
"Kau tahu, sepertinya ada orang yang suka caper sama senior kita, sok kecakepan banget gak sih, jijik banget gue liatnya. Mana badan udah kayak lonteh, gue heran kenapa Kak Zhan suka sama wanita jadi-jadian kayak dia."
Azzura menggelengkan kepala mendengar ocehan curut yang ada dibelakangnya. Bodo amatlah mereka mau ngomong apa. Kalau semuanya sudah aman, baru dia akan melakukan pembalasan.
Jia Li berdecih melihat Azzura yang tidak terganggu sama sekali karena ulah temannya Huanran. Padahal kata-kata Huanran sudah sangat menusuk, tapi wanita itu tidak terusik sama sekali.
"Kau tidak usah khawatir Jia, nanti kita akan buat perhitungan dengannya." Huanran berucap dengan penuh percaya diri.
Azzura memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Hari ini dia tidak kuliah sampai sore karena dosen yang akan mengajarnya tidak datang. Syukurlah, Azzura ingin langsung pulang, tapi dia memiliki janji dengan Zhan.
"Apa aku batalkan saja ya?" Azzura bermonolog.
"Hei wanita sialan. Gue sudah bilang jauhi Kak Zhan, kenapa Lo gak denger, apa Lo tuli hah?"
"Kalau gue tuli, gimana caranya gue bisa denger dosen ngajar!"
"Bacot anjir!"
Huanran mengarahkan tasnya ke arah kepala Azzura, tapi Azzura dengan cepat menahan dan menarik tas milik Huanran. Mereka sama-sama saling menatap. Bedanya, kalau Azzura menatap Huanran sembari tersenyum. Tapi Huanran, wanita itu terlihat sangat gugup. Tangannya berusaha menarik tas selempang yang dipegang Azzura, tetapi Azzura tentu tidak melepaskannya.
"Lo bilang gue wanita jalan* kan? Sebenarnya yang jalan* itu kalian. Udah tahu Kak Zhan gak suka, masih di kejar. Malu-malu in tau gak!"
"Kau!" Jia Li ingin menjambak rambut Azzura tapi Azzura mencekal pergelangan tangan Jia Li sampai Jia Li meringis kesakitan.
"Lepaskan kami!" teriak Huanran kesal.
"Lo mau kita laporin Lo sama papanya Jia Li? Gue yakin, Lo bakal kencing di celana kalau papanya Jia udah labrak Lo di sini."
Azzura tersenyum menyeringai. Dia menambah kekuatan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Jia Li dan tas Huanran.
"Gue bilang lepasin gob**k. Tangan Gue sakit!" Jia Li memekik di depan wajah Azzura.
Brughhh! Brughhh!
Azzura tersenyum kecil ketika Jia Li dan Huanran jatuh tersungkur kebelakang. Ia berdiri kemudian menunduk, tersenyum lebih lebar. "Maaf ya Jia ... aku gak sengaja," bohong Azzura sembari tersenyum mengejek.
"Azzura!" Teriak Zhan.!
Azzura menoleh ke arah pintu tat kala dia mendengar seseorang memanggil namanya. Senyum di bibir cantik itu mendadak hilang. Azzura berjalan turun dari tempatnya, kemudian berhenti di depan Zhan.
__ADS_1
"Kak Zhan, aku minta maaf, sepertinya kita tidak jadi mengobrol hari ini. Aku ada urusan dan harus pergi ke suatu tempat. Kapan-kapan aku akan mentraktir mu makan. Maaf ya!"
Zhan mengangguk dengan wajah melongo tidak tahu karena apa. Dia bahkan tidak sadar kalau Azzura sudah pergi jauh darinya.
"Benar-benar keren!" gumam Zhan menatap punggung Azzura kagum.
Jia Li dan Huanran melongo mendengar ucapan Zhan. Laki-laki itu memuji Azzura gara-gara Azzura menindasnya. Apa Zhan sudah ikutan gila seperti gadis itu.
"Mungkin Kak Zhan kena guna-guna si Azzura Jia. Kau juga lihat kan bagaimana dia mendorong kita dengan kekuatannya. Masa orang dua kalah sama orang satu."
"Ngawur kamu itu Ran. Lebih baik bantu gue bangun. Besok kita kerjai lagi si lonteh itu. Enak aja mau rebut Zhan dari gue. Jika perlu, gue bakal bilang sama Papa supaya dia bisa bantu kita nyingkirin si cewe gila itu."
"Gue setuju Jia. Gue juga enek liat dia sok banget kayak gitu."
****
"Apa Nyonya tidak apa-apa?" tanya Bert yang sudah duduk di bagian kemudi.
"Aku baik-baik saja Bert. Aku hanya sedikit kesal, kenapa bisa ada anak seseorang yang terpelajar tapi etikanya sangat tidak baik. Aku rasa aku harus membuat perhitungan dengannya. Jangan bilang ini sama Kak Aaron. Kalau dia tahu, dia pasti akan melenyapkan si Jia dan temannya yang bodoh itu."
"Baik Nyonya!"
"Sudahlah. Kita pergi saja!"
Azzura diam untuk beberapa saat, jika dia langsung pulang, di rumah tidak ada siapa-siapa. Ingin menemui Hugo, laki-laki itu tidak ada di Beijing sekarang. Lalu Azzura harus ke mana.
"Apa kita mau ke perusahaan Tuan saja?" tanya Bert yang langsung di anggukki oleh Azzura. Azzura sangat penasaran, bagaimana bentuk perusahaan yang dimiliki oleh suaminya. Kalau dari cerita yang pernah dia baca, perusahaan Aaron ini adalah perusahaan global yang namanya sudah sangat terkenal.
"Apa kau yakin aku boleh masuk?"
"Tentu saja Nyonya. Aku akan mengantar mu ke ruangan Tuan."
"Silahkan Nyonya!" Bert membukakan pintu mobil untuk Azzura. Wanita cantik itu mendongak, dia menatap gedung pencakar langit didepannya dengan mulut ternganga.
"Apakah ini adalah perusahaan inti kalian Bert?"
"Iya Nyonya. Ini adalah perusahaan milik Tuan Robert yang dilanjutkan oleh Tuan Aaron!"
Azzura mengangguk mengerti. Jika melanjutkan wajar saja, karena membangun perusahaan sebesar ini pasti tidak mudah.
__ADS_1
"Kita akan naik ke lantai paling atas?"
"Iya Nyonya!"
Azzura melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift. Mereka berjalan menelusuri lorong yang akan membawa mereka pergi ke ruangan Aaron. Hati Azzura sudah berdegup tak karuan. Sepertinya Azzura sudah tidak tertolong. Dia sudah benar-benar jatuh cinta pada sosok laki-laki yang sudah memberikannya kehidupan layaknya di negri dongeng.
"Ini ruangan Tuan Nyonya!"
"Hmmm. Baiklah, di dalam ada Beck kan?"
"Iya Nyonya masuk saja!"
"Baiklah Bert. Terima kasih."
Bert mengangguk lalu pergi meninggalkan Azzura, dia harus mengambil sesuatu di dalam mobil, ponselnya tertinggal. Bisa gawat urusannya jika Aaron menelponnya ke ponsel itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut orang dari dalam. Azzura tersenyum, dengan langkah pasti dia masuk kedalam ruangan sang suami. Wajahnya langsung berbinar tat kala Azzura melihat Aaron sedang duduk di kursi kebanggaannya.
"Selamat siang!" Erland membungkuk ke arah Azzura, laki-laki itu tersenyum, memindai penampilan Azzura dari atas sampai bawah, persis seperti mesin scanner, sementara Azzura, ia menautkan kening melihat tatapan tak biasa dari laki-laki yang dia tahu adalah sekertaris suaminya.
"Ah ... ada orang lain ternyata. Kalau begitu aku permisi dulu!"
"Tidak Ara! Erland sudah selesai. Dia akan keluar sekarang juga kok!" Aaron tersenyum kecil ke arah Azzura. Beruntungnya saat itu Erland tidak mengetahui arah pandang Aaron, kalau sampai Erland mengetahuinya, penyamaran Aaron pasti akan sia-sia.
"Kau boleh keluar Erland!" ketus Aaron kesal karena dia sempat memergoki Erland yang sedang menatap Azzura terang-terangan. Mungkin Erland melakukan itu karena dia tidak tahu jika Aaron tidaklah buta.
"Aku yakin ada sesuatu yang salah dengan mu Erland. Mata dakjalmu itu harus aku congkel. Berani-beraninya kau menatap istriku seperti itu."
"Saya permisi Tuan!" ucap Erland sembari berlalu.
"Hmmmm!"
"Apa kau hanya akan berdiri di sana!"
Azzura tersentak karena nada suara Aaron sedikit meninggi dari biasanya. Azzura mengembuskan napas kasar. Dia tahu apa yang terjadi. Sangat bodoh rasanya jika Aaron tidak marah ketika melihat tingkah tidak sopan sekertarisnya itu.
"Don't be mad Kak! Aku akan pulang kalau kau marah-marah seperti itu. Aku tahu, kenapa kau marah, aku rasa, kita sama-sama mencurigai orang yang sama!"
__ADS_1
Aaron mendongak menatap istri cantiknya, setelah berdiri, Aaron menarik tangan dan pinggang Azzura kemudian mengangkat pinggang wanitanya mendudukkan bokong berisi itu di atas meja. Kedua tangan besar Aaron dia letakan di sisi kiri dan kanan tubuh sang istri.
"Apa yang kau ketahui Sayang? Siapa yang kau curigai, hmm?"