
Jauh dari tempat lereng gunung Merapi berada
Tepatnya di wilayah timur kerajaan Adibuana, tampak langit cerah dengan sinar matahari yang nampak terang menyinari wilayah tersebut
Di seberang perbatasan tampak berdiri ribuan prajurit siap dengan segala macam peralatan perang
Tak bisa dihindari lagi antara pasukan kerajaan Dharmasraya yang berjumlah ribuan akan berperang menghadapi prajurit dari kerajaan Adibuana
Meski berjumlah banyak namun dari mereka bukanlah seorang prajurit petarung yang sebenarnya
Itu bisa di lihat di antara barisan yang ada di seberang perbatasan, semua tampak ragu untuk maju berperang
Karena sesungguhnya mereka hanyalah rakyat jelata yang terpaksa menjadi seorang prajurit demi memenuhi hasrat raja mereka
Sedangkan di dalam wilayah kerajaan Adibuana bagian timur, Rakijanwojo berdiri di depan para prajurit yang siap dalam segala hal
Mereka merupakan prajurit terpilih dari banyaknya pendaftar yang ada
Rakijanwojo bersiap dengan tatapan tajam, ini merupakan hal diluar pemikiran nya
Di balik perbatasan seorang lelaki berdiri didepan ribuan prajurit, tatapan tajam dengan senyum yang masih tergambar
"Maju" satu kata dari lelaki berjubah merah membuat para prajurit berlari menuju wilayah kerajaan Adibuana
__ADS_1
Pedang sudah diangkat sejajar dengan perisai di depan dada, tatapan tajam melihat ke arah depan
Sebuah bunyi suara melengking terdengar, itu adalah tanda dari perbatasan jika musuh sudah bergerak maju
"Mari kita mulai" guman Rakijanwojo
"Majuuuuuuuuu" teriaknya setelah yakin akan tekadnya
Di perbatasan prajurit kerajaan Dharmasraya maupun prajurit kerajaan Adibuana saling beradu
Pukulan, tendangan, tebasan, over head, sleding tekel, bahkan salto pun dilakukan demi menumbangkan lawannya
Dilihat dari segi manapun prajurit kerajaan Adibuana jauh lebih siap meski jumlah mereka tak sebanyak prajurit kerajaan Dharmasraya
Melihat hal itu Rakijanwojo pun tak tinggal diam, dan langsung menyerang ke arah lelaki berjubah merah
Tatapan Rakijanwojo tajam menatap ke arah lelaki berjubah merah, sedangkan lelaki itu tampak menunjukan senyum di wajahnya
Entah menggambarkan arti apa dari senyuman nya, tapi bagi Rakijanwojo itu sama sekali tak berarti
Langsung satu serangan lurus ke depan namun dengan mudah ditangkis dengan tangan kanan nya
Ilmu Kanuragan keduanya pun beradu dengan kuat, ketahanan tubuh Rakijanwojo pun mampu di imbangi olehnya
__ADS_1
Mungkin senyuman tadi artinya memang dia merasa mampu mengimbangi, kurang lebih seperti itu yang dipahami oleh Rakijanwojo
Tubuh kekar Rakijanwojo mengeluarkan aura merah mencoba mengeluarkan sebuah ilmu dalam tubuhnya
Senyuman masih terukir diwajah lelaki berjubah merah tersebut tanpa sediki menunjukan rasa takut ataupun khawatir
Rakijanwojo wojo mengepalkan tangan nya, aura kuat terasa di tangan tangan Rakijanwojo
Melesat ke depan mencoba menyerang dengan kemampuan yang baru saja dia tunjukkan
Kali ini lelaki berjubah itu menunjukan rasa terkejutnya, karena tak menyangka jika saat ini musuhnya memiliki ajian yang melegenda "ajian Sangkala Pati"
Ajian yang mampu meremukan tulang dalam, meski tampak luar tak memiliki pengaruh apa-apa, tetapi tulang tempat dimana pukulan itu bersarang akan hancur tak tersisa
"Akhirnya kau serius juga tuan" kata Rakijanwojo melihat lawannya yang sekarang tampak serius
Sebuah cahaya lurus ke atas langit, seketika langit berubah mendung, kilatan petir dimana-mana
Para prajurit yang melihat cuaca yang berubah dengan tiba-tiba, secara langsung menjadi panik dan menghentikan pertarungan
Pandangan mereka menuju ke arah dimana pemimpin mereka Rakijanwojo maupun lelaki berjubah merah
Pertarungan keduanya sangat menakutkan, bahkan kini Rakijanwojo ragu untuk memulai serangan
__ADS_1
Sebuah trisula digenggam oleh lelaki berjubah merah, hanya dengan mengayunkan trisula itu ke arah Rakijanwojo, petir mulai menyambar lurus ke arah tubuh Rakijanwojo yang berdiri tak jauh dari tempat lelaki itu menyerang