
Purnama tinggal beberapa hari lagi, tampak seorang wanita berjalan di rimbunnya hutan belantara dengan dibahunya menggendong sosok tubuh yang terbujur kaku tak berdaya
Catatan : tolong jangan dibayangkan seorang wanita menggendong seorang lelaki, entah itu bisa atau tidak, kita anggap bisa seperti itu hhhhh
Rimbunnya pepohonan membuat hutan tersebut seolah terselimuti oleh kabut tebal yang sangat pekat
Udara dingin dan Medan yang terjal tak membuat wanita tersebut berhenti mencapai tujuannya
Terengah-engah nafasnya karena beban yang dipikul bukanlah sebuah beban berat kehidupan, melainkan beban berat tubuh kaki manusia
Lereng gunung Merapi, memang sangat menjadi salah satu lereng gunung yang masih asri
Tak banyak dijamah manusia, karena Medan yang sulit juga menjadi gunung yang penuh dengan seribu misteri
Patih Lintang Sanggabumi menurunkan tubuh paman Hastrayasa yang sudah tak berdaya dibawah pohon rindang
Satu tegukan air yang dia bawa sebagai bekal perlahan mulai habis dia teguk beberapa saat setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan
Pengalaman pertamanya menginjakan kaki di gunung Merapi memang baru dia rasakan kali ini
Petunjuk yang di berikan oleh Rakijanwojo adalah sisi barat lereng gunung Merapi
__ADS_1
Dan kini Patih Lintang Sanggabumi sudah masuk hingga ke tengah hutan di lereng gunung Merapi
Membuat sedikit lagi akan tiba ditempat yang di sebutkan oleh Rakijanwojo
Patih Lintang Sanggabumi kembali memopong paman Hastrayasa di pundaknya, namun kali ini tatapannya melirik ke arah kiri tempatnya berada
Di kejauhan di balik semak-semak belukar dan pepohonan yang rindang
Entah apa yang ditatap olehnya, yang pasti terjadi kali ini dia kembali meletakkan tubuh paman Hastrayasa dan berjalan mendekat ke arah kiri
Matanya semakin waspada, tapi sebelum dia kembali melangkah sebuah sosok muncul di balik pepohonan
"Siapa kau, apa yang kau lakukan disini....????" Patih Lintang Sanggabumi mencoba bertanya maksud kedatangan lelaki muda tersebut
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau berada di tempat ini, apa kau kesasar, atau karena kau sedang bermesraan dengan lelaki itu" balas lelaki muda itu yang tak lain adalah Joko Patah sambil menunjuk ke arah tubuh paman Hastrayasa berbaring
"Jaga omongan mu" Patih Lintang Sanggabumi langsung menyerang Joko dengan ilmu Kanuragan karena merasa tersinggung
Joko Patah mampu dengan mudah menghindari setiap serangan dari Patih Lintang Sanggabumi
Dia masih tersenyum bangga, entah apa yang dia banggakan, atau mungkin karena dia berhasil membuat seorang wanita tak sadarkan diri setelah bertarung dengannya Beberapa hari lalu
__ADS_1
Karena kini tatapan Joko setiap kali melihat wanita selalu tersenyum
"Hebat juga kau anak muda" puji Patih Lintang Sanggabumi pada lelaki yang tak jelas asal usulnya
"Kalau cuma membuatmu lemas aku juga masih mampu" sindir Joko pada Patih Lintang Sanggabumi
Dia tak tau dengan siapa dia berhadapan, tapi karena ketidaktauhan nya itu dia bersikap seenaknya sendiri
Patih Lintang Sanggabumi mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya, cahaya terang menyelimuti sekitar tempat pertarungan mereka
Meski sedikit kaget bahwa wanita yang di hadapinya bukan orang sembarangan, Joko patah juga mulai menggunakan sebuah jurus yang memancarkan cahaya kuning menyelimuti tubuhnya
Patih Lintang Sanggabumi menyerang lurus ke arah Joko Patah, setiap tebasan berhasil dia hindari dengan mudah, meski kini Patih Lintang Sanggabumi mengeluarkan pusaka yang dia bawa, tapi sepertinya itu belum mampu untuk melukai tubuh lelaki muda yang masih tersenyum tak jelas
"Kau meremehkan ku anak muda" sebuah tenaga dalam di keluarkan oleh Patih Lintang Sanggabumi
Sebuah kaca mulai muncul mengelilingi Joko Patah, membuatnya bingung karena bayangan mulai muncul di setiap kaca yang ada
"Nilon Sewu"
mohon maaf sering telat up,
__ADS_1