
Perlahan pedang yang ada di genggaman Patih Lintang Sanggabumi ditangguhkan, sorot matanya berubah menjadi lebih teduh
Seolah pemikiran yang akan dia ambil adalah menyelamatkan Putri Sekar Ningrum dari kematian
"Itu cukup mudah kan, kalau begitu cepat katakan"
"Diam kau Harso"
"Maaf kakang" kembali Harso menarik kata-katanya
"Baiklah aku akan katakan dimana jasad guru kalian" Patih Lintang Sanggabumi menunduk mencoba menguatkan hatinya untuk berkata
Tetapi sebelum Patih Lintang Sanggabumi berkata, bumi bergetar langit mendung, dan angin berhembus kencang
Tiba-tiba tanah di bawah pijakan Darso terbelah dan keluar sebuah ular besar menelan Darso dan putri Sekar Ningrum
Mata Patih Lintang Sanggabumi maupun Harso yang merupakan adik dari Darso terbuka lebar kaget bukan buatan
Ular itu keluar dari dalam tanah dan kini menelan putri Sekar Ningrum dan Darso tetapi setelah beberapa saat ular itu memuntahkan sesuatu hingga membentuk pepohonan
__ADS_1
Sesuatu itu adalah Darso yang kini berlumuran lendir dari ular hitam raksasa tersebut
Tatapan amarah Darso terlihat begitu tubuhnya penuh dengan bau lendir yang membasahi setiap inci tubuhnya
Tanpa menunggu aba-aba Darso langsung menyerang ke arah ular yang masih menatap ke arahnya
"Ban#sat" sebuah kata di iringi pukulan maha dahsyat yang di lakukan Darso membuat ular itu terkejut
Sosok ular melilit tubuh Darso dengan erat tapi tidak mudah untuk ular itu mencengkeram terlalu kuat, karena Darso dengan ajian Bandung Bondowoso nya membuat tubuhnya kokoh seperti batu
Berhasil keluar dari lilitan ular dengan jurus Bandung Bondowoso membuat Darso tersenyum bangga
Sosok ular perlahan berubah bentuk menjadi seorang lelaki paruh baya yang Darso pun mengenalinya
Paman Hastrayasa menggendong putri Sekar Ningrum di dekapan nya, dan berjalan menghampiri Patih Lintang Sanggabumi
"Terima kasih paman Hastrayasa, aku tak mengira jika itu adalah paman"
"Sudahlah kita harus cepat pergi dari tempat ini" balas paman Hastrayasa mengingat lawan yang dihadapi bukanlah orang sembarangan
__ADS_1
"Kalian berdua membuatku muak" Darso mulai memasang kuda-kuda energi nya di pusatkan pada seluruh tubuhnya
"Ajian Bandung Bondowoso" gumam paman Hastrayasa
Darso menyerang dengan bertubi-tubi ke arah paman Hastrayasa maupun Patih Lintang Sanggabumi, tempat pertempuran menjadi hancur karena setiap pukulan yang meleset dari Darso mampu membuat pepohonan tumbang
"Paman selamat kan putri Sekar Ningrum, biar aku yang menghadang Darso" kata Patih Lintang Sanggabumi
Paman Hastrayasa hanya mengangguk memahami apa yang di perintahkan Patih Lintang Sanggabumi kepadanya
Patih Lintang Sanggabumi kini mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh nya membentengi tubuh dengan ajian tameng Waja
Kebanyakan pendekar menggunakan ajian Bandung Bondowoso maupun tameng Waja sebagai perisai pelindung maka tidak heran jika banyak pendekar berilmu tinggi yang menguasainya
Tetapi kemampuan bertahan mereka masih tergantung pada kesempurnaan jurus tersebut, bisa saja sesama pengguna jurus yang sama tetapi di Medan pertarungan dia juga dikalahkan oleh jurus yang sama
Itu semua karena siapa yang lebih sempurna memiliki jurus itu maka semakin besar kemungkinan untuk bisa melumpuhkan lawannya
pandangan Patih Lintang Sanggabumi tajam mengarah pada Darso yang sudah siap untuk melawan
__ADS_1
sebuah cahaya kuning menyelimuti tubuh Patih Lintang Sanggabumi setelah tubuhnya di selimuti ajian tameng Waja
berbeda dengan tubuh Darso yang di selimuti oleh warna hitam pekat dari perwujudan ajian Bandung Bondowoso