
"Jadi kau sudah tahu bukan kalau aku hanya berpura-pura!"
Beck mengangguk dengan tangan semakin bergetar. Sebenarnya dia sangat senang ketika mengetahui Aaron tidak buta, namun setelah mengetahui itu pun hidupnya pasti terancam.
"Kau mau melanjutkan kerja sama dengan ku atau kau mau pergi menyusul adikmu?"
"Jangan pecat saya Tuan, saya tidak akan mengatakan apapun pada orang lain. Bahkan kepada adik saya pun saya tidak akan bicara. Saya mohon biarkan saya untuk tetap tinggal di sini. Saya sudah berjanji kepada kedua orang tua saya bahwa saya akan mengabdi pada Tuan."
"Aku tahu kau merasa berhutang budi pada ku Beck. Tapi aku bersumpah, aku menolong keluarga kalian bukan karena ingin di sembah seperti ini. Jika kau bisa menutup mulut, aku memberikan mu pilihan. Pergi atau tetap bersama ku di sini!"
"Saya akan tetap di sini Tuan. Saya tidak akan pergi kemanapun."
"Baiklah. Lusa kita panggil kembali adik mu. Tapi setelah kau memilih untuk tinggal, kau tidak boleh pergi dariku Beck."
"Baik Tuan!"
"Pergilah!"
"Baik Tuan! Terima kasih!"
Aaron menghembuskan napas kasar, menatap punggung Beck dengan perasaan bangga. Dulu ketika dia sudah beranjak dewasa, Beck dan Bert masih remaja. Ketika itu keluarganya mengalami kerugian yang cukup besar. Usaha orang tua Bert dan Beck bangkrut sampai mereka di tagih sana-sini. Aaron bersyukur karena saat itu mereka bertemu, dia mengajak Beck dan Bert untuk tinggal bersamanya, namun naasnya satu tahun setelah Beck dan Bert ikut bersama Aaron, orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan disengaja. Orang yang membunuh orang tua mereka adalah rekan bisnis mereka sendiri.
"Kenapa aku bimbang setelah mengatakan perasaan ini padamu Azzura. Dunia bisnis ini sangat mengerikan, apakah aku sanggup menjagamu di belakang ku!" Aaron tersenyum getir, mengusap kepala Azzura yang sedang tertidur dengan usapan yang sangat lembut.
"Tuan!" Azzura mengerejapkan mata, berusaha untuk memperjelas penglihatannya yang kala itu memantulkan pemandangan indah. Usapan dan suara suaminya membuat Azzura tidak bisa untuk tetap tidur.
"Bangun!" Wanita cantik itu merentangkan kedua tangannya. Aaron menunduk, ketika Azzura mengalungkan tangannya di leher, Aaron menyangga punggung istrinya membiarkan Azzura duduk masih dengan posisi merengkuh leher kekar itu erat.
"Tuan, aku tidak meminta kau untuk melindungi ku. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Kalau perlu, aku yang akan melindungi mu. Apa kau lupa kalau aku memiliki kekuatan super hmmmm?"
Aaron tidak menjawab, dia hanya memeluk Azzura, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aaron tidak akan membiarkan Azzura terluka. Dia akan menjaga wanitanya meskipun itu harus membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Terima kasih Baby!"
"Hmmm. Aku yang berterima kasih Tuan. Jika kau tidak memungut ku, aku tidak mungkin bertahan sampai sekarang!"
"Jangan berbicara seperti itu, kau bukan barang, kenapa aku harus memungut mu. Tuhan sudah memberikan garis kehidupan kepada kita. Ini adalah takdir. Dan aku percaya kalau kau adalah takdir terbaik yang Tuhan berikan untuk ku dan juga semua orang yang ada di sekeliling ku."
****
"Tuan apa yang sedang kau lakukan?" Azzura memutar bola mata ketika Aaron memindai penampilannya seperti mesin scanner. Dia menatap Azzura sembari mengusap dagu dengan wajah bingung.
"Berputar lah!"
Azzura pun berputar meskipun dia masih belum tahu apa maksud dan tujuan suaminya.
"Eum, ini terlalu pendek sayang, sebaiknya kau ganti yang lain, kalau enggak, pakai jins saja. Biarkan dress-dress itu kau pakai ketika sedang bersama ku saja. Hari ini aku ingin membawa mu ke suatu tempat. Beck dan Bert juga akan ikut."
Azzura menghembuskan napas kasar, dia pergi dari hadapan Aaron hendak mengganti pakaiannya. Azzura senang-senang saja kalau Aaron meminta dua untuk memakai pakaian yang agak bersahabat dengannya. Lagipula dress-dress itu juga sedikit membuatnya kesulitan bergerak.
"Tuan, sebenarnya kau ingin membawa ku kemana?" Azzura mendongak menatap suaminya penuh selidik.
"Nanti kau juga akan tahu!"
Laki-laki itu menggenggam tangan Azzura, membawa istri cantiknya keluar dari kamar dan mulai memainkan peran orang buta seperti biasanya.
"Hati ini ikuti lokasi yang sudah aku berikan padamu Beck!"
"Baik Tuan!"
Azzura mengusap kepala Rubby dengan mata yang fokus menatap keluar jendela mobil. Bibirnya menyunggingkan senyum. Andai saja dia bisa meminta kedua orang tuanya untuk kembali, Azzura pasti akan melakukan itu. Kebahagiaannya akan lengkap, dan dia juga bisa melihat kedua orangtuanya hidup dalam kemewahan. Biarpun tidak lama, Azzura juga ingin melihat orangtuanya bahagia tanpa kesusahan ekonomi.
"Ayah, Ibu, Ara sudah bahagia di sini Bu. Ara sudah tidak kesulitan, ada orang baik yang menyayangi Ara, Ara sudah tidak harus bekerja sebagai kuli panggul lagi. Dan yang paling penting, sudah tidak ada orang yang berani merendahkan Ara, Ayah. Disini Ara bisa melanjutkan pendidikan Ara, Ara punya teman baru. Kalian harus bahagia di sana. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali. Ara sayang kalian, doakan Ara agar Ara dan suami Ara bisa melewati kehidupan kami dengan baik. Terima kasih karena telah mengajarkan Ara untuk menjadi orang baik. Ara sayang kalian!"
__ADS_1
"Sayang!"
Azzura mengusap kasar sudut matanya. "Iya Kak!"
Aaron mengusap pucuk kepala istrinya. "Ada apa? Kenapa mukanya sedih begitu hmmm. Ada sedang kau pikirkan?"
Azzura menggeleng. Dia membenamkan kepalanya di dada sang suami, meremas tangan besar suaminya sembari dan sesekali dia mengusap urat-urat byang menyumbul di atas punggung tangan suaminya itu.
"Kak, nanti sore aku mau ketemu Bang Hugo, kita pergi bersama boleh?" Azzura mendongak menatap wajah suaminya. Satu hal yang dia tahu tentang Aaron, tidak boleh bersikap keras di depan suaminya ini. Semakin Azzura manja, Aaron akan semakin takluk padanya. Laki-laki ini tidak takut di pukul tapi dia lebih takut jika melihat Azzura sedih. Aneh bukan, tapi begitulah suaminya.
*Jangan iri yaðŸ¤*
"Baiklah, kita akan pergi ke sana, aku juga ada beberapa hal yang harus dibicarakan dengan teman ku itu."
"Really?"
"Hmmm, tentu saja. Tapi ada syaratnya."
"Apa?" tanya Azzura antusias.
Beck menghembuskan napas pelan. Dia tahu apa yang akan diminta Aaron pada wanita di sampingnya. Sebagai orang yang sudah menemani Aaron cukup lama, dia tahu kalau Aaron tidak pernah bersentuhan dengan wanita, dan itu juga yang membuat kabar burung jika Aaron impoten tersebar di khalayak publik. Dan karena itu juga Aaron dan ayahnya membuat kesepakatan dengan keluarga Gardenia.
"Ini!" Aaron menunduk mendekatkan bibirnya ke bibir Azzura.
"Sekarang?" tanya Azzura melirik Beck yang ada di depan juga Rubby yang ada di pangkuan.
"Anggap mereka makhluk halus Sayang!"
"Tapi ...!"
"Mau atau tidak?"
__ADS_1
"Eummmm ... ba-baiklah Kak!"