Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
73. Dia Kembali


__ADS_3

Aaron masih setia mendekap tubuh istrinya di kursi tunggu. Mereka masih menunggu ruang operasi terbuka. Aaron tak henti-hentinya mengusap jemari mungil dalam genggamannya berusaha untuk menenangkan Azzura dan mencoba untuk mengisyaratkan jika Robert akan baik-baik saja.


Selama beberapa bulan hidup bersama dengan Azzura, Aaron tahu seberapa kuat istrinya, sepertinya dia belum pernah melihat Azzura menangis, tapi hari ini, gadis ini berubah menjadi gadis normal. Aaron merasa dia sangat beruntung karena memiliki Azzura, paket komplit yang tidak akan pernah dia temukan dimanapun, selain cantik, wanitanya pandai menjaga diri, pandai memasak dan juga sangat menyayangi keluarganya. Padahal, Aaron tidak pernah mengharapkan itu semua. Memang, yang membuat Aaron jatuh cinta untuk pertama kalinya adalah wajah cantik Azzura, jadi jika wanita ini tidak pandai dalam hal lain asalkan wanita ini mencintainya dia akan menerima Azzura dengan segenap jiwa dan raga.


"Sayang ...!"


Aaron mulai berbicara karena sejak tadi mereka hanya diam. "Kau belum makan kan? Makan dulu ya? Mau di beliin sesuatu gak?"


Azzura menggelengkan kepala. Dia masih ingin menunggu kabar dari dokter, Azzura tidak boleh pergi sebelum dia memastikan kalau ayah mertuanya baik-baik saja.


"Kak!"


Azzura mendongak, dia menatap Aaron dengan mata yang merah dan sedikit bengkak karena terus menangis.


"Iya Sayang, ada apa?"


"Nanti kita tinggal sama Papa dulu sampai Papa sembuh gak papa kan? Ara pengen rawat Papa, boleh kan?"


Aaron tersenyum kecil, dia mengusap surai coklat kehitaman milik sang istri kemudian mengecup kening istrinya sekilas.


"Jika itu bisa membuatmu lebih tenang, kita akan tinggal di rumah Papa untuk sementara. Jadi jangan sedih lagi hmm!"


Gadis itu tersenyum hangat ke arah suaminya. Dia kembali memeluk Aaron erat seraya memejamkan mata, dalam hati Azzura terus mengucapkan kalimat-kalimat doa agar ayah mertuanya selamat dan dia bisa sedikit berbakti kepadanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan itu, Azzura dan Aaron refleks berdiri, mereka menghampiri sang dokter dengan wajah yang masih sangat khawatir.


"Bagaimana keadaan ayah saya Dok?"


Aaron membuat pertanyaan lebih dulu.


"Syukurlah operasinya berjalan lancar Tuan, kita sedang menyiapkan ruang observasi untuk beliau. Selama beberapa jam ini, tidak boleh di jenguk dulu ya!"


Baik Azzura maupun Aaron tersenyum, mereka merasa sangat bahagia untuk hal ini, meskipun masih belum jelas Robert bisa melewati masa kritis setelah operasi atau tidak, tapi mendengar operasinya berjalan lancar saja mereka sudah sangat bahagia.


"Terima kasih Dok. Saya akan segera mengurus semuanya," ucap Aaron sedikit membungkuk ke arah dokter itu.


"Baiklah, saya permisi dulu!"


Azzura membungkuk dalam ke arah dokter itu. Dia kembali berdiri tegak namun tiba-tiba badannya terhuyung, hampir saja dia terjatuh jika Aaron tidak menahan tubuhnya.


Azzura mengangguk dalam gendongan suaminya, dia tidak mau membantah lagi karena memang tubuhnya sudah sangat lemas, cacing-cacing di perutnya sudah banyak yang berdemo. Azzura harus segera mengisi ulang energinya.


"Tuan!"


Beck dan Bert yang baru ingin menemui Aaron dan Azzura buru-buru menghampiri majikannya.


"Nyonya, nyonya Azzura kenapa Tuan?"

__ADS_1


"Dia baik-baik saja," jawab Aaron. "Bert, tolong pergi ke kantin rumah sakit, siapkan satu meja dan pesankan makanan terbaik di rumah sakit ini. Dan untuk kau Beck, urus segala keperluan Papa. Aku titip Papa padamu sebentar!"


Beck dan Bert mengangguk. Mereka berdua langsung berlari berlawanan arah. Sedangkan Aaron terlihat sangat santai. Saking santainya dia sampai tidak memperdulikan tatapan para perawat dan juga beberapa keluarga pasein yang melihat iri kepada Azzura dalam gendongannya.


"Silakan Tuan!"


Bert menarik kan kursi untuk Azzura, Aaron pun menurunkan istrinya di kursi yang sudah Bert siapkan.


"Ini ada sup daging merah, dengan beberapa sayuran. Katanya hanya ini menu yang paling enak hari ini Tuan, apa tidak apa-apa?"


Bukannya menjawab, Aaron malah menatap istrinya dan memberikan pertanyaan lain kepada sang istri.


"Apakah ini cocok dengan selera mu, By, kalau tidak suka, kita pergi ke restoran saja!"


Azzura menggelengkan kepala, dia langsung mengambil sendok kemudian menyuapkan nasi dan juga supaya ke dalam mulut.


"Ini enak. Kakak makanlah! Kau juga makan Bert!"


Aaron tersenyum, dia memberikan isyarat kepada Bert untuk melakukan apa yang Azzura minta, dan mau tidak mau, Bert pun ikut memesan makanan meskipun harus duduk di meja yang berbeda karena dia tidak enak kalau harus duduk di meja yang sama dengan majikannya.


"Kak!"


"Hmmm, kenapa?"

__ADS_1


"Kau tahu, ... Gardenia kembali berulah!"


"What?"


__ADS_2