azzura terdiam untuk beberapa saat. Jika di pikir-pikir. Sekalipun Azzura menerima orang-orang ini sebagai muridnya, Azzura tidak akan rugi. Wanita cantik itu pun tersenyum menyeringai. "Baiklah!" ucap Azzura. "Aku akan mempertimbangkan apa yang kalian minta, tapi sebelum itu, kalian harus melakukan sesuatu terlebih dahulu."


Keempat orang tersebut tersenyum sumringah, "Terima kasih Boss, kami akan melakukan apapun yang Boss perintahkan kepada kami."


Azzura mengangguk mengiyakan. Dia melirik Bert, memberikan senyum terbaik yang dia miliki. Bert yang melihat itupun tau, kalau Azzura ingin membuat keempat pria tersebut merasa jika Azzura sedang mempermainkan mereka.


40 menit kemudian, disini lah mereka berada. Di depan sebuah rumah sederhana yang atapnya sudah hampir roboh.


"Kenapa kita ada disini Boss? Dan untuk apa semua makanan yang sudah kita beli ini?" Ketua dari geng tersebut mengangkat kantong-kantong keresek yang ada di tangannya.


Keempat pria itu gelagapan. Mereka saling menatap satu sama lain. Meminta maaf kepada mantan korban mereka, adalah hal yang sangat tabu dan sangatlah berat untuk di ucapkan keempat pria itu.


"Kenapa?" tanya Azzura menatap mereka dengan tatapan mengejek. "Kalian tidak bisa melakukan apa yang aku perintahkan? Apa kalian memang laki-laki yang tidak bisa memegang ucapannya sendiri. Dan apakah kalian bersungguh-sungguh ingin menjadi murid ku?"


"Tidak Boss. Kami akan melakukannya." Keempat pria itu memberikan hormat kepada Azzura. Wanita cantik itu tersenyum penuh kebanggaannya. Dia berjalan lebih dulu mendekati rumah Raina, setelah mengetuk pintu, wanita yang ingin mereka temui ternyata muncul.


"Rain!" seru Azzura langsung memeluk wanita di depannya erat. Raina pun melakukan apa yang Azzura lakukan. Namun setelah diperhatikan dengan seksama, Raina melihat empat orang yang ....


"Mereka ingin meminta maaf Rain. Mereka sudah berjanji kalau mereka akan berubah. Bolehkah jika kita masuk sebentar?" tanya Azzura sembari tersenyum.

__ADS_1


Raina mengangguk mengiyakan. Ia membuka pintu semakin lebar. Raina memang kesal dan masih marah kepada orang-orang itu. Namun menolak hal baik pun tidak benar. Raina tidak bisa menjadi egois.


"Silakan duduk!" ucap Raina kepada semua orang. Mereka pun duduk namun tidak berani duduk di kursi kayu setelah mendapat delikan dari Azzura.


"Maafkan kami Raina. Kami menyesal karena telah melakukan itu padamu. Kau boleh menghukum kami seperti apapun yang kalian inginkan. Kami tidak akan menolak."


Raina melirik ke arah Azzura, menatap wanita itu dengan tatapan seolah meminta pendapat. Azzura mengangguk, Raina pun ikut mengangguk mengiyakan.


"Nama kalian siapa?" tanya Raina.


"Aku Baron!" ucap seseorang yang diyakini sebagai ketua dari geng tersebut. "Ini Simon, Empoy dan yang paling ujung Sarden."


Baik Azzura maupun Raina menahan senyum mendengar nama-nama para lelaki itu. Mereka sangat yakin jika nama keempat orang itu adalah nama panggilan.


"Baiklah, aku akan menerima permintaan maaf kalian. Tapi aku memiliki satu permintaan. Apakah kalian tidak keberatan?"


"Siap. Tidak Raina. Kami akan melakukan apapun asal kau mau memaafkan kami."


Azzura dan Rania saling menatap. Untuk beberapa saat, Raina dan Azzura hanya diam sembari menahan senyum.


"Betulkan dengan baik. Rania bilang genteng paling Utara juga bocor!'


Keempat orang itu terlihat gemetaran karena berada di atap rumah yang cukup tinggi, terlebih atap rumah itu terlihat tidak Sekokoh rumah-rumah lain.


"Bos, bos yakin apa yang kita lakukan ini seimbang dengan apa yang akan kita dapatkan?" Sarden bertanya dengan lutut gemetar. Dia ingin menolak melakukan itu, tapi takut Baron marah padanya.

__ADS_1


"Lakukan saja apa yang Boss besar bilang. Jika ingin hidup tenang, kita haru memiliki dekeng yang kuat Sarden."


"Baik Boss."


__ADS_2