Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
81. Gaun Pengantin


__ADS_3

Keesokan harinya, Azzura dan Aaron sudah diperbolehkan membawa Robert pulang ke rumah. Kondisi lelaki tua itu sudah lebih baik, masalah luka bekas jahitan bisa kontrol ke rumah sakit tiap beberapa hari sekali. Dan jika ada hal yang mendesak, Aaron tentu bisa memanggil dokter ke rumah. Azzura dan Aaron sebenarnya mengijinkan Robert untuk tinggal lebih lama di rumah sakit, namun Robert mengatakan jika dia akan lebih nyaman melewati proses pemulihan di rumah.


"Hati-hati Pah. Pelan-pelan aja!"


Azzura dan Aaron membantu ayah mereka untuk duduk di atas ranjang. Robert tersenyum, baru kali ini dia mendapatkan perhatian dari Aaron, padahal biasanya laki-laki ini selalu tidak perduli. Jangankan mengurusnya, menengoknya saja sangat jarang. Mungkin Azzura memang membawa keberuntungan untuk keluarganya.


"Kak. Jangan di teken dong Kaki Papa nya. Ikh sakit nanti!"


"Iya bawel. Kan gak sengaja."


"Eishhhhhhh, alesan aja. Sekarang Kakak mau apa ? Ara mau bikin makan malem dulu. Kakak jagain Papa aja ya."


Aaron menggelengkan kepalanya yakin. Dia tidak mau hanya duduk diam sementara Azzura sibuk di dapur, sudah pasti Aaron akan membantu istrinya. Mana bisa dia membiarkan Azzura bekerja sendirian.


"Kakak mau ke mana?" tanya Azzura dengan wajah bingung saat melihat Aaron mengikutinya dari belakang.


"Aku ingin membantu mu. Memangnya kenapa? Tidak boleh?"


"Sudah Ara, biarkan saja dia membantu, lagipula, apa yang mau dia lakukan di sini."


Azzura ingin protes kepada ayah mertuanya, namun dia mengurungkan niat ketika melihat wajah memelas Aaron. Mau tidak mau dia menarik tangan Aaron keluar dari kamar.


"Baiklah. Kau boleh membantu ku. Tapi jika kau mengacau, sebaiknya kau duduk dan menonton tv saja."


Aaron mengangguk, dia benar-benar menjadi anjing penurut saat ini. Ngomong-ngomong soal anjing, di mana Rubby, kenapa dia tidak terlihat. Apakah Rubby baik-baik saja?


Sepertinya begitu. Karena para Maid di rumah Robert sedang sibuk bermain dengannya. Hanya beberapa yang membantu Azzura di dapur.

__ADS_1


Prang!


Azzura melotot seraya berdecak pinggang menatap suaminya dengan tatapan tajam. Baru berpaling sebentar Aaron sudah memecahkan piring. Azzura tinggal beberapa menit, apakah semua barang di dapur akan habis pecah semua?


"Kakak~~!"


"Aku tahu aku salah, aku tidak sengaja. Tadi tangan ku licin. Jadi aku ...."


Aaron tidak melanjutkan kalimatnya karena Azzura yang tiba-tiba mengangkat tubuh sang suami kemudian mendudukkan suaminya di atas meja pantry.


"Kepala Han, tolong bersihkan pecahan piring ini ya. Masih ada yang harus saya selesaikan. Dan kau Kak. Jangan turun dulu sebelum pecahan piringnya bersih. Aku tidak ingin melihat kaki mu kenapa-napa."


Beberapa maid yang ada di dapur itu tersenyum. Keadaan ini, situasinya, kenapa bisa terbalik. Biasanya seorang pria yang akan melindungi wanitanya, tapi kali ini berbeda, malah sang wanita yang menjadi pahlawan. Terlebih, Azzura mengangkat tubuh Aaron seperti mengangkat sebuah bulu. Benar-benar sangat luar biasa.


"Ara!"


"Apa aku sudah boleh turun?" tanya Aaron, dia sudah cukup lama duduk di atas pantry namun belum berani turun karena belum mendapatkan izin dari istri kecilnya.


"Sebentar lagi Kak, tunggu dulu!" jawab Azzura tanpa menoleh. "Kakak cicipi ini dulu bubur untuk Papa."


Sebuah sendok besar Azzura sodorkan mendekat ke arah suaminya. Dia sudah meniup bubur itu, jadi Aaron tinggal mencobanya saja.


"Aaaaa!"


Aaron pun membuka mulut, dia mencicipi bubur itu, namun masih belum berkomentar. Azzura benar-benar sudah sangat penasaran. Manik matanya terus bergerak meminta penjelasan.


"Bagaimana?" tanya Azzura cemas.

__ADS_1


"Ada yang kurang," jawab Aaron dengan wajah serius.


"Hah, kurang apa, garam? Kaldu atau ...."


Cup!


Kedua mata Azzura membola saat bibir Aaron menempel di atas bibirnya, laki-laki itu menarik pinggang Azzura, menarik tengkuknya membuat Azzura tidak bisa bergerak leluasa.


"Wuahhhh ... mereka benar-benar tidak memikirkan kita yang jomblo."


"Tapi aku suka adegan seperti ini. Sangat romantis. Aku seperti sedang menonton drama Korea!"


"Eishhhhhhh. Kau itu, dasar otak mesum. Jangan di lihat lagi! Nanti Tuan Aaron marah. Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang juga."


Beberapa maid itu meninggalkan dapur segera karena tidak ingin mengganggu majikan mereka yang sedang memadu kasih. Agak menggelikan sebenarnya, tapi ya bagaimana. Itu adalah rumah mereka, para maid hanya sekedar pekerja.


Bugh!


Azzura memukul dada suaminya pelan, namun, pukulan pelan Azzura tentu tidak bisa diremehkan. Wanita itu mengusap bibirnya kasar dengan mata melotot tajam.


"Kakak. Apa kau tidak malu? Di sini banyak orang!"


"Kenapa? Ini rumah ayah ku. Kenapa aku harus malu?"


Astaga ..., Azzura ingn kembali berbicara, namun tiba-tiba seseorang datang. Dia dan Aaron langsung menoleh ke arah orang itu dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Tuan. Desainer pemilik gaun pernikahan Nyonya sudah datang," ucap Beck sembari membungkuk.

__ADS_1


"Gaun pernikahan?" tanya Azzura menatap suaminya bingung.


__ADS_2