
Sudah satu Minggu setelah Azzura mengatakan ingin menghabiskan waktu dengan Rubby. Anak anjing itu memang terlihat semakin tidak bersemangat. Dia hanya tidur tanpa mau melakukan apapun. Dan itu juga berdampak kepada Azzura. Dia lebih sering menghabiskannya waktu seharian dikamar, keluar rumah hanya untuk kuliah, selebihnya dia hanya menemani Rubby, mengajak anak anjing itu mengobrol dan mendekapnya saat mereka tidur.
"Istriku masih hidup, Beck. Tapi aku merasa jika satu Minggu ini aku sudah menjadi duda. Yang dipeluk istriku saat tidur adalah anak anjing itu, bukan aku. Kau bisa bayangkan bagaimana kesepiannya aku selama satu Minggu ini?"
Beck tidak mengatakan apapun, dia hanya fokus mendengarkan. Bukan hanya kali ini saja Aaron menggerutu karena kehilangan waktu bersama dengan istrinya, tapi seminggu ini kupingnya selalu panas karena celotehan Aaron. Semua kalimatnya sama hanya waktunya saja yang berbeda.
"Tapi, kasihan si Rubby, Beck. Dia pasti sangat kesakitan. Kenapa istriku bersikukuh tidak ingin membawanya ke dokter? Apa Rubby memiliki penyakit mematikan yang tidak akan bisa sembuh karena berobat?"
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu," jujur Beck.
Aaron mendengus, dia yang sedang duduk di balik meja kerjanya beranjak menuju kamar sang istri. Belum sempat membuka kamar, Aaron sudah mendengar suara terisak sang istri.
"Baby ...!" panggil Aaron membuka pintu kamarnya kasar. Kedua matanya membulat melihat Azzura sedang menunduk memeluk Rubby. Bahunya bergetar hebat. Aaron tahu jika anak anjing itu mungkin tidak bisa bertahan lagi.
__ADS_1
Azzura tidak mengatakan apapun. Dia hanya menangis dengan suara yang pilu. Sangat pilu hingga Aaron ikut berkaca-kaca. Langkah kaki yang sebelumnya seringan bulu kini sangat berat. Dia ikut merengkuh tubuh Azzura, memeluk tubuh itu erat tanpa mau mengatakan apapun. Isak tangis yang terdengar membuat Aaron menengadahkan kepala untuk menahan bulir bening yang menyeruak ingin keluar dari pelupuk matanya.
....
Dihalaman rumah yang sangat luas, banyak orang berpakaian serba hitam sedang menunduk, memberikan penghormatan terakhir untuk Rubby. Bukan cuma anak buah Arron, banyak para petinggi yang jug hadir di sana.
"Rubby ... sekarang kau sudah tidak kesakitan lagi," gumam Azzura di dalam hati. "Terima kasih karena sudah menemaniku selama beberapa bulan ini. Kau adalah teman sekaligus keluarga yang aku miliki. Kau harus bahagia di sana. Aku harap kau akan kembali padaku suatu hari nanti. Maafkan aku, Rubby! Aku tidak akan mengucapakan selamat tinggal karena aku tahu kita tidak akan pernah berpisah, kau akan selalu ada dalam hatiku."
Aaron menunduk, dia membantu Azzura untuk berdiri. Namun, karena terlalu lama bersujud di dekat gundukan tanah Rubby, Azzura terhuyung. Syukurlah saat itu Aaron sigap, dia memangku Azzura, membawanya pergi dari sana.
Azzura mendongak. Dia menatap Aaron dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana jika Azzura mengatakan kalau dirinya tidak nyata. Mereka hanya ilusi yang dibuat oleh penulis. Takdir mereka bukan ada pada Tuhan, tapi ada pada tangan penulis itu. Azzura sudah menyingkirkan bahaya di dekat suaminya. Lalu, apakah setelah ini dia juga akan kembali pada tubuh lamanya, mati dan terombang-ambing dilautan lepas.
"Kakak," panggil Azzura dengan suara yang lirih.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang? Kau butuh sesuatu?" tanya Aaron sesaat setelah membaringkan Azzura di atas ranjang.
Senyum tipis terukir di bibir wanita cantik itu. "Bolehkah aku meminta sesuatu darimu?" tanyanya menatap mata Aaron lekat.
"Kau ingi apa? Katakan saja! Mau minta Piramida pun, aku akan memberikannya!"
Azzura terkekeh kecil, mata bengkaknya tersenyum. "Bisakah jika aku meminta bayi darimu? Mari memiliki anak dalam waktu dekat ini, Kak!"
Sebuah senyuman tersungging di bibir Aaron. Tangan besarnya terulur mengusap wajah Azzura lembut. "Apa kau yakin? Bukannya ingin menyelesaikan sekolahmu dulu?"
Azzura menggelengkan kepala. "Aku ingin memiliki anak bersamamu, Kak. Kalau bisa kembar tiga."
"What? Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Azzura menggeleng. Namun beberapa detik kemudian, dia tersenyum. Menarik dasi Aaron kemudian membisikan sesuatu di sana. "Mintalah pada pemilik cerita kita, Kak!"