Back To Castle

Back To Castle
satu


__ADS_3

Di langit yang gelap malam ini, bintang seperti enggan untuk menghiasi langit, rembulan yang bersinar sendirian, tanpa ada satupun bintang yang menemaninya,namun tetap setia menerangi bumi ini


Namun tak menyurutkan niat dalam hati sepasang pasutri yang sedang dimabuk oleh indahnya asmara, keduanya tampak asyik bermesraan di bawah indahnya sinar rembulan


Tak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain yang melihat, kedua insan tersebut tetap menikmati kein#timan diantara mereka berdua


Sebuah alas dari tikar seolah tak menjadi masalah untuk mereka berdua, karena kini mereka berada di sebuah gazibo yang ada di sebuah taman yang indah


Para dayang yang melihat tak sedikitpun berani menoleh kembali untuk mengamati dengan seksama, mereka seolah menjadi malu sendiri jika harus berlama lama di dalam ruang kamar raja mereka


Kamar sang raja sangatlah luas, bahkan lebih luas dari lapangan sepak bola, di dalam nya ada taman yang luas yang mengelilingi sebuah aula yang ada di tengah taman tersebut


Dan beberapa gazibo yang di bangun diantara taman-taman tersebut, membuat elok dan indah kamar dari sang raja


"Kanda, apa tidak apa-apa kita melakukannya di tempat ini...???"


"Sudah terlanjur dinda, mengapa engkau baru mengatakannya" kata lelaki yang bertubuh kekar

__ADS_1


Mereka berdua melanjutkan apa yang telah mereka mulai, sentuhan hangat dari lelaki yang ada di sampingnya membuat nya terbang menembus nirwana


Setelah apa yang terjadi, keduanya masih terlihat menikmati waktu bersama, memangku wanitanya dalam dekapannya, yang masih berselimut kain sutra yang di pakai


Setelah beberapa lama menikmati waktu sebuah ketukan keras dari pintu kamar terdengar dengan sangat keras dan terkesan tergesa Gesa


Ketukan kentongan terdengar sangat keras di luar kamar, bergegas sang raja dan sang ratu beranjak dan memakai kembali pakaian yang telah berantakan


"Apa yang terjadi...???" Raja Adiyaksa menanyakan keadaan


"Bawa Panji sastra dan Arum Dalu menuju tempat persembunyian" bergegas prabu Adiyaksa menuju ke pintu kamarnya


"Apa yang terjadi....???" Prabu Adiyaksa bertanya pada prajurit yang membungkuk di depannya


"Ada penyusup yang mulia, dan mereka sudah merangsak hingga ke dalam ruang aula" penjelasan dari prajurit itu tak mendapatkan tanggapan apa-apa, prabu Adiyaksa hanya terdiam


"Baiklah, perketat pertahanan, aku akan segera menyusul" jawab prabu Adiyaksa dan langsung kembali masuk ke dalam kamarnya

__ADS_1


Terlihat berlari Dewi sekardalu sambil menggendong anak kecil laki-laki berumur lima tahun yaitu Panji sastra


"Kanda, putrii Arumdalu tidak ada.!!!" Kata sang ratu dengan nada cemas


Prabu Adiyaksa teringat jika anak Putri nya Arumdalu dibawa pamannya Hastrayasa berkeliling istana


"Aku ingat jika tadi paman Hastrayasa meminta ijin membawa Arumdalu untuk berkeliling istana" jawab prabu Adiyaksa dengan nada lirih


"Cari putri kita kanda, aku takut dia dalam bahaya" ratu sekardalu berkata sambil menangis mendengar perkataan suaminya


"Dinda segera menuju ke dalam ruang persembunyian, kanda akan mencari putri kita" bergegas prabu Adiyaksa pergi meninggalkan istrinya setelah berkata


Ruangan demi ruangan di seluruh istana sudah di geledah oleh prabu Adiyaksa, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan putri Arumdalu


"Satu satunya yang belum di geledah adalah di ruang aula pertemuan, tapi disana menurut prajurit sudah terjadi pertarungan, itu akan sangat berbahaya jika sampai putri Arumdalu di sana" gumam prabu Adiyaksa


Prabu Adiyaksa mengeluarkan jurus Panglimunan, tubuhnya kini seperti angin yang tak terlihat oleh mata, tapi masih bisa dirasakan oleh orang yang memiliki kekuatan tinggi

__ADS_1


__ADS_2