
"Rubby! Apa kau tahu mengenai satu hal?"
"Apa?"
"Orang yang selama ini ada di dekat Kak Aaron, yang ingin menghancurkan Kak Aaron ternyata adalah Erland. Laki-laki brengsek itu yang telah mengacaukan urusan kantor Kak Aaron. Kalau aku diperbolehkan, aku ingin menghajarnya Rubby. Apa itu tidak apa-apa?"
Rubby mendelik. Dia turun dari pangkuan Azzura kemudian duduk di samping wanita itu dan setelahnya Rubby meringkuk.
"Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan Bos. Tapi, ingat satu hal, kekerasan bukan cara yang bisa kau lakukan untuk menyelesaikan masalah. Aku tahu, kau sangat mencintai Aaron sampai kau ingin menghajar orang yang mengganggunya. Tapi, jangan sampai hal ini mempengaruhi kepribadian mu Bos. Kau itu memiliki hati yang lembut. Kau tidak akan sanggup. Hanya Aaron dan semua anak buahnya yang bisa memberikan pelajaran kepada orang seperti Erland."
"Tapi, apakah aku harus diam saja ketika melihat semua yang terjadi di depan mata? Kau juga tahu, aku mungkin memiliki sedikit rasa kasihan hingga aku tidak pernah sanggup untuk melenyapkan nyawa siapapun yang berbuat jahat padaku. Namun bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun. Tolong beri aku pencerahan. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menyelamatkan Kak Aaron, meskipun nyawa ku taruhannya, aku bersedia melakukan apapun."
"Sayang!"
Azzura membulatkan mata ketika mendengar Aaron memanggil namanya. Wanita itu gelagapan. Buru-buru dia mengambil Rubby, membawa anak anjing itu ke atas pangkuan untuk dia elus dan dia sayang.
__ADS_1
"Kenapa Kak?" tanya Azzura.
Aaron belum menjawab, dia hanya menatap mata Azzura dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Azzura yang menerima tatapan seperti itu pun hanya bisa menelan saliva susah payah. Ingin rasanya dia kabur, namun itu tidak mungkin karena sekarang pun Azzura sudah berada di atas pangkuan sang suami.
"Kakak mau makan?" tanya Azzura menatap mata Aaron.
"Bolehkah?" tanya Aaron sedikit berbisik di depan bibir istrinya.
"Boleh dong Kak. Aku akan menyiapkan makan malam!"
Azzura hendak berdiri namun Aaron kembali menarik pinggangnya hingga dia kembali terduduk dengan Aaron yang sedikit mencengkram tubuhnya lebih kuat.
"Apa Kak?" tanya Azzura bingung.
"Ini!" tunjuk Aaron pada bibir Azzura dengan dagunya.
__ADS_1
Azzura tersenyum malu-malu. Dia yang mendengar jika mereka akan pergi keluar malam ini tentu saja merasa sangat senang. Bagi Azzura. Makan di manapun sebenarnya sama saja. Poin pentingnya adalah dia bisa bermain ke luar rumah.
" Ada syaratnya, aku akan mencium mu tapi kita bawa Rubby bersama kita!"
Aaron mengangguk mengiyakan. "Jangan menggunakan pakaian yang seksi. Aku tidak suka mereka menatap tubuh mu."
"Siap Bos!"
Cup!
Sebuah kecupan Azzura daratkan dibibir sang suami. Wanita cantik itu terlihat sangat antusias ketika berlari ke arah walk in closet.
Aaron yang melihat itu hanya bisa menggunakan kepala. "Kau licik Ara. Aku ingin ciuman. Bukan kecupan."
Aaron berusaha untuk menghalau kekecewaan di hatinya. Dia menyalakan ponsel lalu menekan nomor seseorang.
__ADS_1
"Beck! Siapkan mobil. Istriku harus tahu siapa dalang dari balik kejadian tadi sore!"
Aaron kembali menatap pintu walk in closet ketika dia sudah menutup panggilan teleponnya. Laki-laki itu menarik salah satu ujung bibir. Tersenyum penuh arti dan sesekali terkekeh kecil.