
Brakkkk!
Gardenia membanting setiap barang yang dia lihat. Hari ini wanita cantik itu sedang ada di apartemen kekasihnya, Mark. Laki-laki dengan perawakan tinggi namun tak setinggi Aaron itu memejamkan mata melihat tingkah sang kekasih. Sebenarnya dia sudah sangat ingin menghajar wanita itu jika dia sudah tidak butuh. Namun Mark harus bersabar agar pundi-pundi Yen nya tidak berhenti mengalir.
"Aku sudah bilang aku tidak bisa mendekati gadis sialan itu Mark. Aku membencinya. Sangat membencinya, sekarang dia sangat sombong. Karena dia sudah memiliki Aaron, dia sudah berani melawan ku. Dulu dia sangat tunduk sampai aku jadikan pembantu pun dia mau, tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Tidak ada yang menyenangkan lagi. Gadis itu sudah berubah 180%."
"Sayang!" Mark memeluk Gardenia dari belakang. "Kalau dia bisa berubah, maka aku yakin kau juga bisa berubah, kau harus lebih cerdik darinya Sayang, jangan biarkan dia mengalahkan mu dalam hal apapun. Sekarang dia sudah jadi orang kaya, kalau kau dekat dengannya, kau bisa kecipratan juga."
"Tapi aku sudah tidak bisa menahan semua ini Mark. Dia itu keterlaluan. Dia sudah beberapa kali membuat ku malu. Dan lagi laki-laki cacat itu juga membantunya. Mereka benar-benar sangat sombong. Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Sayang!"
Mark tersenyum, dia menyentuh kedua bahu Gardenia, memutar tubuh wanita itu agar mereka bisa saling berhadapan. "Dengarkan aku!" Mark menyentuh wajah Gardenia penuh kasih sayang palsu. "Aku percaya kau bisa melakukan ini, atau, gunakan ibunya untuk memeras Azzura. Jangan biarkan kesempatan ini lewat begitu saja Sayang, kau harus bisa menikmati apa yang seharusnya kau dapatkan."
"Tapi Kak!"
"Shuuuuttt! ... tidak ada tapi-tapian, kalau aku mengatakan kau bisa melakukan ini, kau pasti bisa Sayang! Apa kau mau mencobanya lagi?"
Gardenia mengangguk, seperti seekor mangsa yang tunduk di dekapan pemangsa.
Sementara di tempat lain, di sebuah kamar besar, sepsang suami istri sedang melakukan sebuah percakapan yang memang berbanding terbalik dengan pasangan sebelumnya .
"Kak!"
"Hmmm!"
"Sebenarnya Erland itu siapa? Kenapa orang-orang Kakak masih tidak bisa menemukan apapun? Setahuku, Kakak itu bisa menaklukkan banyak hal, masalah mencari informasi tentang orang lain sepertinya itu tidak sulit bukan?"
__ADS_1
Aaron melepas kacamata bacanya. Ia menatap Azzura yang sedang duduk di meja belajar, sembari menengok ke arahnya. Posisi tubuh yang saling memunggungi satu sama lain membuat mereka harus melakukan cara lebih agar bisa saling menatap.
"Kemarilah!" Aaron melambaikan tangan setelah memutar kursinya. Azzura pun berdiri kemudian duduk di pangkuan Aaron, tangan mungilnya mulai bergerak memainkan kancing piyama di baju yang suaminya kenakan.
"Aku tidak mengerti apakah Erland ini benar-benar bersih atau dia memang bisa menyembunyikan identitasnya dengan baik. Selain riwayat hidup yang pernah dia berikan kepada pihak perusahaan, tidak ada hal lain yang mencurigakan. Tapi karena data-data itu akurasinya sangat tepat, aku menjadi memiliki keyakinan kalau dia memang sengaja membuat identitas palsu."
Wanita cantik itu diam untuk sesaat. Dia datang ke novel ini terlalu cepat. Andai Azzura datang lebih lama, dia pasti akan mengetahui apa sebenarnya motif Erland melakukan ini kepada Aaron, siapa Aaron dan apa yang Erland inginkan. Yang Azzura tahu hanya, Aaron memiliki seorang musuh dalam selimut. Sedangkan siapa itu masih menjadi misteri.
"Rubby, apa kau bisa membantuku? Kenapa kau tidak mencaritahu siapa Erland sebenarnya. kau mampu bukan melakukan semua itu?"
"Maafkan aku Bos, sekalipun aku tahu, aku tidak akan memberitahu mu. Itu bukan ranah ku. Tugasku hanya menjaga dan menemanimu. Menjaga hubungan kalian dan tidur. Jika ini tentang orang lain, meskipun aku tahu, aku tidak akan melakukannya karena itu sudah melanggar kode etik."
"Eissshhhhhh. Kau itu benar-benar Rubby. Kerjaan mu hanya makan dan tidur. Bisa lah melanggar kode etik sedikit?"
"Kak, kau harus berhati-hati. Jangan sampai kau terluka. Aku sudah bilang kalau aku ingin menjadi penjagamu saja. Kalau kita terus bersama, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."
Aaron tersenyum, tangan besarnya menggenggam tangan Azzura yang sedang mengelus wajah tampannya penuh kasih sayang, tatapan mereka bertemu, bibir itu semakin tersungging lebar.
"Kakak!" Azzura memekik tat kala Aaron mencubit kecil hidungnya.
"Jangan pernah mencoba untuk membujukku Sayang, sekalipun kau meminta sambil memohon-mohon, aku tidak akan pernah rela jika kau menjadi tameng ku. Yang harus melindungi itu pria, bukan wanita."
"Eitsssss, kata siapa? Tidak ada aturan mutlak siapa harus melindungi siapa. Aku adalah orang terkuat di dekat mu Kak, daripada menghamburkan uang untuk membayar bodyguard, lebih baik Kakak mempekerjakan aku saja, Kakak gak harus bayar menggunakan uang, cukup berikan aku kasih sayang dan kesetiaan. Aku berjanji aku akan mengabdi padamu."
"Lebih baik aku menghamburkan uang untuk membayar orang daripada harus membahayakan nyawamu. Lagipula, apakah kau lupa kalau yang harusnya mengabdi itu adalah aku? Sekarang bosnya di sini adalah kau, aku hanya menumpang."
__ADS_1
Aaron membaringkan Azzura di atas ranjang kemudian ikut berbaring dan memeluk sang istri dari belakang. Posisi ini sangat Aaron sukai. Dia bisa tidur sembari membenamkan wajah pada bahu istrinya, dan dia bisa menjelajahi bukit kesayangannya dengan leluasa.
"Tapi Kak ...!"
"Sudah, tidur dulu. Besok kita masih harus memulai hari yang panjang. Besok aku tidak pergi ke kantor, berangkat aku antar, pulang aku yang jemput. Jangan pernah berpikir untuk bertemu dengan pria itu."
****
Azzura memasuki area kampus dengan wajah berbinar. Keyakinannya tentang Aaron semakin lama semakin kuat, dia semakin yakin kalau Aaron adalah jodoh yang Tuhan kirimkan untuknya. Mungkin ini adalah bonus karena selama menjalani kehidupan di dunianya, Azzura tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak. Dia akan senantiasa patuh, menjalankan setiap hal dengan ikhlas meskipun tidak mudah.
"Hei! Wanita siala*!"
"Yakkkkk!"
"Azzura!!!!"
Azzura menoleh ketika namanya di teriakan oleh seseorang.
"Kau memanggilku?" tanya Azzura menautkan alis.
"Memang nya ada wanita sialan di kampus ini selain kau? Aku rasa tidak ada."
"Apa yang kau inginkan?" ketus Azzura merasa jika percakapan ini tidaklah penting untuknya.
"Prof. Li memanggil mu, dia ada di parkiran kampus. Sebaiknya kau pergi sekarang jika tidak ingin nilai-nilai mu jeblok."
__ADS_1