
Azzura tersenyum saat melihat Robert makan dengan lahap. Wajah cantiknya semakin cantik karena tampilan Azzura yang sederhana. Dia tidak memakai riasan yang terlalu tebal, terlebih rambutnya yang di ikat sebagian membuatnya terlihat lebih muda.
Robert menatap Azzura dengan tatapan memuji, selain cantik, menantunya ini juga sangat perhatian. Beruntungnya Aaron karena memiliki Azzura yang selalu ada untuknya. Bahkan saat ini Azzura mau merawatnya, padahal mereka jarang bertemu.
"Nak!"
"Iya Pa ...!"
"Terima kasih!"
Azzura menautkan alis, terima kasih untuk apa, yang hampir mati karena menolong orang adalah Robert, harusnya Azzura yang mengucapkan terima kasih, karena Robert sudah menolongnya, Azzura bisa sehat seperti ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena usaha Robert juga.
"Pa. Tidak usah sungkan, jika Papa berterima kasih karena Ara mau menyuapi Papa, Azzura tidak membutuhkan itu Pa. Seharusnya Azzura yang meminta maaf, secara tidak langsung, Azzura lah yang telah membuat Papa seperti ini."
Robert menggelengkan kepala pelan. "Tidak Nak, ini bukan salah mu. Ini salah Papa karena terlalu memanjakan istri Papa. Dia bisa berbuat seperti itu karena Papa terlalu memberikan kelonggaran padanya. Maafkan Papa Sayang, terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupan kami!"
Robert melihat ke ambang pintu, di sana Aaron berdiri sembari menempelkan jari telunjuknya di atas bibir.
"Baiklah, jika Papa merasa kalau kehadiran Azzura sangat berarti, Papa harus bersikap baik kepada Azzura. Papa harus memberikan apapun yang Azzura inginkan, bagaimana?"
Robert tertawa kecil, tentu saja dia mengangguk. Robert akan menganggap Azzura seperti anaknya sendiri. Dia tidak akan pernah membedakan status apapun. Robert janji.
"Ekhemmmm!"
Azzura refleks menoleh ke belakang. Dia tersenyum, Aaron kini berjalan ke arahnya, memegang kedua bahu Azzura kemudian mengecup pucuk kepala istri cantiknya itu.
"Yang sakit Papa Ron!"
__ADS_1
"Aaron maunya meluk istri Aaron. Papa itu udah tua, gak usah di peluk-peluk, kalau Ara emang lagi dalam masa pertumbuhan, jadi dia butuh dekapan hangat dari suaminya."
"Kakak!"
Azzura mencubit kulit perut suaminya. Dia mendongak dengan bibir mengerucut. Dan ... hal yang lebih memalukan Aaron lakukan. Laki-laki itu mengecup bibirnya di depan Robert. Apa Aaron ini sudah hilang akal. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu.
"Kakak ikh ...!"
"Gak usah malu sama Papa. Papa seneng kalau kalian rukun kayak gini. Papa tahu kalian terpaksa menikah, namun sekarang, Papa yakin kalau kalian sudah saling menyayangi satu sama lain."
Azzura menunduk dengan wajah memerah padam. Suaminya ini benar-benar keterlaluan. Setelah dia tidak menyembunyikan kebutaannya lagi, Aaron malah semakin berani.
"Papa sudah makan kan? Sekarang anak perempuan Papa ini harus kuliah Pa. Papa gak apa-apa kan kalau di tinggal dulu. Bert akan menemani Papa. Nanti Aaron juga ada urusan sebentar di kantor. Setelah menjemput Ara, nanti kita ke sini lagi. Besok Papa udah boleh pulang kok."
Robert mengangguk. "Pergilah Nak. Belajar yang rajin. Buat kita bangga hmmm, kalau enggak, nanti kampusnya yang kita tuntut!"
"Nanti Ara ke sini lagi Pah!"
"Hmm!"
"Cieeee!"
Aaron berbisik di dekat telinga istrinya.
"Kenapa? Apa yang harus di cieee in Kak?"
"Sekarang Papa udah sayang banget sama kamu By. Aku yakin, sekarang hanya kau yang bisa mempengaruhinya. Sedangkan aku akan di anak pungutkan."
__ADS_1
"Eishhhhhhh, mana bisa seperti itu. Papa hanya melakukan tugasnya sebagai seorang mertua. Anak kandungnya kan tetep Kakak."
"Kamu akan tahu nanti," ucap Aaron sembari mencubit hidung istrinya.
....
Selama di perjalanan, Aaron tak pernah melepaskan Azzura meskipun hanya sedetik. Bahkan ketika dia menerima telepon pun, tangan kanannya tetap berada di pinggang Azzura, sementara tangan kirinya memegang ponsel.
"Beck, apa Rubby tidak ikut bersama mu?" tanya Azzura dengan suara yang sangat pelan.
"Maaf Nyonya. Yang mengurus Rubby adik saya. Jadi saya kurang tahu."
Azzura mengangguk dengan wajah mendung. Sudah beberapa hari Rubby seperti kurang bersemangat. Azzura ajak keluar rumah pun dia tidak mau. Entah apa yang terjadi pada anak anjingnya.
"Kenapa?" tanya Aaron saat melihat Azzura berwajah mendung.
"Rubby Kak, dia sepertinya kurang bertenaga akhir-akhir ini!"
Aaron mengusap kepala istrinya lembut. Dia tidak bisa jika harus melihat Azzura bersedih seperti ini.
"Besok kita bawa Rubby ke dokter hewan ya Sayang!"
Azzura mengangguk antusias, dia tersenyum sumringah. Namun saat mengingat sesuatu, senyumnya langsung hilang begitu saja.
"Rubby bukan anjing biasa, apakah tidak apa-apa jika dia di bawa ke dokter hewan?"
Azzura menjadi ragu. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. Namun ... Azzura harus menanyakan ini dulu kepada Rubby.
__ADS_1