
Patih Lintang Sanggabumi tak menjawab, sebuah darah keluar dari mulutnya setelah beberapa kali terbatuk
Melihat wanita di depannya merasa dalam kondisi kurang baik, dia langsung mendekat ke arah Patih Lintang Sanggabumi "biar aku bantu" katanya sambil mengulurkan tangannya
Patih Lintang Sanggabumi meraih tangan lelaki yang tak jelas itu, dan Joko Patah mendudukkan Patih Lintang Sanggabumi dan meminta nya untuk duduk bersila
Kembali darah segar keluar dari dalam mulut Patih Lintang Sanggabumi, Joko Patah semakin bingung harus berbuat apa, karena kini apa yang akan dia lakukan harus membuka sebagian pakaian dari wanita yang ada di hadapannya
"Maafkan aku tapi ini sudah tak bisa lagi di tunda lagi, aku takut jika semakin lama dibiarkan kondisinya akan semakin memburuk" kata Joko Patah sambil mondar mandir di hadapan Patih Lintang Sanggabumi
"Kalau begitu cepat lakukan" lirih Patih Lintang Sanggabumi menjawab
"Tapi ini sedikit membuka pakaian mu" Joko Patah terdiam setelah menjelaskan
Karena tatapan Patih Lintang Sanggabumi kini mengarah padanya
"Apa maksudmu, kau mau mencari kesem...." Belum selesai Patih Lintang Sanggabumi berkata, kembali darah keluar dari mulutnya setelah dia mencoba berkata
__ADS_1
Joko Patah paham jika semakin lama dan semakin wanita itu bergerak maka luka dalamnya akan semakin parah
Joko Patah langsung mengambil posisi duduk di belakang wanita itu dan langsung membuka pakaian yang menutupi punggungnya
Patih Lintang Sanggabumi tak bisa menolak jika lelaki tak jelas itu terlihat jelas sedang membuka pakaian nya
Tapi semakin banyak dia bergerak dia merasakan ulu hatinya semakin sakit, maka dari itu dia memilih diam asalkan dalam batas wajar
Melihat tubuh putih mulus tanpa cacat membuat Joko Patah harus beberapa kali menelan ludah, karena kini sesuatu yang ada di bawah sulit untuk di redam agar tidak menjulang tinggi
"Cepat" satu kata yang keluar dari bibir wanita di depannya membuat lamunan Joko Patah buyar
Satu dua totokan hari dari Joko Patah membuat wanita di depannya menyerang kesakitan dan kembali memuntahkan darah
Tapi setelah rasa sakit itu hilang, dada Patih Lintang Sanggabumi merasa lebih baik, dada nya tak lagi sesak dan ulu hatinya perlahan tak merasakan sakit
Tapi bukan kata terima kasih, tapi sebuah tamparan keras yang membuat pipi Joko Patah merah dan berbekas tangan
__ADS_1
Joko Patah meringis menahan sakit tapi memang tak ada balasan dari Joko Patah, karena dia sendiri tak ingin melanjutkan pertarungan dengan wanita itu
"Apa begitu caramu berterima kasih...???" Lemas Joko berkata sambil memegang pipinya yang membekas tangan
"Harusnya aku membunuh mu" kali ini sebuah pedang sudah di depan tenggorokan Joko Patah
Joko Patah memejamkan matanya dan memohon ampun pada wanita yang kembali naik darah setelah merasa jika dirinya mampu bertarung kembali
"Aku minta maaf, tapi tolong jauhkan pedangmu nona" pinta Joko Patah sambil tersenyum
Patih Lintang Sanggabumi menyarangkan kembali pedangnya dan bergerak meninggalkan Joko patah
dia berjalan ke arah paman Hastrayasa yang berbaring dibawah pohon, karena saat ini paman Hastrayasa harus secepatnya mendapatkan pertolongan
Joko Patah bangun dan menghampiri Patih Lintang Sanggabumi "kalian mau kemana...???" tanya Joko Patah sesaat melihat jika wanita di depannya itu bersiap untuk pergi
"apa kau tahu dimana tempat Ki Suropati, aku mendapatkan kabar dia tinggal di lereng gunung Merapi" jawab Patih Lintang Sanggabumi sambil menggendong paman Hastrayasa di pundaknya
__ADS_1
"biar aku yang menggendongnya, karena aku tau dimana tempat yang bibik tuju"
"baiklah"