
Erland Hidden, seorang laki-laki berusia 28 tahun, yang memiliki ambisi untuk merebut semua harta kekayaan milik ayah sambungnya. Erland adalah anak Bora Caitlin, istri kedua tuan Robert atau ibu sambung dari seorang Aaron Robert.
Bora menikah dengan Robert tanpa memberi tahu Robert terlebih dahulu jika dia memiliki seorang anak laki-laki. Saat itu, Bora menitipkan Erland di sebuah panti asuhan namun dia sering mengunjunginya, memberikannya uang dan segala kebutuhan yang Erland perlukan. Bora tidak bisa membawa Erland pergi bersamanya karena Robert mengatakan jika dia tidak ingin menikah dengan wanita yang sudah memiliki anak. Alasannya karena Robert takut jika Bora tidak akan bisa mengurus dan menyayangi Aaron yang saat itu masih berusia 9 tahun. Sudah cukup besar sebenarnya, namun Robert selalu menegaskan jika dia ingin Aaron mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang utuh.
Dengan persyaratan dari Robert, Bora menerima pernikahan itu. Dia rela mengorbankan Erland demi mencapai tujuan yang dia inginkan. Selama ini, Bora memang sangat mencintai Robert. Hanya, ketika Erland sudah dewasa, anak laki-lakinya mulai meminta keadilan. Apapun yang pernah Erland alami, harus dialami juga oleh Aaron. Erland meminta Bora untuk segera melenyapkan Robert, namun Bora belum siap kehilangan suaminya. Meskipun selama ini dia cukup tersiksa karena harus berjauhan dengan Erland, namun cinta yang dia miliki untuk Robert juga tidak bisa diremehkan. Erland selalu memberikannya obat yang dalam waktu kurang dari satu jam bisa bercampur dengan darah dan tidak akan terdeteksi oleh medis. Obat itu adalah obat yang akan menggerogoti tubuh Robert hingga kesehatan laki-laki tua itu semakin lama akan semakin menurun.
Bora terpaksa berbohong kepada Erland jika dia selalu memberikan obat itu dalam dosis yang sudah diberikan oleh Erland, namun lagi-lagi Bora tidak sanggup, dia hanya akan memberikan obat itu sedikit demi sedikit. Memperlambat kematian Robert agar dia bisa lebih lama menemani laki-laki yang sangat dia cintai itu.
"Ma!"
"Iya Sayang!"
Erland mengusap punggung tangan Bora dengan tatapan penuh kasih sayang. Erland memang sangat mencintai Bora. Meskipun Bora sudah membuangnya, Erland tidak perduli. Jika suatu hari nanti Bora meminta Erland untuk melenyapkan nyawanya sendiri pun Erland akan melakukannya dengan senang hati. Namun Erland tahu, Bora tidak akan melakukan itu, dia selalu memenuhi keinginannya meskipun terkadang itu diluar nalar manusia normal.
"Ma, Erland harus pergi. Erland akan kembali saat semua rencana Erland berjalan dengan lancar. Kita akan menguasai rumah dan segala kekayaan milik keluarga Robert. Mama tidak akan menderita lagi. Kita akan tinggal bersama setelah semua ini selesai."
Bora mengangguk mengiyakan. Dia memeluk Erland untuk beberapa saat. "Hati-hati Nak. Jangan sampai para penjaga curiga. Kau ke sini sebagai tangan kanan Aaron. Mereka akan sangat menghormati mu hanya dengan status mu itu Sayang!"
Erland tersenyum miris, kenyataan jika dia dihormati hanya karena status sebagai tangan kanan Aaron membuat harga dirinya luluh lantak. Erland mengecup pipi Bora sebelum dia benar-benar pergi dari rumah itu. Panggilan Tuan? Itu hanya formalitas yang mereka berikan karena Erland pernah melakukan sesuatu yang penting. Robert pernah mengatakan jika dia akan memperlakukan Erland dengan baik karena dia adalah mata untuk Aaron yang sekarang tidak bisa melihat.
****
"Jadi bagaimana? Apa yang akan kita lakukan? Kita tidak mungkin terus membiarkannya berkeliaran di sini bukan?" Azzura bertanya kepada suaminya dengan mulut penuh makanan.
Aaron mengangguk mengerti. Dia bisa saja menarik Erland sekarang, namun jika terlalu tergesa-gesa, Aaron khawatir dia tidak akan bisa mencabut semuanya sampai ke akar. Erland bukan orang biasa, jika dia bertindak sendiri, tidak mungkin jalannya akan bisa semulus ini.
__ADS_1
"Kita lakukan pelan-pelan. Jika semuanya sudah pasti dan kita memiliki bukti, kita akan menarik Erland untuk melakukan permainan yang menyenangkan."
Azzura, Beck dan Bert hanya mengangguk mengiyakan. Mereka tahu, sejak dulu Aaron memang tidak pernah melakukan pekerjaannya dengan tergesa. Lebih baik agak lambat namun semua masalahnya selesai daripada harus di ambil satu per satu namun setiap harinya harus ada kegelisahan.
****
"Kak!"
"Kenapa?" Aaron bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tablet yang sedang dia genggam. Saat ini mereka sudah ada di kamar mereka, Azzura yang duduk di atas karpet karena sedang mengerjakan tugas kuliahnya, sementara Aaron duduk di sofa sedang sibuk melihat berapa banyak uang perusahaan yang telah Erland gelapkan.
"Aku sebenarnya punya teman baru. Dia ingin belajar ilmu bela diri dari ku. Apakah tidak apa-apa?"
Azzura memejamkan mata namun dia berusaha untuk mengintip karena penasaran dengan ekspresi suaminya.
"Kakak!"
"Kakak apa kau tuli?"
Azzura membutlakan mata sembari memukul bibirnya beberapa kali. Sungguh, dia tidak bermaksud mengatai suaminya seperti itu. Azzura hanya tidak sengaja.
"Duduklah!"
Aaron menepuk kedua pahanya setelah menaruh tablet di atas meja.
"Aku menyuruh mu duduk di sini Azzura!"
__ADS_1
Azzura sedikit terkejut karena Aaron tiba-tiba menarik pinggangnya hingga dia yang tadi duduk di samping Aaron kini sudah duduk di atas pangkuan laki-laki itu.
"Si Zhan sudah tidak pernah terdengar dan sekarang kau mau menambah teman baru? Aku tahu apa yang kau lakukan Sayang, mempermainkan mereka, dan membuat mereka melakukan hal-hal konyol. Lebih baik kau serahkan mereka padaku hmm. Aku sendiri yang akan melatih mereka semua."
"Tapi Kak, mereka masih kuliah. Mereka tidak bisa kalau harus tinggal di pulau."
"Mereka bisa mengikuti jadwal mu sayang!"
"Akh, aku mengerti. Aku akan memberitahu mereka sekarang."
Settt!
Bruk!
Azzura kembali duduk di pangkuan Aaron setelah dia berusaha untuk berdiri. Wanita cantik itu mengerejapkan mata beberapa kali saat melihat Aaron menatapnya dan semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Apa kau tidak ingin memberikan ku hadiah Baby!"
Bisikkan Aaron sukses membuat bulu kuduk Azzura berdiri. Dia menatap Aaron dengan wajah bingung nan gugup.
"Tuan aku ... aku belum siap Tuan!" Azzura memejamkan mata saat mengatakan itu karena dia takut Aaron akan marah padanya. Namun beberapa detik kemudian, Azzura kembali membuka mata karena mendengar Aaron tertawa.
"Kau pikir aku mau apa. Kau belum siap untuk masak hmm. Suamimu ini sudah kelaparan Sayang, aku tadi belum makan."
"Ahhhh!"
__ADS_1
Azzura bernapas lega. "Aku akan memasak sekarang Kak!"
Aaron menggelengkan kepala saat melihat Azzura berlari seperti orang yang di kejar-kejar makhluk halus. Dia masih tidak habis pikir, kenapa Azzura selalu mengatakan kalau dia belum siap. Apa yang Beck katakan waktu itu memang benar.