
Azzura turun dari mobil tanpa menunggu Bert membukakan pintu untuknya. Wanita itu berlari sekuat tenaga. Mencari keberadaan Raina yang katanya ada di kampus, bangunan apa itu masih dia cari. Tetapi kalau tidak salah, tadi dia sempat menyebut area olahraga. Apa mungkin lapangan. Azzura berusaha untuk terus mengingat apa yang Raina ucapkan karena ponsel sahabatnya kini tidak bisa dia hubungi.
"Kolam renang," ujarnya, seraya berlari sembari menahan sakit di bagian inti. Azzura mungkin belum lama menjalin hubungan pertemanan dengan Raina, namun hanya wanita itulah teman yang dia miliki.
"Raaina ... Raina ...!"
Azzura terus mencari keberadaan Raina, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut di area kolam renang itu. Apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada siapapun di sana. Azzura ingin kembali berbalik namun suara tepuk tangan membuat Azzura kembali berbalik.
"Rain," gumam Azzura, ingin menghampiri sahabatnya namun Gardenia mengangkat tangan, memberikan isyarat agar Azzura tidak berjalan mendekatinya.
"Dia akan baik-baik saja jika kau mau menuruti semua yang aku katakan, Azzura!"
Wanita cantik itu menautkan alis bingung, dia tahu apa yang ingin Gardenia lakukan. Wanita itu mengikat kaki dan tangan Raina, juga menutup mata Raina dengan kain. Azzura paham betul, jika Gardenia menceburkan Raina ke kolam renang, tidak butuh waktu lama untuk Raina mati di dalam kolam renang itu.
"Aku akan menuruti apa yang kau katakan. Dia tidak salah apapun Gardenia. Lepaskan dia!"
Gardenia tergelak. Dia melirik seseorang yang yang sedang bersembunyi di balik tembok di ruangan itu. Tangan dan kaki Zia Li bergetar hebat. Ingin rasanya Zia Li menolong Azzura, tapi pada kenyataannya dialah yang membawa Gardenia ke ruangan itu. Zia Li sampai meminta bantuan dari sang ayah agar Gardenia bisa masuk ke sana. Dia hanya berharap kalau Gardenia tidak akan mengadukannya kepada Aaron, jika sampai itu terjadi. Laki-laki itu pasti akan membunuhnya dalam satu kali tebasan.
__ADS_1
"Mendekat'lah ke sisi kolam, Azzura!" titah Gardenia dengan senyum menyeringai.
Azzura melakukan apa yang Gardenia suruh tanpa ragu. Azzura tahu Gardenia hanya sedang menggeretaknya. Tetapi jika Raina benar-benar Gardenia cemburukan, maka hari itu pasti akan ada dua mayat, mayat dia dan juga mayat Raina.
"Kurang mepet!" pekik Gardenia seraya berdecih. Dia menarik tali yang ada di leher Raina sampai wanita itu mendongak dengan mulut terbuka karena kesulitan untuk bernapas.
Azzura mengembuskan napas dengan mata terpejam. Dalam hati dia terus berdoa agar Bert atau siapapun datang untuk menyelamatkan Raina dari tangan Gardenia.
"Sekarang lepaskan dia Gardenia. Aku sudah menuruti apa yang kau katakan. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita. Cepat lepaskan dia!"
Azzura berteriak membuat Zia Li yang sedang bersembunyi terperanjat. Lututnya semakin bergetar hebat. Dia harus mencari bantuan. Melihat Gelagat Gardenia, Zia Li seperti merasa ada yang salah. Gardenia tidak terlihat sedang Menggeretak. Namun, dia seperti merencanakan sesuatu yang lebih buruk dari apa yang dia katakan padanya.
"Huhhhh ... hahhhh."
Zia Li berjongkok dihadapan Zhan dan juga teman-temannya yang sedang berkumpul. Tanpa mengatakan apapun, dia menarik tangan Zhan, membawanya berlari menjauh dari orang-orang itu.
"Cieeeee ... uhuy! Semangat amat yang mau pacaran!" seru teman Zhan.
__ADS_1
Zia Li tidak perduli dengan apa yang dikatakan mereka. Dia masih fokus menyeret Zhan untuk menemui Azzura yang sekarang sedang ada dalam bahaya.
"Apa yang kau lakukan Zia Li!" pekik Zhan menghempaskan tangan Zia Li dari tangannya.
Zia Li kembali menarik tangan Zhan, tetapi Zhan melakukan hal yang sama.
"Apa yang kau lakukan. Aku tanya kau mau apa?" Teriakan Zhan membuat orang-orang yang ada di sana menoleh ke arah mereka.
"Shuttt!" Zia Li menaruh jari telunjuknya di atas bibir. "Azzura ada dalam bahaya. Tolong dia ya. Aku mohon."
Zhan menautkan kening, merasa bingung dengan apa yang dikatakan wanita didepannya. "Jangan ngaco kamu Zia. Azzura itu sedang mengambil cuti. Kau mau membodohi ku, hah?"
Zia Li menggelengkan kepala dengan cepat.
"Aku sungguh-sungguh Zhan. Azzura ada di dekat kolam renang. Kau harus menolongnya sebelum terlambat. Dia sedang membutuhkan bantuan mu. Ayolah. Aku mohon." Zia Li menautkan kedua tangan seraya memasang wajah memelas. Dia benar-benar putus asa sekarang.
Melihat kesungguhan pada wajah Zia Li, sejurus kemudian, tanpa menunggu Zia Li, Zhan berlari seperti orang kesetanan. Dia tidak menghiraukan orang-orang yang menatapnya aneh. Mungkin Azzura sudah membuatnya patah hati. Namun, Zhan masih sangat menyukai wanita itu.
__ADS_1
"Azzura," lirih Zhan dengan napas memburu. Dadanya naik turun, sesak karena habis berlari juga karena melihat pemandangan menyedihkan didepan sana. Dia sudah terlambat. Azzura ....