
Azzura keluar dari mobilnya hendak masuk ke dalam rumah. Namun sesat sebelum dia masuk, ponselnya bergetar, wanita itu mengambil ponsel dari saku jaket yang dia kenakan kemudian membuka pesan masuk.
"Ayah mertua mu ada di tanganku. Datanglah jika kau tidak ingin tua bangka ini mati."
Melihat itu, Azzura langsung kembali ke mobilnya, herannya, Rubby sudah ada di dalam mobil tersebut, kapan anak anjing itu masuk ke mobilnya.
"Bert. Kita ke rumah Papa Robert. Jangan lama. Ini darurat Bert, aku mengandalkan kemampuan menyetir mu."
"Baik Nyonya!"
Azzura terus bergerak gelisah. Selama perjalanan, dia terus berdoa agar ayah mertuanya baik-baik saja. Azzura hanya berharap jika pesan anonim itu hanya ancaman tidak berdasar.
"Kak Aaron!"
Azzura menekan tombol hijau setelah menemukan nomor suaminya. Dia mencoba untuk memanggil Aaron beberapa kali namun ternyata nomor ponsel suaminya tidak aktif.
"Beck!" gumam Azzura, namun , nomor itu pun tidak aktif. "Bajingan. Sebenarnya kemana orang-orang ini Bert. Kenapa mereka sangat menyebalkan."
"Maaf Nyonya, mungkin Tuan sedang ada urusan di luar kota," bohong Bert. Dia sebenarnya tidak ingin berbohong. Namun apa daya, Beck memerintahkan dia untuk melakukan itu, dan Bert tentu saja tidak bisa membantah.
"Bergetar Bert. Jangan lakukan apapun. Kau coba hubungi Kak Aaron dan Beck. Bilang pada mereka jika Papa dalam bahaya!"
"Tapi Nyonya!"
"Aku mohon Bert. Tolong bantu aku sekali ini saja, aku janji, aku tidak akan lama. Ada anjing ini yang selalu menemani ku."
Azzura memperlihatkan Rubby. Dan Bert pun mengangguk mengiyakan. Dia akan menuruti apa yang Azzura katakan sampai Aaron dan Beck mau menghidupkan ponsel mereka lagi.
"Papa!"
"Pah!"
__ADS_1
Azzura membulatkan mata, dia melihat Bora yang kala itu duduk di atas perut Robert seraya memegang sebuah suntikan yang dia tidak tahu apa itu.
Bughhhhh!
Brakkkkk!
Bora tebang sampai pada akhirnya dia terhempas di atas meja kaca hingga menimbulkan suara yang sangat bising. Azzura menghampiri Robert, dia mencoba untuk membangunkan laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu.
"Hajar dia!" pekik Bora pada para pengawal di rumahnya.
Semua pengawal itu mendekat ke arah Azzura, mungkin jika di hitung, jumlahnya ada belasan. Azzura mengepalkan tangan, dia langsung berbalik dan setelah langkah kaki ke tiganya, Azzura tidak segan-segan untuk menghajar para penjaga itu. Bukan hal yang sulit jika untuk main pukul-pukul seperti ini. Melawan ratusan orang pun Azzura sanggup.
"Iblis. Dia bukan manusia. Wanita ini adalah iblis!"
Bora mundur beberapa langkah. Dia menatap Azzura dengan tatapan marah sekaligus takut. Bagaimana tidak takut, seorang wanita mengalahkan belasan penjaga hanya dengan tangan kosong. Dan itu tidak sampai 5 menit, Azzura ini bukan manusia.
"Kau siluman!'
Terdengar suara gelak tawa dari mulut Azzura, untuk pertama kalinya, dia bisa merasakan apa yang dulu ibunya rasakan. Mungkin, jika ibunya masih hidup, dia akan bangga karena kekuatan yang dia miliki ternyata juga memberikan efek yang sama untuknya. Azzura di tuduh bukan manusia. Dia iblis?
Azzura melirik ke arah Rubby. Dia meminta Rubby untuk menyalakan fabel bening yang memperlihatkan kejahatan - kejahatan yang dilakukan oleh Bora.
Semua orang yang ada di sana begitu terkejut. Apalagi Robert. Dia sangat tidak menyangka jika Azzura akan memiliki semua bukti kejahatan yang dilakukan olehnya.
"Sudahlah! Kau sudah berakhir Bora. Sebentar lagi polisi akan datang. Tunggu saja!"
Azzura berbalik, dia berjalan mendekati Robert yang juga sedang berjalan ke arahnya. Wanita itu tersenyum, dia sama sekali tidak menyadari, jika wanita yang ada di belakangnya sedang menodongkan senjata api.
"Karena kau sudah menghancurkan segalanya, maka kau harus tiada Azzura!"
"Azzura!"
__ADS_1
Dor!
Blup!
Mata Azzura membulat dengan sempurna. Wanita itu merengkuh tubuh Robert yang mulai jatuh ke lantai, dia memeluk Robert erat, namun saat tangan kanannya di angkat, Azzura semakin terkejut. Darah segar mengalir cukup deras. Tangannya berwarna merah menyala.
"Papaaaa!"
Azzura berteriak sangat kencang. Dia menekan luka di punggung Robert berharap jika apa yang dia lakukan bisa mengurangi pendarahan.
"Papa, papa bertahan, Pah."
"Bert panggil ambulance! Tolong papa Bert. Tolongggg!" Teriakkan Azzura semakin kencang.
"Shuuuuttt!" Robert mengusap wajah Azzura lembut.
"Papa baik-baik saja Sayang, terima kasih karena sudah menolong papa," ucapnya seraya tersenyum. Napasnya sudah semakin berat namun dia masih berusaha untuk berbicara. "Jika Papa tiada, tolong jaga Aaron untuk Papa ya Sayang!"
Azzura menggelengkan kepala. "Enggak, Azzura gak mau, Papa gak boleh ngomong kayak gitu. Papa pasti selamat. Kita akan ke rumah sakit. Kita akan ke rumah sakit sekarang Pa!"
Azzura memangku tubuh Robert bak karung kapas. Semua orang yang melihat itu terlihat bingung sekaligus khawatir. Darah terus menetes, sedangkan ambulance, mereka yakin jika ambulance masih dalam perjalanan.
.
.
.
.
__ADS_1
Untuk Username yang ada di foto, harap DM Ig Author ya. Ini untuk yang menang GA dana or pulsa 25k. Thank you Guys. 😘😘😘
Ig : @anita_hisyam