
Azzura tertawa seraya memakan es krim yang dibawakan oleh Bert. Saking santainya, wanita itu duduk di atas punggung orang yang tadi ingin menghajarnya. Sementara sisa orang-orang yang lain sedang bersujud dengan kepala tertunduk. Wajah mereka habis babak belur, bahkan ada beberapa yang sampai kencing di celana karena apa yang Azzura perbuat pada mereka.
"Kalian ingin aku lempar seperti dia?" tanya Azzura pada orang-orang yang tertunduk, dia melirik salah satu baji ngan yang tersangkut di atas pohon. Senyumannya semakin melebar tat kala orang-orang itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan ini? Apa aku memiliki musuh? Aku rasa tidak."
"Maafkan saya Bos. Kami tidak bisa mengatakan apapun. Kami juga tidak tahu siapa yang menyuruh kami."
"What?" Azzura mengerutkan dahi mendengar jawaban tidak masuk akal yang orang-orang itu katakan. "Kau masih berusaha untuk mengelabui ku hah? Kau pikir karena aku perempuan, aku akan bersikap lembek. No! Aku tidak akan mengasihani kalian."
Azzura memberikan es krim yang ada di tangannya pada Raina, sedang dia ... dia berjalan ke arah Bert, dengan gerakan cepat Azzura mengambil pistol yang ada di saku jas yang laki-laki itu kenakan.
"Nyonya!" pekik Bert ingin merebut kembali pistol yang ada di tangan Azzura namun wanita itu dengan sigap menyembunyikan pistolnya.
"Jangan menggangguku Bert. Aku sedang tidak ingin bermain-main dengan mu."
Bert memejamkan mata. Laki-laki itu bingung harus melakukan apa, dia hanya tidak ingin Azzura mengotori tangannya. "Biarkan aku yang melakukan itu Nyonya."
"Apa aku meminta mu? Tidak usah melewati batas Bert!"
Azzura meninggalkan Bert. Kini dia berdiri di samping salah satu orang yang tadi hendak menyerangnya. Azzura mengarahkan kepala pistol yang dia pegang ke kepala orang tersebut.
"Kalian ingin aku pecahkan kepala kalian satu per satu atau kalian katakan siapa orang yang telah memerintahkan kalian untuk melakukan ini?"
Pria itu bungkam. Tubuhnya bergetar, namun dia tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Kami bersumpah. Kami ini hanya kelompok kecil yang bersatu atas perintah dari bos anonim. Kami hanya menerima telpon. Kami tidak tahu yang menyuruh kami siapa."
"Kalian benar-benar menjengkelkan."
__ADS_1
Azzura menarik pelatuknya. Dan ...
"Azzura!"
Azzura langsung menoleh begitu dia mendengar sesuatu. Wanita cantik itu mengubah raut wajahnya seketika. Binar di matanya membuat Azzura terlihat sangat berbeda dengan Azzura yang tadi. Seolah memiliki dua kepribadian, Azzura tersenyum cerah ke arah suaminya. Dia melemparkan pistol kepada Bert seraya berlari dan langsung menghambur ke pelukan Aaron.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Aaron dengan wajah serius. "Apa kau baik-baik saja?"
Azzura mengangguk. Wanita itu kembali memeluk Aaron seperti seorang bocah yang memeluk ayahnya setelah bertahun-tahun tidak bertemu. "Aku baik-baik saja Kak, aku hanya sedang bermain dengannya."
"Bermain? Dengan pistol?"
Anggukan kembali terlihat. "Dengarkan aku Sayang, jangan kotori tangan mu dengan hal-hal seperti ini. Kau memiliki Bert, biarkan dia yang menghabisi orang-orang itu untuk mu."
Azzura menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan membunuh mereka. Jangan bunuh mereka Kak. Mereka belum mengatakan apapun."
"Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau terluka." Aaron berbisik karena dia tidak ingin orang-orang itu curiga.
Azzura sudah sangat ingin menjawab, namun ternyata Aaron bergerak lebih cepat.
"Orang-orang itu akan ada yang mengurus. Ikutlah pulang bersama ku!"
Azzura mau tidak mau menurut. Dia melirik ke arah Bert dan Raina, Bert yang menerima sinyal dari Azzura pun mengangguk mengiyakan. Dan setelah Azzura masuk ke dalam mobil suaminya, segerombolan orang yang dia yakini sebagai anak buah dari sang suami membawa orang-orang yang sedang berlutut ke mobil-mobil yang sudah Beck siapkan.
"Jalan Beck!"
"Baik Tuan!"
"Di mobil ada kotak P3K kan? Jangan bilang tidak ada."
__ADS_1
"Ini Tuan!"
Azzura menghela napas. Jika Beck mengatakan kalau dia tidak memiliki kotak P3K. Aaron pasti akan menghukum Beck habis-habisan. "Kenapa kau bisa ada di sini Kak?"
"Apa yang tidak bisa aku lakukan, kenapa aku tidak bisa menemukan mu? Kau itu semakin nakal Ara. Bagaimana kalau luka mu lebih parah dari ini?"
Bukannya tersinggung Azzura malah tersenyum, melihat Aaron mengobatinya sembari mengoceh, seperti sebuah Dejavu yang membuat Azzura teringat akan sosok ayah dan ibunya yang sudah meninggal. Apa yang Aaron lakukan persis seperti apa yang selalu orang tuanya lakukan saat Azzura sedang sakit atau terluka.
Sepasang mata Aaron membola ketika jemari lentik Azzura menangkup wajahnya, mencium bibirnya dengan gerakan halus nan lembut, debaran jantungnya terus terpacu seiring dengan terpejamnya mata Aaron, salep yang hendak dia oleskan pada luka sang istri dia letakan kembali. Satu tangannya menarik pinggang Azzura, sementara satu tangannya lagi dia gunakan untuk menahan tengkuk sang istri ketika istri kecilnya itu hendak menyudahi pangutannya.
Di depan sana, Beck berusaha mati-matian untuk tidak bereaksi. Meskipun sekujur tubuhnya bergetar, Beck mencoba untuk tetap tenang. Sesekali dia melotot lantaran kerongkongan nya yang kering seperti akan mengeluarkan sura. Pemandangan seperti ini memang sudah sering terjadi. Namun baru sekarang Beck melihat Azzura yang memulai duluan.
"Abaikan Beck. Abaikan mereka yang tidak berakhlak. Kaum jomblo seperti mu memang pantas diperlakukan seperti ini."
Pada akhirnya Beck bisa bernapas lega. Orang-orang yang sejak tadi membangunkan singa tidur dalam dirinya sudah turun dari mobil. Mereka berdua memang terlihat sangat serasi. Aaron yang kejam dan berdarah dingin, disandingkan dengan Azzura yang ceria, sedikit kejam namun masih memiliki sedikit nurani.
"Beck!"
"Iya Tuan!"
"Urus orang-orang itu. Lakukan apapun yang bisa kau lakukan. Kau sudah tahu cara kerja ku seperti apa. Dan, apapun yang bisa kau ambil untuk dijadikan petunjuk, jangan ragu untuk mengambilnya meskipun kau harus memotong tangan mereka."
"Baik Tuan!"
"Hei!"
Azzura menepuk dada suaminya. "Kenapa harus sekejam ini. Takut-takuti saja mereka. Itu juga sudah cukup. Tidak harus memotong apapun. Kau itu orang baik Kak!"
"Seandainya mereka tidak mengganggu mu. Aku tidak akan terlalu menganggap serius masalah ini. Mungkin hanya akan membuat mereka lumpuh untuk beberapa waktu. Namun jika mereka sudah berani menyentuh mu. Mengirim mereka ke neraka pun aku sanggup sayang!"
__ADS_1