Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
80. Orang Sedeng


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Azzura menatap orang di samping ranjang ayah mertuanya satu persatu.


Gardenia tersenyum kecil, bukannya melihat ke arah Azzura, dia malah melirik laki-laki yang ada di belakang adik tirinya itu. Binar di mata Gardenia terlihat. Dia tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada Aaron. Laki-laki yang sempat dia tolak ternyata sangat keren dan sangat tampan, begitu menggoda hingga membuat Gardenia tidak bisa untuk tidak menatapnya.


"Aku tanya kenapa kalian di sini? Bukankah hubungan kita sudah berakhir?"


"Jaga bicara mu Azzura, mereka ini orang tuamu. Kenapa kau sangat tidak sopan seperti itu?" sarkas Gardenia menyudutkan Azzura, dan mencoba mengangkat tinggi kualitas dirinya di depan Robert.


Azzura memalingkan wajah kesal, dia berbalik namun Aaron menahan dirinya. Laki-laki itu memeluk Azzura, mengusap kepalanya pelan seolah-olah dia sengaja melakukan itu untuk membuat ulat bulu di samping ibu Azzura kepanasan.


"Ibu ke sini hanya sebentar. Apa salahnya jika ibu ingin menjenguk besan ibu sendiri? Bukankah tidak ada larangan untuk itu?"


Violet ikut bersuara, sedangkan Wiliam, dia hanya mengangguk mengikuti alur yang sedang di buat oleh anak dan istrinya saat itu.


Helaan napas berat terdengar dari arah ranjang. Mereka semua menoleh ke arah Robert. Namun Robert hanya menatap ke arah Azzura dan Aaron, dia tentu saja sudah tahu, bagaimana sikap keluarga Azzura selama ini. Bahkan, Violet yang seolah sengaja menjadikan Azzura seperti seorang pembantu saja Robert sudah tahu.


"Gak papa Nak, Papa baik-baik aja. Lagipula, mereka tidak akan lama," ucap Robert tersenyum. "Iya gak Tuan, William?"

__ADS_1


"Akh, i-iya Tuan. Kami hanya sebentar di sini, tidak akan lama." Saking gugupnya William, dia malah mengulang apa yang Robert tanyakan.


Azzura mengangguk. Dia melirik Violet sekilas, hati kecil Azzura mengatakan untuk menyapa orang itu, namun otaknya berkata lain. Bukannya ingin menjadi anak durhaka, namun sebelum dia melakukan itu, Violet sudah lebih dulu durhaka kepada Azzura Aurora.


"Papa sudah makan belum?" tanya Azzura kepada Robert. Laki-laki itu mengangguk. Jam makannya sudah ada yang mengatur, jadi, tidak mungkin dia telat.


Keheningan terjadi, hingga beberapa saat kemudian, ponsel seseorang berdering. Aaron mengambil ponselnya kemudian keluar dari ruangan itu. Tak berselang lama, Gardenia juga ikut keluar, entah apa yang akan dia lakukan. Namun Azzura menjadi tidak tenang, dia sepertinya tahu apa yang ingin Gardenia lakukan pada suaminya.


"Papa. Azzura ke toilet dulu sebentar. Papa gak papa kan Ara tinggal?"


Robert menggelengkan kepalanya yakin. Dia menyuruh Azzura segeralah keluar dari ruangan itu. Robert tahu, menantunya ini bukan ingin ke kamar kecil, namun dia memiliki niat lain.


Set!


Azzura menarik tangan Gardenia, menatap wanita itu tajam dengan rahang mengetat karena menahan gejolak emosi di dalam otaknya.


"Apa yang kau lakukan Gardenia? Kau ingin mengganggu suamiku hah?"

__ADS_1


Bukannya malu karena sudah terpergok mengintip, Gardenia malah tertawa. Wanita itu menepis tangan Azzura yang sendari tadi mencekal pergelangan tangannya.


"Kenapa? Kau takut suami mu berpaling hah? Tidak percaya diri karena aku lebih cantik dari mu? Mau aku tunjukan bagaimana cara untuk memikat hati seorang pria!"


Azzura menggeram, ia mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, bola matanya memutar beberapa kali karena sedang mencoba untuk menahan emosi.


"Kau itu hanya wanita miskin Azzura. Tidak ada yang spesial dari mu. Lekuk tubuh mu itu memang bagus. Tapi untuk apa ... kau itu hanya pelacu* murahan yang menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan uang."


Plakkkkk!


Gardenia meringis saat tangan besar Aaron mendarat di atas pipinya.


"Jaga mulut mu Gardenia. Istri ku wanita baik-baik. Jikapun dia menjual dirinya, maka aku yang akan membelinya. Mulut sampah mu itu benar-benar tidak berguna."


Azzura menarik sudut bibirnya. Dia yang tadi hendak memukul Gardenia mengurungkan niat karena sudah didahului oleh suaminya.


"Apa tangan mu baik-baik saja Kak? Cuci tangan dulu. Nanti jika ada "kuman" yang menempel bahaya."

__ADS_1


Gardenia menggeram sembari menghentak kan kakinya ke lantai rumah sakit. Dia menatap punggung Azzura dan Aaron dengan tatapan tajam penuh kemarahan.


"Dasar jalan*. Aku pasti akan membalas mu, Azzura! Kau lihat saja nanti."


__ADS_2