
Aaron masuk ke kamarnya dengan langkah yang sangat pelan. Lampu di kamar itu masih menyala, namun istrinya sudah tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan apapun. Ini memang sudah pagi dan Aaron yakin jika istrinya itu masih tidur. Dia berjalan semakin mendekat ke arah ranjang, bibir seksinya menyunggingkan senyum tat kala melihat Azzura tidur dengan kaki menggantung.
"Kau itu lucu tapi kenapa sangat nakal Azzura?" gumam Aaron melepaskan sepatu sang istri perlahan. Selain sepatu, jaket istrinya pun dia buka, membenarkan posisi sang istri lalu menyelimutinya. Tangan besar Aaron terangkat ingin mengusap kepala Azzura namun ketika jaraknya tinggal beberapa senti lagi, Aaron menarik kembali tangan besar tersebut, meremasnya dan berbalik.
"Jangan pergi!" gumam Azzura. Aaron berbalik, namun istri kecilnya itu masih terpejam. Aaron berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Azzura namun tangan mungil itu ternyata sangat kuat, Aaron sudah sangat lelah, dia hampir tidak tidur karena harus bolak balik China Thailand dan tentu saja karena khawatir kepada Azzura. Dengan gerakan perlahan, Aaron ikut membaringkan dirinya di samping wanita cantik itu, baru ingin memejamkan mata, Azzura sudah mulai nakal lagi, dia naik ke atas tubuh Aaron, memeluk Aaron seolah-olah takut kehilangan laki-laki itu. Kepalanya dia benamkan di atas dada sang suami dan mulai kembali tidur dengan nyaman.
Azzura mungkin merasa sangat nyaman, bau tubuh Aaron dan hangatnya suhu tubuh laki-laki itu membuat tubuhnya semakin rileks. Namun, ini menjadi penyiksaan untuk laki-laki yang sekarang sedang berusaha untuk berpikir positif. Lengan gadis itu sepertinya sudah lebih baik, tapi apa mungkin orang normal akan sembuh dalam waktu secepat ini. Aaron benar-benar tidak mengerti. Tetapi lagi-lagi rasa kantuknya sudah tidak bisa dia tahan. Jika pagi ini dia tidak tidur, mungkin besok Aaron akan tumbang.
****
Azzura mengerejapkan mata beberapa kali, kenapa semalam dia merasa jika tidurnya lebih lama, apa malam berkahir dengan panjang karena Aaron tidak ada bersamanya. Akh, sungguh gila Azzura ini, isi kepalanya hanya Aaron, Aaron, dan Aaron. Padahal Aurora seperti sudah menjadi tameng untuknya agar dia bisa lebih menjaga jarak dengan Aaron, tapi hati dan pikirannya tidak bisa melakukan itu.
"Apa kau tidak ingin bangun?" ujar Aaron dengan suaranya yang sedikit serak. Azzura sontak berdiri dan duduk di atas perut suaminya. Mata Azzura membulat, dia mengucek kelopak itu beberapa kali. Aaron malah bergerak, menjadikan kedua tangan sebagai bantalan untuk kepalanya.
"Tuan!" Azzura bergumam masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia bahkan masih tidak sadar jika lengannya sudah baik-baik saja.
"Apa perutku lebih nyaman dari sofa?" laki-laki itu kembali bersuara. Azzura langsung melompat dari tempat tidur, hampir saja dia tersungkur jika Aaron tidak menarik pinggangnya hingga Azzura kembali terduduk di pinggiran ranjang.
"Azzura. Aku tahu sesuatu tentang mu!" Aaron berbisik di samping telinga Azzura. Aaron ingin memperjelas sesuatu. Menunggu Azzura berbicara seperti sedang menunggu jemuran kering saat sedang hujan deras, tidak akan bisa kering jika hanya menunggu matahari bersinar. Aaron harus mencari cara lain.
Azzura ingin kembali beranjak namun Aaron mempererat pelukan di pinggangnya, dagunya semakin tertancap di dagu Azzura. Laki-laki itu sangat menyukai bau keringat sang istri.
__ADS_1
"Aku tahu kau memiliki kekuatan super Azzura!"
Mata wanita itu membola, dengan gerakan cepat dia melepas pelukan Aaron. "Apa yang kau maksud Tuan?" Azzura menatap Aaron dengan tatapan seolah dia memang kebingungan mendengar penuturan suaminya. Namun Aaron tentu mengerti akan satu hal, jemari kaki gadis itu tidak berhenti bergerak, dia tahu jika Azzura sedang gelisah pasti dia akan melakukan hal itu.
"Jangan pura-pura bodoh Azzura. Aku tahu selama ini kau bisa memukul ratusan orang dalam waktu kurang dari 20 menit, aku juga tahu kalau kau pernah menolongku dari kecelakaan mobil di lampu merah!"
Azzura memutar bola matanya gelisah. Dia menggigit ujung bibirnya. Azzura belum siap untuk mengatakan segalanya. Azzura takut Aaron akan memperlakukannya dengan buruk jika dia menceritakan segalanya pada laki-laki itu sekarang.
"Aku benar-benar tidak mengerti Tuan. Jika kau masih jat lag, lebih baik tidur lagi saja!" Azzura berbalik namun Aaron memanggilnya dan ...
Sretttttt!
Sebuah buku tebal terbang melewati leher Azzura hingga membuat leher itu sedikit tergores.
"Aku tahu kau memiliki kekuatan itu Azzura, kenapa kau diam saja? Refleks mu lebih baik dari refleks ku. Aku tidak bermaksud melukai mu, aku hanya ingin memastikan dan ingin membuat kau menceritakan segalanya padaku." Aaron terus berbicara sembari mengoleskan salep ke leher sang istri kemudian menutupnya dengan plaster.
Azzura tersenyum tipis, namun semakin lama gadis itu tertawa dengan mata berkaca-kaca. Aaron yang sedang meniup leher Azzura mendongak. Dia menatap netra Azzura dalam. Aaron benar-benar merasa bersalah, tapi sumpah demi apapun, dia tidak pernah berniat untuk melukai sang istri.
"Inilah, inilah yang aku takutkan. Memang benar aku memiliki kekuatan super. Dan apa yang kau lakukan setelah tahu aku memiliki kekuatan itu, kau berani berbuat seperti ini Tuan!"
Azzura menepis tangan Aaron. Dia beranjak pergi menuju kamar mandi.
__ADS_1
Brukkkkk!
Aaron mendorong bahu Azzura, mengungkung wanita cantik itu didinding. Urat-urat di tangannya mulai bermunculan, begitupun dengan urat-urat di lehernya. Aaron menghembuskan napas panjang beberapa kali.
"Azzura dengar, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu, Azzura ... aku ...."
"Sudahlah Tuan!" Azzura melepaskan kungkungan tangan suaminya. Karena tidak ada yang perlu dia sembunyikan lagi, Azzura bisa melepaskan diri dengan mudah. "Tidak ada yang perlu Tuan jelaskan. Kita juga tidak memiliki hubungan apapun. Dalam permainan rumah tangga yang kita mainkan, hanya aku yang menaruh harapan padamu Tuan, hanya aku yang mencintaimu. Aku yang bodoh, Tuan tidak perlu menjelaskan apapun karena ini tidak penting." Azzura mendorong dada Aaron, dia berbalik membuka pintu kamar lalu menutupnya.
Tangan gadis itu dengan cekatan menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya. Azzura pikir, didalam dunia novel ini dia bisa mengatur alur sesuka hati. Namun ternyata cinta itu sama, baik di dunia nyata, maupun dunia ciptaan, tidak ada cinta yang bisa dipaksakan.
Brakkkkk! Brakkkkk! Brakkkkk!
"Azzura! Azzura dengarkan aku! Aku benar-benar minta maaf. Aku mohon tunggu sebentar lagi Azzura. Aku tidak ingin mempermainkan perasaan mu. Jika maksud dari kata kejelasan adalah kata-kata pengakuan itu, aku minta maaf. Tolong tunggu sebentar lagi Azzura!"
Azzura menggelengkan kepala, dia menghembuskan napas kasar lagi dan lagi. Mulai sekarang, Azzura akan meyakinkan dirinya sendiri jika dia tidak harus menantikan apapun dari Aaron. Sebelum laki-laki itu tahu mengenai perasaannya sendiri, Azzura tidak akan mendekatinya seperti dulu.
"Arghhhhh!" Aaron menjambak rambutnya frustasi. Dia duduk bersandar pada pintu kamar mandi masih berusaha mengetuk pintu itu meskipun semakin lama ketukannya semakin melemah.
"Aku hanya meminta waktu Azzura!" ....
(Nah kan. Jangan ditiru ya guys, si Aaron ini terlalu banyak mikir, dan ya ... kalau Author jadi Azzura, Author akan melakukan hal yang sama. Menghindar untuk sementara, selama masih tidak ada kepastian. Enak aja mau main gerepe2. Please deh, kucing aja bisa pindah Tuan kalau ada orang lain yang ngelus dan lebih sayang sama dia. Lah elu ... Aaron2. Ntar Author di amuk pembaca lho. ๐คจ)
__ADS_1
Author : Kerjaan Lo sebenarnya apa Rubby! ๐ก
Rubby : Lah, yang bikin Azzura cepet sembuh siapa Thor. Sekate - kate ente ini. ๐