Azzura: The Fight Of The Tough Lady

Azzura: The Fight Of The Tough Lady
70. Penyiksaan


__ADS_3

Byurrrrr!


Satu ember air Beck siramkan pada wajah Erland. Laki-laki itu terbangun dengan wajah penuh luka memar. Tangannya di ikat menggunakan rantai dan di angkat ke atas hingga laki-laki itu harus berjinjit agar kakinya bisa menapak pada lantai dan pergelangan tangannya tidak terluka.


"Cuiiih!"


Mulutnya meludah ke arah Beck, beruntung laki-laki itu menghindar jadi apa yang Erland keluarkan tidak mengotori pakaiannya Beck.


"Kau itu benar-benar bajingan Erland. Kau membuat semua orang berada di pihak mu dan menjadikan kebutaan ku sebagai alasan. Kau pikir, kau bisa menggantikan posisi ku hanya karena kau adalah anak dari seorang wanita yang rela membuang anak nya demi sebuah kekayaan yang tidak berarti?"


Aaron tertawa cukup keras. "Kau marah karena ibumu meninggalkan mu, karena dia lebih memilih tinggal bersama ayah ku dan aku bukan? Ibumu itu ... akh, Bora, dia wanita yang sangat cerdik, memang apa untungnya memiliki anak berandalan yang tidak tahu terima kasih seperti mu Erland. Kau itu hidup dari uang ayahku. Kau bisa sekolah sampai kau bisa seperti ini juga karena bantuan dari ayahku. Kau pikir dia tidak tahu jika ibumu itu sudah memilki anak? No, jalan mu terlampau mulus tanpa bantuan dari si bodoh Robert."


Erland menggelengkan kepalanya. Dia mencoba untuk mencerna setiap kalimat yang Aaron ucapkan padanya. "Kau gila Aaron. Jangan membodohi ku seperti ini, aku tahu, si tua Bangka itu tidak pernah menginginkan aku. Dia hanya ingin ibuku. Ayahmu itu adalah orang jahat. Dia telah mengambil ibu dari seorang anak yang sedang membutuhkan perhatian. Kau itu gilaaa Aaron. Sama seperti ayah mu. Gillaaa!"

__ADS_1


Bughhhhh!


Sebuah tendangan Aaron layangkan pada perut saudara tirinya itu, dia mendekat ke arah Erland kemudian mencengkram rahang laki-laki itu dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Dengarkan aku Erland, jangan meremehkan kemampuan ayah ku. Dia diam bukan karena dia tidak tahu, setelah ibumu mengantarkan mu ke panti asuhan, Ayah tahu apa yang terjadi. Dia tahu jika Bora sudah memiliki mu. Tapi dia hanya menunggu, menunggu Bora untuk mengatakan kejujuran kepadanya. Dan, bodohnya, dia yang selalu membereskan kekacauan yang kau perbuat, apa kau ingat saat kau menghajar seorang anak di sekolah dasar sampai dia masuk rumah sakit? Kau ingat saat kau menghancurkan sebuah toko dengan motor yang ibumu berikan, apa kau juga masih ingat, seorang gadis yang kau lecehkan di gudang sekolah ketika kau masih SMA? Lantas, kenapa setelah semua yang kau lakukan kau tidak masuk ke penjara? Kenapa?"


Setttt!


Aaron kembali menghempaskan dagu Erland sampai laki-laki itu hampir kehilangan lehernya.


Bukannya terharu, Erland malah tertawa terbahak-bahak. Dia menunduk tanpa mau menatap Aaron. Satu kode dari Aaron membuat sebuah tendangan kembali melayang di perutnya.


Bughhhhh!

__ADS_1


Beck tersenyum tipis ketika Erland mengeluarkan darah kental dari mulutnya. Dia ingin kembali menghajar Erland namun ....


"Cukup Beck! Jangan biarkan dia mati terlalu cepat, itu tidak akan setimpal dengan apa yang telah dia perbuat pada kita."


"Apa kau tidak khawatir akan istrimu Aaron? Apakah kau tidak tahu jika saat ini Ibuku sedang bermain-main dengannya? Kau tidak ingin berada di sampingnya saat dia menghembuskan napas terakhir?"


Aaron yang sudah hendak pergi dari ruang penyiksaan itu langsung bergeming. Namun, saat otaknya kembali mengingat apa yang Erland katakan, laki-laki itu langsung berlari keluar dari ruangan itu.


"Hugo! Ajak teman-teman mu untuk menyiksa laki-laki brengsek yang ada di dalam. Jangan siksa dia sampai mati, jika dia sudah kembali memiliki tenaga, lanjutkan siksaan itu. Dan lakukan itu secara berulang."


"Baik Tuan," jawab Hugo patuh. "Apakah Nyonya Azzura baik-baik saja?" tanya Hugo merasa khawatir dengan bos nya itu.


"Aku harap begitu Hugo!"

__ADS_1


Aaron langsung masuk kedalam sebuah helikopter yang akan membawanya kembali. Dalam hati, dia terus berharap jika sang istri akan baik-baik saja. Jika sampai Azzura kenapa-napa, Aaron tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


__ADS_2