Back To Castle

Back To Castle
duapuluhtujuh


__ADS_3

Perlahan pedang yang ada di genggaman Patih Lintang Sanggabumi ditangguhkan, sorot matanya berubah menjadi lebih teduh


Seolah pemikiran yang akan dia ambil adalah menyelamatkan Putri Sekar Ningrum dari kematian


"Itu cukup mudah kan, kalau begitu cepat katakan"


"Diam kau Harso"


"Maaf kakang" kembali Harso menarik kata-katanya


"Baiklah aku akan katakan dimana jasad guru kalian" Patih Lintang Sanggabumi menunduk mencoba menguatkan hatinya untuk berkata


Tetapi sebelum Patih Lintang Sanggabumi berkata, bumi bergetar langit mendung, dan angin berhembus kencang


Tiba-tiba tanah di bawah pijakan Darso terbelah dan keluar sebuah ular besar menelan Darso dan putri Sekar Ningrum


Mata Patih Lintang Sanggabumi maupun Harso yang merupakan adik dari Darso terbuka lebar kaget bukan buatan


Ular itu keluar dari dalam tanah dan kini menelan putri Sekar Ningrum dan Darso tetapi setelah beberapa saat ular itu memuntahkan sesuatu hingga membentuk pepohonan

__ADS_1


Sesuatu itu adalah Darso yang kini berlumuran lendir dari ular hitam raksasa tersebut


Tatapan amarah Darso terlihat begitu tubuhnya penuh dengan bau lendir yang membasahi setiap inci tubuhnya


Tanpa menunggu aba-aba Darso langsung menyerang ke arah ular yang masih menatap ke arahnya


"Ban#sat" sebuah kata di iringi pukulan maha dahsyat yang di lakukan Darso membuat ular itu terkejut


Sosok ular melilit tubuh Darso dengan erat tapi tidak mudah untuk ular itu mencengkeram terlalu kuat, karena Darso dengan ajian Bandung Bondowoso nya membuat tubuhnya kokoh seperti batu


Berhasil keluar dari lilitan ular dengan jurus Bandung Bondowoso membuat Darso tersenyum bangga


Sosok ular perlahan berubah bentuk menjadi seorang lelaki paruh baya yang Darso pun mengenalinya


Paman Hastrayasa menggendong putri Sekar Ningrum di dekapan nya, dan berjalan menghampiri Patih Lintang Sanggabumi


"Terima kasih paman Hastrayasa, aku tak mengira jika itu adalah paman"


"Sudahlah kita harus cepat pergi dari tempat ini" balas paman Hastrayasa mengingat lawan yang dihadapi bukanlah orang sembarangan

__ADS_1


"Kalian berdua membuatku muak" Darso mulai memasang kuda-kuda energi nya di pusatkan pada seluruh tubuhnya


"Ajian Bandung Bondowoso" gumam paman Hastrayasa


Darso menyerang dengan bertubi-tubi ke arah paman Hastrayasa maupun Patih Lintang Sanggabumi, tempat pertempuran menjadi hancur karena setiap pukulan yang meleset dari Darso mampu membuat pepohonan tumbang


"Paman selamat kan putri Sekar Ningrum, biar aku yang menghadang Darso" kata Patih Lintang Sanggabumi


Paman Hastrayasa hanya mengangguk memahami apa yang di perintahkan Patih Lintang Sanggabumi kepadanya


Patih Lintang Sanggabumi kini mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh nya membentengi tubuh dengan ajian tameng Waja


Kebanyakan pendekar menggunakan ajian Bandung Bondowoso maupun tameng Waja sebagai perisai pelindung maka tidak heran jika banyak pendekar berilmu tinggi yang menguasainya


Tetapi kemampuan bertahan mereka masih tergantung pada kesempurnaan jurus tersebut, bisa saja sesama pengguna jurus yang sama tetapi di Medan pertarungan dia juga dikalahkan oleh jurus yang sama


Itu semua karena siapa yang lebih sempurna memiliki jurus itu maka semakin besar kemungkinan untuk bisa melumpuhkan lawannya


pandangan Patih Lintang Sanggabumi tajam mengarah pada Darso yang sudah siap untuk melawan

__ADS_1


sebuah cahaya kuning menyelimuti tubuh Patih Lintang Sanggabumi setelah tubuhnya di selimuti ajian tameng Waja


berbeda dengan tubuh Darso yang di selimuti oleh warna hitam pekat dari perwujudan ajian Bandung Bondowoso


__ADS_2