
Beck dan Bert hanya menunduk saat melihat Aaron terus mondar mandir seperti sebuah strikaan di binatu. Tidak ada yang dia ucapkan. Laki-laki itu bungkam namun Beck dan Bert tahu jika saat ini Aaron sedang gelisah. Tidak biasanya bos mereka bertingkah seperti ini. Jika tidak ada yang mendesak.
"Beck, Bert!"
"Iya Tuan!"
Kedua laki-laki itu terperanjat saat Aaron memanggil nama mereka dan berhenti bergerak.
"Kenapa kalian tidak bilang jika Azzura menginginkan pemberkatan pernikahan. Pantas saja, aku sudah memberikan dia banyak aset pun dia masih menolak ku. Kalian benar-benar membuat ku malu."
Beck dan Bert membungkuk dalam. Mereka juga tidak tahu jika majikan mereka menginginkan pemberkatan, siapa suruh malah kabur di hari pernikahan. Alhasil ya jadilah seperti ini. Lagipula kenapa Aaron harus menyalahkan mereka, Aaron yang paling tahu bagaimana sifat istrinya. Kenapa malah jadi Bert dan Beck yang kena. Benar-benar menyebalkan bukan, tapi ya mau bagaimana lagi, Aaron adalah majikan mereka tentu saja mereka harus tetap tunduk.
"Begini saja. Sekarang Papa masih di rumah sakit, lusa. Aku ingin lusa semua persiapan harus sudah selesai. Aku ingin pernikahan paling mewah dan paling megah di kota ini. Satu lagi, undang semua mahasiswa yang mengenal istri ku. Terutama bajingan itu. Jangan membiarkan dia merasa jika dia memiliki kesempatan."
Beck memejamkan mata, sungguh. Jika saja Aaron memberikan waktu satu Minggu, mungkin tidak akan terlalu sulit, tapi jika dua hari, persiapan apa yang bisa dilakukan dalam waktu sesingkat itu. Berapa puluh WO yang harus mereka pekerjakan untuk memenuhi keinginan bosnya ini.
"Apa waktunya tidak terlalu mepet, Tuan?" tanya Beck yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aaron. Laki-laki itu kembali menunduk, menyembunyikan ketakutannya.
"Baik Tuan, lusa. Akan kami usahakan."
"Bagus. Aku tidak akan mengganggu mu. Sekarang aku akan pergi ke rumah sakit. Berikan kunci mobil sport kesayangan ku, Bert!"
"Baik Tuan!"
Bert berlari untuk mengambil apa yang Aaron inginkan, belum sempat dia memberikan kunci itu. Mereka semua di buat terpana akan sosok Azzura yang baru turun dari lantai atas. Wanita itu benar-benar sangat cantik. Anjing kecil mengekor di belakangnya.
"Tutup mulut kalian!"
Beck dan Bert bukan hanya menutup mulut mereka. Namun mereka juga berbalik karena tidak ingin bosnya yang pencemburu mengamuk.
"Kau benar-benar sangat cantik, Baby. Apa kau manusia atau bidadari yang turun dari kayangan?"
Azzura terkekeh kecil. Ya Tuhan, jantungnya berdegup tak karuan karena menerima pujian seperti itu. Mungkin suaminya ini hanya sedang menggombal, tapi entah kenapa Azzura merasa sangat bahagia. Laki-laki ini selalu bersikap cuek, dingin dan seenaknya. Namun tiba-tiba dia bermulut manis.
"Aku istrimu Kak, kakak ini bagaimana."
__ADS_1
Azzura sedikit tersentak saat Aaron menarik pinggangnya tiba-tiba. Wanita itu melirik kanan kiri. Semua maid dan juga penjaga di rumah itu sedang melirik ke arah mereka.
"Kakak, lepaskan aku. Malu, Kakak tidak lihat mereka semua sedang menatap kita."
Aaron menggelengkan kepala. "Kenapa harus malu. Kau adalah istri ku."
Cup!
Para maid di rumah itu memekik tertahan. Bos mereka ini ternyata sangat nakal jika matanya sudah bisa melihat seperti sekarang. Padahal, sebelum ini dia sangat cuek, mereka pun tahu betul bagaimana sikap dingin Aaron kepada istrinya.
"Sudah ikh, kita berangkat sekarang aja!"
"Siap Tuan Putri."
Azzura kembali menggelengkan kepala. Dia mendorong dada suaminya untuk menjauh. Meskipun orang-orang itu bekerja untuk suaminya, tapi tetap saja, mereka di gaji untuk bekerja, bukan untuk menyaksikan kemesraan mereka.
"Bert!"
"Iya Tuan!"
"Kakak mau bawa mobil sendiri?" Azzura menatap Aaron dengan mata memincing.
"Kenapa? Kau takut aku membawa mu ke akhirat hah?"
"Eishhhhhhh. Bukan seperti itu. Tapi kan Kakak!"
"Sudah, masuk saja dulu. Kau tidak akan menyesal karena mendapatkan pelayanan VVIP dari orang nomor 1 di kota ini. Aku jamin."
Azzura tersenyum, dia menurut saat Aaron mempersilakannya untuk duduk di samping kemudi. Pasangan ini benar-benar pasangan yang sempurna. Tidak ada celah di antara mereka berdua yang akan membuat mereka terlihat kekurangan sesuatu.
"Aku bantu!"
Aaron mencondongkan tubuhnya, dia menarik sit belt yang akan dikenakan oleh Azzura, kemudian menguncinya.
"Apa kau benar-benar suamiku?"
__ADS_1
Lagi-lagi tingkah Aaron ini membuat Azzura curiga. "Kau tidak selingkuh kan?"
"Uhukkk!"
Aaron membulatkan mata menatap istrinya tidak percaya. Dia hanya berusaha menjadi suami yang baik. Kenapa malah dituduh melakukan hal yang tidak-tidak.
"Aku tidak selingkuh Ara. Kenapa kau tega menuduhku seperti itu?"
Azzura mengangkat kedua bahunya acuh. "Aku hanya bertanya Kak, soalnya Kakak terlalu baik hari ini."
"Astaga. Kau ini benar-benar!"
....
Mobil sport mewah itu berhenti di depan rumah sakit terbesar di kota tersebut. Banyak pasangan mata dibuat terpana karena mereka bisa melihat mobil mewah edisi terbatas di depan mata. Kilau dari mobil itu membuat mata mereka berbinar.
Saat-saat mendebarkan terjadi, pintu mobil sport itu terbuka, sebuah kaki muncul, ya Tuhan, baru kakinya yang muncul tapi jantung para wanita yang melihat kejadian itu sudah berdebar sangat kencang.
"Wuahhhh. Ternyata bukan cuma kakinya yang berkarisma. Wajahnya juga sangat tampan."
Para wanita itu semakin menggila. Namun, ketika Aaron berjalan mengitari mobil, hati mereka mulai tidak tenang, mereka khawatir jika apa yang mereka khawatirkan terjadi.
"Yahhh ... udah ada pawang. Hancur sudah harapan kita Guys."
Azzura tersenyum saat menerima uluran tangan suaminya.
"Terima kasih."
"Hmmm. Apapun untuk mu, Baby!"
Sepasang suami istri itu masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah pasti. Terkadang mereka akan mengangguk saat melihat orang yang menyapa mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Papa!"
__ADS_1
Wajah Azzura berbinar ketika membuka pintu ruang rawat mertuanya. Begitupun dengan Aaron. Namun ... saat melihat orang-orang yang ada di ruangan itu. Senyum di bibir Azzura lenyap begitu saja.