Back To Castle

Back To Castle
tigapuluhlima


__ADS_3

Purnama tinggal beberapa hari lagi, tampak seorang wanita berjalan di rimbunnya hutan belantara dengan dibahunya menggendong sosok tubuh yang terbujur kaku tak berdaya


Catatan : tolong jangan dibayangkan seorang wanita menggendong seorang lelaki, entah itu bisa atau tidak, kita anggap bisa seperti itu hhhhh


Rimbunnya pepohonan membuat hutan tersebut seolah terselimuti oleh kabut tebal yang sangat pekat


Udara dingin dan Medan yang terjal tak membuat wanita tersebut berhenti mencapai tujuannya


Terengah-engah nafasnya karena beban yang dipikul bukanlah sebuah beban berat kehidupan, melainkan beban berat tubuh kaki manusia


Lereng gunung Merapi, memang sangat menjadi salah satu lereng gunung yang masih asri


Tak banyak dijamah manusia, karena Medan yang sulit juga menjadi gunung yang penuh dengan seribu misteri


Patih Lintang Sanggabumi menurunkan tubuh paman Hastrayasa yang sudah tak berdaya dibawah pohon rindang


Satu tegukan air yang dia bawa sebagai bekal perlahan mulai habis dia teguk beberapa saat setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan


Pengalaman pertamanya menginjakan kaki di gunung Merapi memang baru dia rasakan kali ini


Petunjuk yang di berikan oleh Rakijanwojo adalah sisi barat lereng gunung Merapi

__ADS_1


Dan kini Patih Lintang Sanggabumi sudah masuk hingga ke tengah hutan di lereng gunung Merapi


Membuat sedikit lagi akan tiba ditempat yang di sebutkan oleh Rakijanwojo


Patih Lintang Sanggabumi kembali memopong paman Hastrayasa di pundaknya, namun kali ini tatapannya melirik ke arah kiri tempatnya berada


Di kejauhan di balik semak-semak belukar dan pepohonan yang rindang


Entah apa yang ditatap olehnya, yang pasti terjadi kali ini dia kembali meletakkan tubuh paman Hastrayasa dan berjalan mendekat ke arah kiri


Matanya semakin waspada, tapi sebelum dia kembali melangkah sebuah sosok muncul di balik pepohonan


"Siapa kau, apa yang kau lakukan disini....????" Patih Lintang Sanggabumi mencoba bertanya maksud kedatangan lelaki muda tersebut


"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau berada di tempat ini, apa kau kesasar, atau karena kau sedang bermesraan dengan lelaki itu" balas lelaki muda itu yang tak lain adalah Joko Patah sambil menunjuk ke arah tubuh paman Hastrayasa berbaring


"Jaga omongan mu" Patih Lintang Sanggabumi langsung menyerang Joko dengan ilmu Kanuragan karena merasa tersinggung


Joko Patah mampu dengan mudah menghindari setiap serangan dari Patih Lintang Sanggabumi


Dia masih tersenyum bangga, entah apa yang dia banggakan, atau mungkin karena dia berhasil membuat seorang wanita tak sadarkan diri setelah bertarung dengannya Beberapa hari lalu

__ADS_1


Karena kini tatapan Joko setiap kali melihat wanita selalu tersenyum


"Hebat juga kau anak muda" puji Patih Lintang Sanggabumi pada lelaki yang tak jelas asal usulnya


"Kalau cuma membuatmu lemas aku juga masih mampu" sindir Joko pada Patih Lintang Sanggabumi


Dia tak tau dengan siapa dia berhadapan, tapi karena ketidaktauhan nya itu dia bersikap seenaknya sendiri


Patih Lintang Sanggabumi mengeluarkan pedang yang ada di pinggangnya, cahaya terang menyelimuti sekitar tempat pertarungan mereka


Meski sedikit kaget bahwa wanita yang di hadapinya bukan orang sembarangan, Joko patah juga mulai menggunakan sebuah jurus yang memancarkan cahaya kuning menyelimuti tubuhnya


Patih Lintang Sanggabumi menyerang lurus ke arah Joko Patah, setiap tebasan berhasil dia hindari dengan mudah, meski kini Patih Lintang Sanggabumi mengeluarkan pusaka yang dia bawa, tapi sepertinya itu belum mampu untuk melukai tubuh lelaki muda yang masih tersenyum tak jelas


"Kau meremehkan ku anak muda" sebuah tenaga dalam di keluarkan oleh Patih Lintang Sanggabumi


Sebuah kaca mulai muncul mengelilingi Joko Patah, membuatnya bingung karena bayangan mulai muncul di setiap kaca yang ada


"Nilon Sewu"


mohon maaf sering telat up,

__ADS_1


__ADS_2