
Tubuh Danang Suseno membiru dan mengejang, Wiryo hadirojo tak melakukan apa-apa karena dia tau jika Danang Suseno terkena ajian tapak setan
Prabu Adiyaksa melangkah menuju ke arah tubuh Danang Suseno yang tergeletak tak berdaya, hanya tinggal menunggu ajal menjemput nya
"Ini balasan untuk seorang penghianat" sebuah keris dikeluarkan dari balik pinggang prabu Adiyaksa, dan langsung di ditancapkan di perut Danang Suseno
Wiryo hadirojo gemetar melihat tubuh Danang Suseno sudah tak bergerak, dan melihat prabu Adiyaksa berjalan ke arahnya, membuat tubuhnya kembali memasang kuda-kuda tapi kali ini nafasnya terlihat tak beraturan, seperti orang yang sedang ketakutan
"Apa kau sudah siap menyusul Danang Suseno mati" perkataan prabu Adiyaksa membuat tubuh dari Wiryo hadirojo semakin ketakutan
Sebuah keris kembali di keluarkan dari pinggang prabu Adiyaksa, keris itu masih terlihat bersimbah darah berwarna merah, tapi sebelum prabu Adiyaksa melanjutkan niatnya sebuah busur anak panah melesat ke arahnya
Dengan refleks yang yang sangat cepat prabu Adiyaksa menghindari serangan busur anak panah tersebut, dan langsung pandangan nya mengarah ke arah asal dimana anak panah itu berasal
Sebuah rombongan datang, dengan beberapa orang yang tampak tak asing di mata prabu Adiyaksa, "kerajaan lingga" gumam prabu Adiyaksa
"Apa yang kalian lakukan di sini...???" Kata prabu Adiyaksa Melihat ke arah rombongan yang baru saja datang
Dia melihat prabu Losanjaya raja dari kerajaan Lingga, Patih kerajaan Lingga Satria Mahardika yang merupakan anak dari prabu Losanjaya sendiri, dan Tumenggung Aryo Tejo yang merupakan Tumenggung dari kerajaan Dharmasraya dan beberapa orang yang mungkin menjadi punggawa di kerajaan Lingga
"Tumenggung Aryo Tejo" kata lirih yang keluar dari bibir prabu Adiyaksa
"Ternyata kau salah satu dari penghianat kerajaan Dharmasraya, apa dosaku kepada kalian semua, apa aku kurang baik terhadap kalian...????"
Melihat kedatangan rombongan dari kerajaan Lingga, Patih Baladewa berjalan maju menuju ke arah prabu Adiyaksa dan berdiri di belakangnya "sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang Gusti prabu" kata Patih Baladewa yang kini berdiri di belakang prabu Adiyaksa
"Pergilah Patih Baladewa" prabu Adiyaksa berkata sambil menyerahkan sesuatu kepada Patih Baladewa
__ADS_1
Tak ada yang tau apa yang diberikan oleh prabu Adiyaksa pada Patih Baladewa, karena cahaya obor yang menyinari tempat itu sudah terlihat redup setelah terjadinya pertarungan sebelumnya
"Baiklah" Patih Baladewa masuk ke dalam kerajaan Dharmasraya dan menghilang di balik kegelapan
Melihat bantuan yang memang selama ini direncanakan oleh Senopati Wiryo hadirojo membuat tatapan matanya kembali tajam, langkahnya kembali tegap dan nafasnya sudah kembali teratur
Perlahan berjalan mendekat pada rombongan kerajaan Lingga, Senopati Wiryo hadirojo berdiri di samping tumenggung Aryo Tejo
"Kami menawarkan perdamaian tanpa harus terjadinya pertumpahan darah prabu Adiyaksa" kali ini prabu Losanjaya berkata dengan nada sedikit tersenyum
"Aku ingin pertumpahan darah menjadi akhir dari kekacauan ini, aku tak akan membiarkan penghianat hidup dengan bebas di wilayah kekuasaan ku" jawaban prabu Adiyaksa membuat Senopati Wiryo hadirojo dan Tumenggung Aryo Tejo sedikit merinding
"Aku yakin, aku seorang sudah mampu mengalahkan kalian semua" kembali prabu Adiyaksa melanjutkan perkataannya dengan mengeluarkan sebuah senjata dari dalam tubuhnya
Aura energi dari dalam pedang itu sangat terasa, kekuatan besar tersimpan di dalam pedang tersebut "pedang naga hijau" gumam prabu Losanjaya
"Kau terlalu bernafsu prabu Adiyaksa, aku bukan orang yang suka dengan cara kekerasan" prabu Losanjaya menanggapi sikap prabu Adiyaksa yang sudah mengeluarkan pusaka terhebat nya
Prabu Losanjaya tersenyum dan menepuk tangannya satu kali, dari belakang rombongan muncul seorang wanita yang membuat mata prabu Adiyaksa menatap tajam tak berkedip
Dewi sekardalu dan putra mahkota Panji Sastra berjalan jongkok dengan tangan di ikat ke belakang, dan di belakangnya berdiri Dewi Mayangsari yang merupakan selir dari prabu Adiyaksa
Tatapan amarah terlihat dari mata prabu Adiyaksa, tangannya mengepal erat, emosinya memuncak melihat pemandangan yang tak pernah dia sangka sebelumnya
Melihat anak dan istrinya diperlakukan bagaikan hewan, tapi prabu Adiyaksa tidak bisa melakukan apapun, karena di leher mereka sudah ada sebuah pedang yang siap memotong leher mereka kapanpun
"dasar licik,,Apa yang kau inginkan..??" Berteriak prabu Adiyaksa
__ADS_1
Prabu Losanjaya hanya tersenyum melihat prabu Adiyaksa sudah tak bisa lagi berlagak seperti orang yang memiliki pilihan
"Hanya satu yang aku ingin miliki, serahkan pedang naga hijau dan aku akan melepaskan mereka" perkataan prabu Losanjaya membuat prabu Adiyaksa terkejut, karena dia tau bahwa siapapun yang memegang pedang naga, entah itu naga hijau ataupun naga merah harus memiliki darah keturunan nya, karena pedang itu adalah pedang yang dimiliki oleh leluhur nya, yang sudah turun menurun menjadi sebuah tradisi keluarga, dan jika ada orang lain yang ingin menguasai pedang itu, maka dia harus menumbalkan darah, darah seorang ahli waris pedang naga, jika ahli waris seorang laki-laki maka dia harus di bunuh dan di minum darahnya, sedangkan jika ahli waris seorang perempuan, maka dia harus bersetubuh dengan nya agar jiwa mereka menyatu, tetapi saat ini hanya ada Panji Sastra yang ada di hadapan prabu Losanjaya, jika pun ada Arumdalu, itu tidak akan ada artinya, karena prabu Losanjaya tidak mungkin menunggu sampai Arumdalu berusia tujuh belas tahun, hanya untuk memuaskan hasratnya menguasai pedang naga
Itu berarti hanya Dewi sekardalu yang akan dilepaskan, sedangkan Panji Sastra akan menjadi tumbal untuk pemegang pedang naga hijau
"Aku mengerti pilihan ini berat, di satu sisi kau sangat menyayangi Dewi sekardalu, sedangkan di sisi lain kau mengerti bagaimana ritual pemegang pedang naga hijau, tapi semua terserah padamu, jika kau berniat melawan aku jamin, kepala mereka akan terpisah dari tubuhnya saat ini juga, tapi jika kau menyerahkan pedang naga hijau, kau masih bisa melihat Dewi sekardalu hidup" kembali pernyataan yang di katakan oleh prabu Losanjaya membuat pilihan yang sulit bagi prabu Adiyaksa
"Kau memang sudah tidak waras, kau gila, kau bunuh saja aku lepaskan Mereka, kau hanya memiliki urusan dengan ku, bukan mereka" teriak prabu Adiyaksa membalas perkataan prabu Losanjaya
Prabu Losanjaya tersenyum kembali karena kemenangan sudah ada di depan mata, "apapun yang akan terjadi, aku adalah pemenangnya" teriak prabu Losanjaya dengan keras
Di dalam diri prabu Adiyaksa jiwanya merasa tak kuat menahan semua beban yang saat ini dia pikul, nasib keluarganya harus berakhir seperti ini
Jika sampai kedua orang yang ada di depannya mati maka hidupnya tidak ada artinya lagi, tapi jika harus mengorbankan Panji Sastra untuk melepaskan Dewi sekardalu, itu sama saja menghukum dirinya dalam penyesalan seumur hidup
Itu menjadi pilihan yang sulit bagi prabu Adiyaksa, yang kini tertunduk dengan hanya jongkok melihat kedua orang yang dia sayangi harus mati karena ini
Prabu Adiyaksa melepaskan genggaman pedang naga hijau dan menancapkan di atas tanah, Patih Satria Mahardika berjalan ke depan melewati Dewi sekardalu dan Panji Sastra yang jongkok di depan rombongan kerajaan Lingga, berjalan lurus menuju ke arah prabu Adiyaksa dengan tatapan tajam dan sedikit senyuman membunuh
Setelah berdiri di hadapan prabu Adiyaksa, tatapan mata dari Satria Mahardika semakin tajam seolah memendam dendam yang kuat, karena memang selama ini kerajaan Lingga berada di bawah kekuasaan kerajaan Dharmasraya
Prabu Adiyaksa hanya tertunduk menghadap ke bawah, meski tahu jika Satria Mahardika sudah berdiri di hadapannya
Tapi dia tetap saja menunduk seolah pasrah apa yang akan terjadi karena dalam pikirannya jika Panji Sastra mati maka dia juga pasti akan dibunuh oleh prabu Losanjaya setelah berhasil menguasai pedang naga hijau, tidak mungkin prabu Losanjaya membiarkan prabu Adiyaksa hidup begitu saja, tapi setidaknya Dewi sekardalu bisa hidup karena tidak ada kaitannya dengan semua ini
Sebelum tangan Satria Mahardika memegang pedang naga hijau sebuah kata terdengar jelas "tunggu dulu, dimana pedang naga merah, pedang naga hijau dan pedang naga merah adalah sepasang, jika hanya ada pedang naga hijau sama saja kekuatan pedang itu belum sempurna, meskipun aku tak meragukan kekuatan pedang naga hijau, tapi kesempurnaan sebuah pusaka itu amatlah penting" kata itu berasal dari prabu Losanjaya
__ADS_1
Tertawa prabu Adiyaksa meskipun terdengar lirih "kalian terlambat, aku sudah menyerahkan pedang naga merah pada seseorang, jadi percuma kalian mencarinya" perkataan prabu Adiyaksa membuat Satria Mahardika naik darah karena merasa di permainkan, dengan cepat Satria Mahardika menarik pedangnya dan memenggal kepala prabu Adiyaksa
Teriakan keras dari Dewi sekardalu, melihat suaminya mati di depan matanya sendiri dengan cara yang mengenaskan