
"Aku sedang tidak ingin meladeni mu Jia Li. Jangan mengusikku seperti ini."
"Ya sudah kalau tidak percaya, aku tidak perduli."
Brughhh!
Huanran melongo tat kala Jia Li ambruk di atas lantai ketika dia hendak menyenggol bahu Azzura, mereka menatap mata Azzura dengan tatapan penuh kebencian.
"Kenapa menatap ku seperti itu? Bukankah dia yang berusaha untuk mengganggu ku? Jangan mencoba untuk memutar balikan fakta. Ada CCTV di kampus ini. Kau tidak akan menang melawan ku."
Azzura melenggang pergi meninggalkan Jia Li dan Huanran yang masih melongo. Wanita bernama Jia Li itu memukul lantai berkali-kali. Lagi dan lagi, dia gagal untuk membuat Azzura malu.
"Apa lutut mu baik-baik saja Jia?"
"Aku baik-baik saja Ran. Kita lihat saja, apakah wanita sialan itu akan bisa melawan Papa, aku yakin, Papa tidak akan melepaskannya dengan mudah, wanita itu akan segera mendapatkan kesengsaraan di kampus ini." Jia Li tersenyum menyeringai tat kala menatap punggung Azzura yang sudah mulai menjauh.
****
Azzura menengok kanan kiri, dia mencari mobil milik prof. Li. Jika tidak salah, mobilnya itu berwarna merah, tapi ada beberapa mobil berwarna merah di sana, Azzura harus mendekati mobil yang mana. Andai Jia Li tidak mengancamnya dengan nilai, Azzura tidak aka pernah mau melakukan semua ini. Apakah orang berpangkat tinggi memang selalu memanfaatkan kelemahan orang-orang sepertinya, kenapa Azzura sangat kesal akan hal itu.
"Astaga. Ini juga bukan!" Azzura menembuskan napas kasar, dia tidak tahu harus mencari mobil merah di mana lagi. Agaknya dia akan kembali ke kelas saja, namun ketika Azzura hendak melangkah, dia melihat sebuah mobil merah yang pintunya terbuka.
"Itu pasti prof Li," gumam Azzura dengan wajah berbinar.
"Prof. Li!" Azzura membungkuk ke arah dosennya setelah beberapa menit mencari keberadaan laki-laki tua itu. Dia tersenyum agak dipaksakan karena Azzura memang tahu jika tatapan prof Li ini sudah tidak mengenakan hati.
"Maafkan saya prof Li. Saya tadi sudah mencari mobil Anda, tapi tidak ketemu ketemu."
Prof Li tidak menjawab, ia memalingkan wajah sedikit mendengus. "Bawakan kardus yang ada di mobil, bawa ke ruangan saya. Jangan sampai ada yang hilang, banyak materi penting di sana."
"Baik prof Li!"
Azzura mengambil kardus tersebut, ternyata ukuran kardusnya cukup besar, bahkan isinya pun hampir penuh. Sepertinya orang-orang ini memang ingin mengerjai Azzura, tapi tenang saja, Azzura bukan wanita lemah, mereka tentu saja salah memilih lawan.
__ADS_1
Prof Li berjalan di depan, sedangkan Azzura dibelakang, Prof Li melirik ke arah Azzura untuk beberapa saat. Sepertinya ada yang salah dengan muridnya itu, kenapa kardus di tangannya terlihat sangat enteng padahal Li sudah menaruh batako di bagian dasar kardus tersebut kemudian menutupnya dengan beberapa dokumen yang memang harus dia kerjakan. Ada juga beberapa buku materi yang ukurannya tentu saja tidak kecil.
"Isssh, apakah dia memiliki ajian khusus!" gumam Li menatap Azzura heran, dia sedikit bergidik tat kala melihat Azzura tersenyum, seharusnya Azzura kepayahan bukan, tapi kenapa wajahnya baik-baik saja, tidak ada ekspresi kelelahan atau peluh di pelipisnya.
"Cih, begitu saja sudah takut. Aku sudah bilang kalau kalian itu salah memilih lawan."
Azzura terkikik geli ketika melihat Prof Li berjalan lebih cepat. Ia terus berjalan untuk mencari ruangan prof Li, namun ketika netranya menatap ke arah pintu ruangan di ujung lorong, Azzura melihat seseorang menutup pintu sembari mengintip. Sangat mencurigakan.
Azzura membuka pintu itu setelah meletakkan kardus bawaannya di samping pintu. Sepertinya ini adalah gudang, namun kenapa dia melihat ada suara-suara aneh.
"Aku mohon jangan lakukan ini Kak. Aku tidak melakukan kesalahan apapun."
"Gila, pasti mereka adalah laki-laki brengsek yang suka mengganggu gadis-gadis di kampus ini."
"Kau pikir kau siapa hah? Kau itu hanya gadis culun yang biasanya cuma menangis."
Srakkkk!
"Yakkkk!"
Bughhhhh!
"Arghhhhh!" Laki-laki yang tadi mengoyak baju gadis berkaca mata kuda meringis sembari memegangi kepala belakangnya. Ia melihat sebuah buku usang yang baru saja mencium kepala yang sangat dia jaga dengan hati-hati.
"Lepaskan gadis itu! Apa kalian tidak memiliki ibu hah? Apa tidak ada wanita dalam keluarga kalian, bagaimana jika mereka yang diperlakukan seperti ini. Kalian itu ada kepala tapi tidak ada otak."
Keempat lelaki itu saling menatap, namun tidak lama setelah itu, terdengar gelak tawa, Azzura menautkan alis melihat reaksi yang mereka tunjukkan. Benar-benar sangat membanggakan bukan, tetapi mungkin beginilah orang-orang yang tidak berperasaan. Mereka tidak menganggap orang lemah seperti manusia. Persis seperti apa yang pernah dia alami dulu. Mata Azzura berkaca-kaca ketika melihat gadis itu, dia pasti sudah sangat ketakutan, tubuhnya bergetar, bagaimana jika Azzura telat datang, apakah kejadian ini sudah sering terulang. Ya Tuhan, kenapa harus ada orang jahat di dunia ini.
Bughhhhh
Sebuah kursi terlempar setelah Azzura menepisnya menggunakan lengan. Para lelaki di ruangan itu melongo, senyum di bibir mereka lenyap bagai embun tertiup angin. Dan senyum menyeringai di bibir Azzura membuat bulu kuduk mereka berdiri.
"Hajar dia!" ucap laki-laki yang di yakini Azzura sebagai ketua dari kelompok pria brengsek itu.
__ADS_1
"Kemarilah!" Azzura mundur dua langkah, wanita itu tersenyum semakin lebar. Ketika 3 pria di depannya mengambil alat untuk memukulnya, Azzura malah semakin senang.
"Yakkkk!" Salah satu dari mereka berteriak, balok kayu ia layangkan ke arah Azzura dan ...."
Krakkkk!
Kayu itu patah menjadi dua. Sisa kayu yang ada di lengan lelaki tadi jatuh ke lantai, lutut dan tangannya bergetar, dia mundur beberapa langkah karena dia benar-benar takut melihat Azzura yang terlihat baik-baik saja. Bahkan lengannya tidak cidera, bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Ekspresi seperti ini terlihat lebih menyeramkan dari ekspresi manapun.
"Dasar banci!" ucap dua lelaki lain, mereka mengambil kursi dan mengarahkan kursi itu lagi pada Azzura.
Brakkkk!
Lagi dan lagi, kursi itu hancur, dengan santainya Azzura mengusap sisa-sisa kayu yang menempel pada cardigan yang dia kenakan. Azzura berdecih sembari mantap para pria itu.
"Kau!" panggil Azzura pada bos di geng tersebut. "Kemarilah!"
Lelaki itu sebenarnya sangat gugup, namun karena dia tidak ingin di anggap sebagai laki-laki lemah, dia mendekati Azzura dengan percaya diri.
"Dasar pengecut!" ucapnya menatap teman-temannya dengan tatapan meremehkan.
Bughhhhh!
Brukkkkk!
Ketiga lelaki itu meringis melihat bos mereka ambruk di atas tumpukan barang yang sudah tidak terpakai. Mereka ingin meninggalkan tempat itu namun ....
"Maju satu langkah dan kalian akan berakhir di pemakaman umum!"
Deg!
Mereka semua melotot. Ketiga lelaki itu kembali mundur dan berdiri berjejer seperti semula. Persis seperti anak sekolahan yang sedang melakukan upacara bendera.
"Berbalik!" titah Azzura. "Dan kau!" tunjuk Azzura pada laki-laki yang sudah lemas padahal hanya Azzura tendang. "Isi barisan keempat! Cepat atau aku buat kau impoten seumur hidup!"
__ADS_1