Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
61. Kepanikan Azzura


__ADS_3

"Jadi, kau sudah memastikan jika kita memiliki kontrak eksklusif dengan perusahaan dari Vietnam itu bukan, jangan sampai kau melakukan kesalahan Beck. Aku tahu cara kerja mu."


"Semuanya aman Tuan, segala ketentuan sudah ada di dalam kontrak tersebut. Ketika kita melihat kontrak yang diberikan oleh Erland, kita akan tahu seperti apa Erland yang sesungguhnya."


Aaron mengangguk, dia memasuki lobby perusahaan dengan gagahnya. Aaron tersenyum tipis tat kala dia melihat beberapa karyawan meliriknya dan langsung menghubungi seseorang.


"Banyak mata-mata di perusahaan ini ternyata. Kau sangat licik Erland."


Sesampainya di dalam ruangan, Aaron tidak langsung memanggil Erland. Dia menunggu laki-laki itu datang dengan sendirinya. Perusahaan sudah tidak seramai tadi karena sekarang sudah hampir malam.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" sahut Aaron dari dalam. Orang yang Aaron dan Beck tunggu-tunggu pun datang. Mereka tersenyum penuh arti namun Erland tentu tidak mengetahui hal itu. Dia masih berpikir jika Aaron belum tahu semua akal bulusnya.


"Tuan, ini. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kita menerima tawaran bisnis dari salah satu perusahaan yang ada di Vietnam. Tuan bisa lihat berapa banyak yang mereka janjikan."


Aaron tersenyum, dia mulai menelusuri setiap tulisan braille yang ada di atas dokumen tersebut. "Baiklah, aku akan menandatanganinya sekarang."


Aaron mengambil bolpoin, dan goresan tinta pun dia bubuhkan di atas kontrak yang dibawakan oleh Erland.


"Terima kasih Tuan!"


"Hmmm. Pergilah. Lusa kita akan mengadakan rapat untuk seluruh pemegang saham dan semua dewan. Jangan melakukan kesalahan sedikit pun Erland. Aku tidak menyukai hal seperti itu."


Erland mengangguk mengerti. Dia keluar dari ruangan itu membawa dokumen yang baru saja Aaron tanda tangani.


"Sebaiknya kita mulai ikuti dia kemanapun dia pergi Bert. Aku yakin, dia adalah orang yang sudah membuat aku kecelakaan saat itu."


Aaron masih sangat mengingat bagaimana dia saat itu mengalami kecelakaan. Di malam ulang tahun ayahnya, Aaron menghadiri pesta, malam itu turun hujan yang cukup deras. Aaron memutuskan untuk pulang sebelum pesta selesai karena dia memang tidak terlalu menyukai hal-hal seperti itu.


Awalnya semua berjalan lancar, tidak ada sesuatu yang salah. Beck membawa mobil seperti biasa, namun saat berada di tengah - tengah perjalanan. Tanpa diduga, sebuah truk tiba-tiba meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah yang tidak bisa mereka prediksi.


Brakkkkk!

__ADS_1


Sruuuukkkkk!!!!


Truk besar menghantam tepat di bagian penumpang. Tidak berhenti sampai di sana, truk itu seolah sengaja mendorong mobil yang Aaron tumpangi sampai mobil itu jatuh kedalam lembah.


Mobil hitam mengkilap dengan pintu yang sudah tidak berbentuk itu berguling untuk beberapa kali sampai pada akhirnya, mobil itu berhenti karena menghantam pohon.


"Tuan!"


Dalam sisa-sisa tenaga yang Beck miliki, dia keluar dari mobil yang sudah terbalik, Beck merangkak, membuka pintu mobil paksa hingga dia bisa menarik Aaron yang sudah tergeletak dengan darah bercucuran.


"Tuan, Tuan tolong sadarlah! Kita akan keluar dari sini Tuan ...."


Beck menarik tubuh Aaron. Membawa lelaki itu menjauh dari mobil karena percikan - percikan api sudah terlihat dari bawah mobil tersebut.


"Tuan, Tuan sadarlah, Tuan!" .....


Duarrr!


Duarrr!


"Kita pasti akan menemukan orang yang melakukan ini padamu Tuan. Tolong bertahanlah!"


****


Azzura membuka matanya perlahan. Lagi-lagi dia terbangun dan sudah berakhir di atas ranjangnya dengan ranjang sang suami. Memang, sekarang mereka hanya memiliki satu ranjang king size, Aaron sudah tidak pernah membiarkan Azzura untuk jauh darinya.


"Rubby!"


"Iya Bos!"


"Suami ku ada di mana?"


Rubby naik ke atas ranjang kemudian duduk di samping Azzura yang masih berbaring dengan kepala menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Tuan pergi ke kantor. Sepertinya ada urusan penting. Mungkin akan pulang malam."


Azzura mengangguk mengiyakan, dia menatap Rubby dengan tatapan tak biasa.


"Rubby, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"


"Tanyakan saja!"


"Euuummm. Bolehkah aku melihat kembali saat Kak Aaron hampir ditabrak mobil di penyebrangan jalan? Aku rasa aku seperti memngingat sesuatu. Aku hanya ingin memastikannya saja."


"Hmmm. Baiklah, kali ini aku berikan, tapi lain kali tidak akan."


"Kenapa? Kau adalah sistem yang diperintahkan untuk menemaniku bukan? Tapi kenapa kau pelit sekali?"


Rubby tidak menjawab, dia tidak akan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi jika dia terlalu banyak menggunakan kekuatannya di luar urusan cinta Aaron dan Azzura.


"Lihatlah!"


Azzura langsung duduk ketika panel bening muncul di depannya. Mata wanita itu memincing. Azzura langsung menoleh ke arah Rubby ketika dia melihat sesuatu yang memang sangat ingin dia lihat.


"Terima kasih Rubby!"


Tanpa basa basi, Azzura langsung melompat dari atas ranjang, wanita itu berlari keluar dari kamar seperti orang kesetanan.


"Bert. Antar aku ke perusahaan Kak Aaron!"


"Tapi Nyonya."


"Sudah, buruan Bert, aku buru-buru. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain."


Bert mau tidak mau langsung masuk ke dalam mobil.


"Cepatlah Bert. Aku tidak punya banyak waktu."

__ADS_1


Bert mengangguk mengiyakan. Dia menancap gas namun masih dalam batas wajar karena Bert tahu jika keselamatan Azzura lebih penting dari perintah wanita itu sendiri.


"Ya Tuhan, kenapa aku tidak sadar. Mereka ada di depan mata namun kita malah mengabaikannya."


__ADS_2