Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
62. Mengingat Sesuatu


__ADS_3

Azzura tidak menunggu Bert membukakan pintu, yang dia ingat hanya dia yang harus menemui Aaron secepat mungkin. Beberapa karyawan melihat Azzura dengan tatapan aneh, rambut berantakan dan juga dia yang berlari tanpa menggunakan alas kaki membuat orang-orang berpikir jika Azzura sedang dikejar hantu.


"Oke. Santai Ra, santai!" Azzura berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri namun kaki dan tangannya terus bergerak gelisah, angka merah di lift tersebut seperti berganti terlalu lamban, Azzura menjadi sangat tidak sabar dan semakin panik.


"Nyonya!"


Beck menyapa majikannya ketika Azzura sampai di depan pintu ruangan Aaron. Sama seperti yang lain, Beck juga terlihat sangat heran. Penampilan majikannya sangat jauh dari kata normal.


"Kakak!"


Azzura berteriak ketika pintu ruangan itu terbuka, Aaron yang sedang duduk di kursi kebesarannya langsung mendongak. Dia berdiri dan pada saat itu Azzura menerjangnya sampai Aaron hampir terjengkang.


"Ada apa? Kenapa tidak menunggu di rumah?" Aaron membalas pelukan Azzura, dia memang melihat keanehan dari istri kecilnya, namun Aaron belum berani menanyakan hal itu. Dia lebih memilih menanyakan hal-hal kecil yang mungkin tidak akan menyinggung Azzura.


"Kak!" Gadis itu mendongak menatap mata Aaron masih dengan kekhawatiran yang sangat besar.


"Duduk dulu ya. Bicarakan pelan-pelan!"


Aaron menuntun Azzura untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Memberikan air mineral sebelum mereka benar-benar berbicara.


"Ya ampun! Kau tidak pakai alas kaki Sayang?"


Aaron menarik kaki Azzura, membersihkan telapak kaki itu dengan telaten.


"Kak, sudahlah. Ini tidak penting sekarang. Aku benar-benar ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan mu."


"Tunggu sebentar, apanya yang tidak penting, kalau kaki mu terluka bagaimana. Aku pastikan dulu kalau kaki mu baik-baik saja. Setelah itu kau bisa lanjut berbicara. Lagipula hal penting seperti apa yang bisa membuat mu sampai seperti ini."


"Kak, aku tahu, kau pasti masih mengingat bagaimana aku menyelamatkan mu saat dulu kau akan menyebrang jalan?"

__ADS_1


Aaron menghentikan kegiatannya untuk sesaat, namun tak lama setelah itu, dia masih melanjutkan apa yang sedang dia lakukan.


"Kak, saat itu, orang yang ada di samping mu adalah Erland kan? Aku baru ingat, sebenarnya kejadian waktu itu sangat aneh. Dia seperti sedang merencanakan sesuatu. Kau tahu Kak, orang yang memiliki tanggungjawab tentang pekerjaannya tidak mungkin membiarkan Kakak hampir menyebrang sendirian. Aku ingat, ketika itu dia malah berjongkok seperti orang yang hendak membetulkan sepatu. Tapi setelah aku lihat-lihat lagi, sepatunya tidak memiliki tali Kak. Apa menurut mu ini wajar? Dia adalah orang jahat kan?"


Aaron tersenyum kecil, dia mengangkat pinggang wanita itu dan mendudukkannya di pangkuan. "Jadi, yang membuat istri ku panik sampai lupa berdandan adalah masalah ini?" tanya Aaron santai seraya merapikan rambut Azzura.


"Kak ... kenapa kau terlihat sangat santai. Kalau memang Erland itu jahat, itu artinya dia berbahaya untuk mu. Kau harus lebih berhati-hati."


Aaron mengangguk mengiyakan. "Aku tahu Sayang, Aku tahu. Aku dan Beck sedang menyelidiki masalah ini. Kita kumpulkan bukti yang kuat agar kita bisa menangkapnya tanpa harus takut jika dia akan kembali lolos. Kita membutuhkan banyak bukti untuk menjeratnya secara hukum sayang."


Azzura mengembuskan napas panjang, satu tangannya dia kalungkan di leher Aaron, sementara tangan yang lainnya bergerak menelusuri dada suaminya sampai sang empunya menahan napas akibat dari ulah Azzura.


"Jangan bermain di sana Sayang!" cegah Aaron dengan suara berat.


"Kenapa? Kenapa melarang ku melakukan ini hmm. Kau tidak mau aku sentuh?"


Kalimat itu tidak berlanjut karena Azzura sudah membungkam bibirnya dengan bibir tipis nan seksi yang dia miliki. Dalam beberapa menit, Aaron seperti di bawa ke awang-awang. Tangan kanannya sudah bergerak masuk ke dalam kaos kebesaran istrinya dan mengusap perut sang istri dengan gerakan-gerakan yang mampu membuat Azzura semakin hilang kendali.


Kruyukkkk!


Kedua pasang mata itu terbuka, Azzura meringis sembari membenamkan wajahnya di dada Aaron, sedangkan laki-laki itu malah tertawa.


"Kau belum makan kan? Kita makan ya. Mau makan di rumah atau makan di restoran langganan mu?"


"Bolehkah?" tanya Azzura dengan mata berbinar.


"Boleh dong, karena hari ini kau sudah memberikan informasi yang sangat penting. Kau bebas memakan apapun yang kau suka!"


Azzura tentu saja sangat antusias. Dia mengecupi wajah Aaron berkali-kali sampai lelaki itu terkikik geli.

__ADS_1


"Ayo berangkat Kak!"


"Siap Tuan Boss!"


****


Sepasang sepatu hitam turun dari atas mobil mewahnya, langkah kaki orang itu membawanya masuk kedalam sebuah rumah mewah nan megah. Semua orang yang ada di sana pun terlihat sangat menghormati lelaki itu. Banyak maid dan para penjaga menantikan kedatangan dia.


"Selamat malam Tuan! Nyonya besar sudah menunggu di dalam!"


Lelaki itu hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah yang terlibat seperti istana. Dia seperti sudah sangat hapal denah rumah itu sampai dia tidak kesulitan untuk menemukan ruang rahasia yang memang sengaja pemilik rumah buat untuk membuat pertemuan tertentu.


"Selamat malam Ma!"


Wanita yang sudah tidak muda lagi itu tersenyum.


"Malam sayang, kenapa kau sangat lama? Mama sudah memberikan obat tidur kepada Robert sejak tadi. Kenapa kau baru datang hmmm?"


"Ada hal yang harus Erland urus Ma. Sepertinya Erland harus mempercepat rencana kita. Mama tahu, anak sialan itu sudah mulai curiga kepada Erland. Kita harus mengalihkan seluruh aset milik keluarga ini sebelum semuanya terlambat."


Orang yang di panggil


Mama oleh Erland mengangguk mengerti. Dia berjalan mendekati Erland dan memeluk anak laki-lakinya erat.


"Lakukanlah apa yang menurut mu baik Nak. Mama akan menjaga Papa Robert saat kamu menjalankan semua misi itu. Tapi ingat. Hati-hati sayang!"


"Erland tahu apa yang harus Erland lakukan Ma. Mama jangan sampai lengah, terus awasi Papa Robert. Jika perlu, tambahkan dosis obat yang selalu Mama berikan agar dia cepat mati."


"Mama mengerti."

__ADS_1


__ADS_2