
"Kenapa kau melakukan ini prof Li?"
Seorang laki-laki yang usianya lebih tua dari prof Li mendekati meja dosen. Ia menatap prof Li dengan tatapan tidak suka, sangat ketara jika di matanya ada kilatan amarah.
"Maaf Mr. Austin. Sebenarnya apa yang Anda maksud?" tanya prof Li yang memang tidak mengetahui apapun. Ia melirik Azzura sekilas namun kembali fokus pada rektor di depannya.
"Kenapa kau membiarkan dia melakukan hal-hal seperti ini? Apa kau mau aku pecat?"
Prof Li dan semua orang yang ada di sana melongo mendengar ancaman dari rektor bengis di kampus tersebut. Banyak tanya yang mencuat, apa hubungan rektor dan Azzura, sebenarnya Azzura ini siapa? Dan apakah Azzura adalah harta milik kampus ini yang sengaja disembunyikan. Namun untuk alasan apa dan kenapa.
"Azzura! Turun sekarang, jangan sampai kau terluka Nak. Yuk turun. Jangan melakukan hal seperti ini. Kau bisa jatuh nanti!"
Azzura mengangkat bahunya sembari menipiskan bibir. Tidak salah lagi, ini pasti adalah pekerjaan suaminya. Dan yang melapor adalah Bert. Azzura senang karena Aaron sangat memperhatikannya. Dan ini juga merupakan perlakuan tidak adil yang disengaja. Tapi kalau harus melakukan hal sejauh ini, orang-orang satu kampus pasti akan menganggapnya penguasa, dan dia bisa kuliah disini pun bukan karena kemampuannya namun karena bantuan orang dalam.
"Ikut ke ruangan ku prof Li!"
Li mengikuti Austin dari belakang. Ia kembali melirik Azzura dengan tatapan tidak sukanya. Orang yang di tatap tentu saja tidak perduli, dia lebih memilih duduk, sebuah senyuman tipis terukir tat kala orang-orang yang tadi duduk di samping Azzura mulai bergeser dan menjauh, mereka semua seperti takut akan sesuatu, mungkin mereka akan berpikir jika Azzura ini membawa ketidakberuntungan. Prof Li saja mendapatkan teguran dari rektor karena meminta Azzura menghapus white board. Apalagi mereka yang hanya seorang mahasiswa. Habislah sudah.
"Jangan pernah mendekati wanita itu Bro. Sepertinya dia bukan orang yang bisa kita sentuh."
"Cih, sekali lonteh tetap saja lonteh. Dia pasti adalah simpanan rektor di kampus ini. Kalau tidak, mana mungkin rektor sangat marah, lagipula dia itu siapa sih, berani-beraninya dia membuat Papa ada dalam masalah. Aku berjanji, aku tidak akan membiarkan dia hidup bebas mulai sekarang."
"Sudah Bert, kita lihat saja, sampai mana mulut kotor itu akan terus mengeluarkan kata-kata sampah. Jangan mengotori tangan mu. Sampah tidak mungkin berakhir di tempat yang mewah. Biarkan saja dia mengoceh, kita tidak harus menjelaskan siapa kita agar orang menghormati kita Bert. Namun satu hal yang harus kau tahu, apapun yang keluar dari mulut kita, itulah kualitas diri kita yang sebenarnya."
Azzura menarik satu ujung bibirnya, Jia Li benar-benar sangat lucu, selain cantik, otaknya sangat kecil sampai dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Memang, memanjakan anak itu wajar, tapi jangan sampai kita salah kaprah dan anak kita malah berakhir seperti orang-orang layaknya Jia Li.
__ADS_1
Brakkkkk!
Li terperanjat ketika Austin menggebrak meja kebanggaannya. Hembusan napas kasar terdengar dengan sangat jelas. Austin hari ini sudah memiliki banyak masalah, di tambah dengan masalah yang Li timbulkan. Kapan dia busa bekerja dengan tenang tanpa hambatan. Sepertinya itu agak sulit.
"Kau, jangan pernah mengacau prof Li. Azzura bukan orang yang bisa kau sentuh. Dia memiliki pendukung yang sangat berpengaruh di kota ini. Dia juga merupakan orang yang selalu mensponsori berbagai kegiatan yang dilakukan kampus kita. Dan asal kau tahu, jika dia marah, kampus ini akan habis, kau dan aku tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan. Kau akan jatuh miskin prof Li."
Li menunduk mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Austin. "Maafkan saya Mr. Tetapi, kalau saya boleh tahu, siapa sebenarnya Azzura ini?"
"Aku tidak bisa memberitahu mu prof Li. Aku sudah mengatakan batasan-batasan yang tidak harus kau lewati. Sekarang kembalilah ke kelas mu. Jangan sampai hal ini terjadi kembali. Aku tidak ingin melihat mu melakukan kebodohan yang bisa merusak reputasi kampus ini. Kau boleh memberikannya tugas jika itu masih berkaitan dengan materi pembelajaran. Namun untuk yang lainnya, jangan pernah menggali kuburan mu sendiri."
Prof Li membungkuk dalam ke arah rektor Austin. Ia mengepalkan kedua tangan merasa jengah dengan tingkah rektornya dan juga tingkah Azzura, harga dirinya terkoyak. Ia dijatuhkan di depan para murid yang seharusnya tunduk padanya.
"Kita lihat saja Azzura, kau atau aku yang akan menang."
****
"Aku sudah bilang jangan sungkan, kita ini sudah menjadi teman. Karena aku tidak memiliki siapapun di sini, aku agak tidak betah, kesepian, dan hanya bisa mengerjai bodyguard pengabdi itu!"
Azzura menoleh kebelakang, melihat Bert yang sedang berdiri mengamati gerak-gerik setiap orang. Seperti sebuah robot yang akan memantau Azzura selama Aaron tidak ada di sampingnya.
"Keluarga mu pasti sangat mencintaimu Ra, kau sampai dikawal seperti ini. Bolehkah jika aku iri?"
Azzura tertawa mendengar penuturan Raina. "Jangan iri kepadaku Rain, aku ini sebenarnya hanya anak buangan, namun seseorang menampungku di rumahnya, aku sangat bersyukur untuk itu. Kasih sayang yang tidak aku dapatkan dari ibuku, bisa aku dapatkan dari orang lain. Sebenarnya, aku tidak terlalu suka di kawal seperti ini. Namun karena aku tahu, dia tidak akan tenang jika aku keluar rumah sendirian, aku hanya bisa pasrah Rain."
Raina mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Memang, jika dia yang ada di posisi Azzura, dia juga akan risih diikuti seperti sekarang. Mereka sudah besar. Beberapa detik kemudian, Raina menggelengkan kepala, sepertinya dia salah, seorang perempuan memang harus memiliki penjaga agar tidak berakhir menyedihkan sepertinya.
__ADS_1
"Apa kau sekarang menjalin hubungan dengan orang itu?" tanya Rain penasaran.
Azzura mengangguk mengiyakan, dia tersenyum, membayangkan apa yang sedang Aaron lakukan tampanya.
"Tuan sedang melakukan riset untuk mencarikan materi pembelajaran terbaik untuk Nyonya!" sahut Bert seolah mengerti akan apa yang sedang Azzura pikirkan.
"Duduklah Bert! Makan siang dulu. Aku tahu kau lapar! Ini perintah!" ucap Azzura cepat karena tidak ingin mendengar alasan apapun dari bodyguardnya tersebut.
"Dia memanggil mu Nyonya. Apakah kekasih mu itu sangat kaya? Lalu, apakah kalian memang akan segera menikah?"
Azzura menggeleng pelan. "Tidak Rain, aku memang sudah menikah dengannya. Namun aku belum melakukan pemberkatan!"
Azzura mengucapakan itu dengan raut wajah yang tidak baik-baik saja. Memang, dia sebenarnya menunggu keputusan Aaron untuk menikahinya sesuai kepercayaan mereka. Namun Azzura bisa apa, tidak mungkin dia terus meminta sementara Aaron terus memberikan banyak hal.
Beck memperhatikan raut wajah Azzura, wanita cantik itu terlihat agak sedih, dia tersenyum namun Bert sangat tahu jika senyum itu adalah senyum yang dipaksakan. Tidak ada ketulusan di sana. Haruskah Bert mengatakan ini kenapa Aaron.
"Kau sudah menikah?" tanya Raina dengan raut wajah terkejut. "Kau menikah muda? Apa boleh?"
"Umurku 19 tahun Raina. Kita seumuran kan? Atau kau lebih muda dariku?"
Raina menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, aku juga sudah 19 tahun, dan sebenarnya aku tinggal 2 tahunan lagi di sini," ucap Raina. " Lalu, apa mungkin kau hamil duluan?"
Uhukkk!
Bert sampai tersedak makan siangnya ketika mendengar pertanyaan nyeleneh dari teman baru Azzura. Apakah mungkin Aaron sudah berhasil membobol gawang wanita garang ini. Tapi jika iya, Bert akan sangat senang karena dia pasti akan mendapatkan tuan-tuan kecil yang sangat lucu.
__ADS_1
"Aku tidak begitu Rain. Suamiku itu sangat baik, dia tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak aku sukai."
"Astaga ... syukurlah kalau begitu."