Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
78. Permintaan Azzura


__ADS_3

Azzura keluar dari mobil Aaron dengan langkah terburu-buru. Hari ini, dia memutuskan untuk pulang lebih awal mengikuti suaminya. Azzura butuh menenangkan hatinya beberapa saat, debaran jantung juga perasaan bahagia yang menggelitik di dalam dirinya tidak mungkin bisa membuat Azzura fokus untuk belajar. Terlebih, kini seantero kampus sudah tahu jika dirinya adalah istri dari Aaron, seorang pengusaha muda yang terkenal di kota itu. Bukan takut menerima kecaman, namun intinya, Azzura harus menguasai perasaannya dulu agar dia bisa menatap semua orang penuh percaya diri.


"Sayang ...."


Aaron yang melihat Azzura masuk ke kamar mengikutinya dari belakang, menutup pintu dan memojokkan wanitanya ke pintu tersebut. Tangan kirinya melindungi kepala Azzura, sedangkan tangan kanannya masih berada di pinggang wanitanya. Tatapan mereka bertemu, dua pasang mata yang saling menatap, tanpa mengucapkan apapun, tatapan mereka sudah bisa mewakili isi hati keduanya. Namun, beberapa saat kemudian ... Aaron mengangkat tangan besarnya, jemari itu membelai wajah Azzura lembut. Sangat lembut hingga sang empunya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang Aaron berikan.


"Apa kau malu karena memiliki suami seperti ku?"


Deg!


Sepasang mata yang sudah terpejam itu kembali terbuka. Azzura menatap suaminya dengan alis tertaut, merasa heran dan bingung dengan pertanyaan Aaron yang tiba-tiba. Ini agak aneh, bahkan sekarang laki-laki itu sudah berbalik, dia melepaskan Coat yang ia kenakan dan berjalan menjauhi Azzura.


"Kakak!"


Sepasang tangan mungil itu melingkar di atas perut Aaron, selangkah lagi Aaron akan membuka pintu kamar mandi namun dia mengurungkan niatnya. Kepalanya tertunduk menatap jemari itu lama.

__ADS_1


"Apakah karena aku mengajak Kakak pulang, Kakak berpikir jika aku malu memiliki mu? Tidak seperti itu Kak, sejak awal aku sudah sangat mencintaimu. Kau juga tahu itu, kan?"


Aaron mengembuskan napas pelan. Dia melepaskan tangan Azzura kemudian berbalik dan sedikit menunduk menatap istri cantiknya yang juga sedang menatapnya.


"Bolehkah aku meminta bukti?"


"Bukti?" tanya Azzura dengan kening berkerut.


Tidak ada jawaban apapun dari Aaron. Laki-laki itu menarik tangan Azzura, membawanya masuk ke kamar mandi. Berhenti di bawah shower dan membiarkan air shower itu membasahi tubuh mereka.


Azzura mendongak, tatapannya sedikit kabur karena air itu terus mengalir, tetapi, meskipun begitu, dia masih bisa melihat wajah suaminya.


"Kenapa? Kau masih belum siap? Masih membutuhkan waktu? Untuk apa ...?"


Aaron mulai menggerakkan tangannya di belakang punggung Azzura, tangan besar itu menelusuri line Zipper dan langsung menurunkan Zipper itu hingga sekarang, Azzura berdiri di depannya hanya menggunakan dalaman saja.

__ADS_1


Napas keduanya naik turun. Memburu, seperti orang yang baru selesai melakukan lari maraton, padahal sejak tadi mereka hanya diam dan saling menatap saja.


Grep!


Azzura sedikit tersentak saat tangan besar itu lagi-lagi menarik pinggangnya hingga kini kedua tangan Azzura ada di bahu dan di dada bidang sang suami. Meskipun Aaron masih berpakaian lengkap, namun karena kemeja yang dia kenakan basah, Azzura seperti menempelkan tangannya langsung di atas kulit suaminya yang tampan.


Kedua mata Azzura terpejam seiring dengan sapuan yang Aaron lakukan. Suaminya ini, Aaron selalu bisa membuat Azzura terbang ke awang-awang. Sentuhan lembutnya, dan cara dia menyentuh membuat Azzura merasa lebih dicintai. Tangan mungil itu mulai naik ke atas, meraba tengkuk sang suami hingga terus naik ke atas, menekan kepala suaminya seolah meminta Aaron untuk melakukan ciuman yang lebih dalam.


"Kak~~."


Dalam napas terengah-engah, Azzura menghentikan tangan Aaron yang ingin membuka pengait bra miliknya. Dia menatap mata Aaron yang mulai sayu, bodohnya Azzura karena membiarkan Aaron terbakar libidonya seperti ini.


Aaron tersenyum kecut, dia tahu ini akan terjadi. Seharusnya tadi dia tidak memancing Azzura untuk melakukan hal yang tidak dia inginkan. Mungkin, memang hanya Aaron yang menginginkan wanita ini seutuhnya. Sedangkan Azzura tidak pernah memiliki perasaan seperti itu. Aaron tidak melanjutkan apa yang dia lakukan, kakinya bergerak mundur namun tangan Azzura menahan pergelangan tangannya. Untuk kesekian kalinya tatapan mereka bertemu. Namun, kali ini sedikit berbeda dengan tatapan sebelumnya.


"Bisakah kita melakukan pemberkatan pernikahan, Kak?"

__ADS_1


__ADS_2