Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
54. Jadilah Teman Ku


__ADS_3

Bughhhhh!


Bughhhhh!


Bughhhhh!


Bughhhhh!


Suara pukulan itu tidak berhenti sampai Azzura benar-benar puas melampiaskan segala amarahnya kepada orang-orang itu. Mereka yang sejak tadi berdiri tegap kini sudah tersungkur dengan wajah babak belur.


"Aku menandai wajah kalian. Jangan sampai aku melihat kalian mengganggu wanita lain di kampus ini. Jika sampai aku melihat kalian mengganggu lagi, aku pasti akan menghajar kalian lebih parah dari ini."


Azzura berbalik kemudian berjalan meninggalkan para lelaki itu, namun ketika dia mengingat sesuatu, langkahnya terhenti. Haluan nya pun kembali berubah.


"Aku ambil ponsel mu. Jika ingin di ambil kembali, aku ada di fakultas ekonomi management. Namaku Azzura!"


Setelah mengambil ponsel itu, Azzura menghampiri gadis yang masih meringkuk sembari berusaha untuk menutupi tubuh bagian depannya. Kancing-kancing kemeja itu sudah menggelinding entah kemana, dan dia juga tidak mungkin mengambilnya lagi. Sekalipun kancing-kancing itu kembali, bagaimana caranya dia akan menyatukan kain kemeja dan kancing-kancing itu.


"Pakai ini dulu!" Azzura melepaskan cardigan yang dia kenakan, sengaja Azzura membalik posisi cardigan itu karena cardigan yang dia kenakan tidak tertutup bagian depannya. "Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu. Kita pergi sekarang."


Mereka berdua keluar dari gudang, Azzura yang memapah sang gadis melirik ke arah para lelaki, ingin rasanya Azzura mengirim para lelaki itu ke penjara, tetapi dia sangat tahu kalau gadis di sampingnya pasti tidak akan setuju.


"Nyonya!"


Bert berlari menghampiri Azzura yang baru keluar dari gudang, napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup tak karuan. Karena tadi dia sempat mengurus beberapa hal, Bert kehilangan Azzura tanpa sengaja. Bersyukur karena Aaron memasang gps tracker pada ponsel gadis itu, jadi Bert bisa menemukannya dengan cepat.


"Kau melakukan kesalahan lagi Bert. Lepaskan jas mu!"


Bert tidak membantah, dia melepaskan jas yang dia kenakan tanpa tau menau apa yang akan Azzura lakukan. Baginya yang keluar dari mulut Azzura adalah sebuah perintah, dia harus melakukan apapun yang Azzura minta.

__ADS_1


"Berikan padaku!"


Bert memberikan jasnya. Ia memperhatikan apa yang Azzura lakukan, wanita cantik didepannya ini memakaikan jasnya pada seorang gadis berkacamata kuda. Gadis itu terlihat sangat lugu dan ... sedikit culun.


"Tolong bawakan kardus itu dan bawa ke ruangan prof. Li. Aku akan pergi ke UKS sebentar. Jangan sampai barang-barang di dalam kardus itu hilang."


Bert mengangguk mengiyakan. Melihat Azzura dan gadis culun itu pergi, ia pun langsung menghampiri kardus yang ada di samping pintu gudang. Bert dengan percaya dirinya mengangkat kardus itu dalam satu kali hentakkan. Namun karena bobot kardus itu tidak terdeteksi sebelumnya, bukannya kardus yang terangkat, malah Bert yang ikut nyungsep.


"Astaga. Apa isi kardus ini!"


Bert kembali berdiri, dia menatap kardus itu dengan tatapan bingung, tangan kanannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal, sementara tangan kirinya berdecak pinggang.


"Nyonya ini benar-benar super hero!"


****


"Aku baik-baik saja. Terima kasih."


Azzura tersenyum sembari mengangguk, ia merapikan rambut wanita itu perlahan. Sentuhan tangan Azzura membuat wanita yang sejak tadi menunduk mendongak. "Aku Raina," gumamnya.


"Aku Azzura, mulai sekarang jadilah teman ku, aku tidak akan membiarkan orang lain mengganggu mu, menyakiti mu atau menghina mu. Kau akan baik-baik saja bersama ku Rain."


"Tapi aku hanya gadis culun yang di benci semua orang, apa kau tidak malu?"


Azzura menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, kenapa aku harus malu, memangnya apa yang salah dengan mu. Aku manusia, kau juga manusia. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Tapi kau itu sangat cantik, modis, dan sepertinya kau adalah orang kaya. Aku ini hanya gadis miskin, aku masuk ke sini karena beasiswa, dan ibuku hanya seorang asisten rumah tangga. Apa kau tidak keberatan untuk itu?"


Belaian tangan Azzura di atas kepala Raina berhenti, dia menarik tangan Raina ke pangkuan kemudian menatap mata wanita di depannya intens. "Aku juga dulu seperti mu Rain, sekarang aku hanya beruntung. Tapi percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak perduli kau kaya atau miskin, bagiku, derajat manusia tidak bisa di ukur dengan harta atau kecantikan. Jangan merendahkan diri seperti ini, Tuhan sudah sangat baik kepada mu, seharusnya kau bersyukur karena diberikan otak yang cerdas dan anggota tubuh lengkap."

__ADS_1


"Tapi Ara!"


"Tidak ada tapi-tapian. Menurutlah! Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan mu."


"Terima kasih Azzura!"


"Hmmmm!"


****


"Kau!" tunjuk prof Li pada Azzura. "Turun dan hapuskan white boardnya."


Bert melotot. "Aku saja!" jawabnya hendak turun untuk mendekati dosen tersebut.


"Kau siapa, aku memintanya, bukan meminta mu."


"Tapi!"


Azzura menggelengkan kepala ke arah Bert, mau tidak mau Bert harus melakukan apa yang Azzura minta, kegiatan yang sangat sederhana itu akan berbahaya jika Aaron sampai mengetahuinya. Dan lagi, white board itu juga agak tinggi, dosen saja harus menaiki tangga untuk mengisi white boardnya sampai penuh, itu artinya, Azzura juga harus menaiki tangga untuk membersihkan white board itu.


"Aku akan melakukannya!" ucap Azzura. Hampir semua orang menatapnya dengan tatapan kagum, apalagi para pria. Azzura ini penampilannya benar-benar luar biasa, apapun yang dia pakai, semuanya terlihat mewah. Dan ketika dia menghapus white board pun, Azzura benar-benar terlihat sangat memukau di mata para lelaki yang ada di sana.


"Lakukan dengan benar. Jika ada yang tersisa, poin mu akan berkurang."


Azzura memejamkan mata, mengembuskan napas pelan dan mendengus, Azzura hanya bisa menggerutu dalam hati. Dia tidak mungkin protes karena pria tua di belakangnya itu memang dosennya. Dia bisa saja memanipulasi nilai yang Azzura dapatkan hanya karena sebuah kesalahan kecil yang sebenarnya tidak ada sangkut paut dengan pelajaran.


"Prof Li!!!" teriak seseorang dari arah pintu.


Semua orang menoleh, termasuk Azzura. Wanita cantik itu sedikit terkejut ketika melihat siapa orang yang datang.

__ADS_1


__ADS_2