
"Apa kau serius ingin mengajari mereka ilmu bela diri?" tanya Raina sedikit berbisik sembari melirik keempat laki-laki yang sedang memesan makanan di kantin kampus siang itu.
"Bukan aku yang mengajari mereka. Semuanya di ambil alih suamiku. Mana bisa aku berdekatan dengan laki-laki lain. Bisa-bisa aku didiskualifikasi olehnya."
Raina tertawa mendengar gerutuan Azzura. Sebenarnya Rania cukup iri melihat dan memperhatikan bagaimana Aaron sangat mencintai wanita yang kini ada di depannya. Kehidupan mereka terlalu berbeda. Rania yang hanya orang miskin dan tidak memiliki kemampuan apapun selain otak yang cerdas merasa insecure. Azzura seperti memiliki segalanya. Wajah yang cantik, tubuh yang ideal, kekuatan super. Sekalipun dia tidak memiliki Aaron, Rania yakin jika Azzura akan berhasil dengan hidupnya.
"Ara!"
Azzura dan Raina menoleh saat nama itu di sebut, keduanya diam tidak mengucapkan apapun dan hanya menatap orang itu dengan tatapan bingung.
"Akh, aku ingin bergabung di sini. Bolehkah?" Zhan menatap Azzura penuh harap. Kedua wanita itu saling menatap, Azzura melihat ke arah Bert lalu mempersilakan Zhan untuk duduk.
"Aku rasa ini masih cukup luas," ucap Azzura, dia sedikit bergeser, tidak ingin membuat masalah yang nantinya malah akan semakin merunyamkan keadaan.
"Bos. Ini makanan yang Bos mau, kita yang traktir." Baron menaruh semangkuk mie dengan toping irisan daging merah cukup banyak.
"Cih, aku bukan orang tidak mampu Baron. Kau pesan aja apa yang kalian mau, nanti aku yang bayar!"
"Wuahhhh. Seharusnya kita juga dapat dong!"
"Iya nih. Sesekali traktir kita-kita makan."
"Terserah kalian saja," sahut Azzura. "Kalian bebas memesan apa yang kalian mau. Nanti biar aku yang bayar."
Seisi kantin mendadak heboh. Mereka semua berseru dengan sangat senang karena Azzura mau mentraktir mereka makan siang, terlebih, tidaka da batasan untuk mereka. Semua orang bebeas memesan apapun dengan jumlah yang mereka inginkan.
"Apa kau tidak akan rugi?" tanya Rania karena orang-orang yang ada di kantin kampus itu sangat banyak.
"Sudahlah, biar Bert yang mengurus semua ini."
"Aku?" gumam Bert dalam hati. Dia melongo seperti orang bodoh. Sebenarnya Aaron juga tidak akan marah karena yang memakai uangnya adalah istri kesayangannya sendiri. Tapi bagaimana caranya dia akan menjelaskan kalau Azzura mentraktir banyak mahasiswi dan mahasiswa juga.
"Apa kau baik-baik saja Azzura?" tanya Zhan tiba-tiba.
__ADS_1
"Memangnya aku kenapa?"
"Aku tahu mungkin ini pertanyaan agak aneh, tapi di Baron dan teman-temannya itu sudah cukup terkenal di sini. Mereka bukan anak-anak baik. Bagaimana bisa kalian berteman? Ini agak aneh."
Azzura tersenyum mendengar pertanyaan yang Zhan berikan padanya. "Aku tidak apa-apa Zhan. Mereka mungkin sempat kehilangan arah!" Azzura melirik Raina sekilas. "Tapi sekarang mereka sudah lebih baik, ada hal yang sangat mereka inginkan. Mereka tidak akan bisa menyakiti ku."
Terlihat anggukan dari Zhan. Sebenarnya dia masih sangat penasaran. Tapi kalau dia terus memaksa meminta Azzura untuk menjelaskan semuanya, Azzura pasti akan risih.
"Syukurlah kalau begitu. Sebaiknya kau berhati-hati juga. Mereka sudah memiliki banyak musuh. Jangan sampai kau ikut terdampak karena berhubungan dengan orang itu."
"Aku mengerti Zhan."
Zhan tersenyum ke arah Azzura, menatap wajah wanita cantik itu dari samping cukup lama. Baik Bert dan Rania jelas tahu tatapan apa yang Zhan tunjukan. Sebuah ketertarikan yang berkembang menjadi suka dan sepertinya akan berubah jadi cinta.
"Kau sangat beruntung Azzura!" gumam Rania dalam hati. Laki-laki paling populer di kampus yang tidak pernah berbaur dengan banyak wanita dengan baiknya mau menghawatirkan Azzura. Ini sangat luar biasa bukan.
Mereka masih terus melanjutkan makan siang mereka. Bercanda dan tertawa, mereka sama sekali tidak menyadari jika di pojok ruangan ada seseorang yang sedang mengepalkan tangan sembari menatap Azzura penuh kebencian.
....
"Kenapa berhenti Bert?" tanya Azzura. Dia yakin kalau mereka belum sampai di rumah Rania, perjalanan masih cukup jauh karena mereka pun masih ada di pertengahan jalan.
"Ada sebuah mobil yang menghadang mobil kita Nyonya!"
"What?"
Azzura dan Rania refleks memajukan tubuh mereka untuk melihat mobil yang Bert maksud.
"Siapa mereka?" tanya Rania bingung.
"Putar balik saja Bert!"
Brukkkkk!
__ADS_1
"Akhhh!"
Rania dan Azzura memekik ketika mobil yang mereka tumpangi ada yang menabrak dari belakang.
"Ya Tuhan, pelipis mu berdarah Azzura!"
Rania terlihat sangat panik, namun tidak dengan Azzura yang begitu santai tanpa ekspresi.
"Apa mereka orang gila Bert?"
"Aku tidak yakin Nyonya. Sebaiknya Nyonya tunggu di sini. Aku akan melihat mereka dulu!"
"No!"
Brakkkkk!
Lagi-lagi mobil itu di tambak dari dua arah. Azzura yang sudah tidak tahan keluar dari mobil meskipun Bert sudah mencegahnya.
"Bangs**. Kalau mau nyerang jangan gini caranya."
Segerombolan orang muncul membawa alat pemukul, orang-orang itu berjumlah sangat banyak, saking banyaknya, Azzura malah terlihat seperti sebutir gula yang dikerumuni semut.
Blamm!
"Diam saja di dalam Bert!" Azzura menahan pintu mobil kuat hingga pintu itu rusak dan Bert pun tidak bisa membuka pintunya dari dalam.
"Nyonya. Jangan seperti ini. Jangan membahayakan dirimu. Nyonya!"
Azzura tersenyum menyeringai melihat kesangaran di wajah orang-orang itu.
"Serangggg!"
Puluhan orang berlari hendak menyerang Azzura. Tangan mereka sudah terayun, mengarahkan tongkat mereka ke arah wanita cantik yang sekarang sedang tersenyum menyeringai.
__ADS_1