Back To Castle

Back To Castle
empatpuluhsatu


__ADS_3

Jauh dari tempat lereng gunung Merapi berada


Tepatnya di wilayah timur kerajaan Adibuana, tampak langit cerah dengan sinar matahari yang nampak terang menyinari wilayah tersebut


Di seberang perbatasan tampak berdiri ribuan prajurit siap dengan segala macam peralatan perang


Tak bisa dihindari lagi antara pasukan kerajaan Dharmasraya yang berjumlah ribuan akan berperang menghadapi prajurit dari kerajaan Adibuana


Meski berjumlah banyak namun dari mereka bukanlah seorang prajurit petarung yang sebenarnya


Itu bisa di lihat di antara barisan yang ada di seberang perbatasan, semua tampak ragu untuk maju berperang


Karena sesungguhnya mereka hanyalah rakyat jelata yang terpaksa menjadi seorang prajurit demi memenuhi hasrat raja mereka


Sedangkan di dalam wilayah kerajaan Adibuana bagian timur, Rakijanwojo berdiri di depan para prajurit yang siap dalam segala hal


Mereka merupakan prajurit terpilih dari banyaknya pendaftar yang ada


Rakijanwojo bersiap dengan tatapan tajam, ini merupakan hal diluar pemikiran nya


Di balik perbatasan seorang lelaki berdiri didepan ribuan prajurit, tatapan tajam dengan senyum yang masih tergambar


"Maju" satu kata dari lelaki berjubah merah membuat para prajurit berlari menuju wilayah kerajaan Adibuana

__ADS_1


Pedang sudah diangkat sejajar dengan perisai di depan dada, tatapan tajam melihat ke arah depan


Sebuah bunyi suara melengking terdengar, itu adalah tanda dari perbatasan jika musuh sudah bergerak maju


"Mari kita mulai" guman Rakijanwojo


"Majuuuuuuuuu" teriaknya setelah yakin akan tekadnya


Di perbatasan prajurit kerajaan Dharmasraya maupun prajurit kerajaan Adibuana saling beradu


Pukulan, tendangan, tebasan, over head, sleding tekel, bahkan salto pun dilakukan demi menumbangkan lawannya


Dilihat dari segi manapun prajurit kerajaan Adibuana jauh lebih siap meski jumlah mereka tak sebanyak prajurit kerajaan Dharmasraya


Melihat hal itu Rakijanwojo pun tak tinggal diam, dan langsung menyerang ke arah lelaki berjubah merah


Tatapan Rakijanwojo tajam menatap ke arah lelaki berjubah merah, sedangkan lelaki itu tampak menunjukan senyum di wajahnya


Entah menggambarkan arti apa dari senyuman nya, tapi bagi Rakijanwojo itu sama sekali tak berarti


Langsung satu serangan lurus ke depan namun dengan mudah ditangkis dengan tangan kanan nya


Ilmu Kanuragan keduanya pun beradu dengan kuat, ketahanan tubuh Rakijanwojo pun mampu di imbangi olehnya

__ADS_1


Mungkin senyuman tadi artinya memang dia merasa mampu mengimbangi, kurang lebih seperti itu yang dipahami oleh Rakijanwojo


Tubuh kekar Rakijanwojo mengeluarkan aura merah mencoba mengeluarkan sebuah ilmu dalam tubuhnya


Senyuman masih terukir diwajah lelaki berjubah merah tersebut tanpa sediki menunjukan rasa takut ataupun khawatir


Rakijanwojo wojo mengepalkan tangan nya, aura kuat terasa di tangan tangan Rakijanwojo


Melesat ke depan mencoba menyerang dengan kemampuan yang baru saja dia tunjukkan


Kali ini lelaki berjubah itu menunjukan rasa terkejutnya, karena tak menyangka jika saat ini musuhnya memiliki ajian yang melegenda "ajian Sangkala Pati"


Ajian yang mampu meremukan tulang dalam, meski tampak luar tak memiliki pengaruh apa-apa, tetapi tulang tempat dimana pukulan itu bersarang akan hancur tak tersisa


"Akhirnya kau serius juga tuan" kata Rakijanwojo melihat lawannya yang sekarang tampak serius


Sebuah cahaya lurus ke atas langit, seketika langit berubah mendung, kilatan petir dimana-mana


Para prajurit yang melihat cuaca yang berubah dengan tiba-tiba, secara langsung menjadi panik dan menghentikan pertarungan


Pandangan mereka menuju ke arah dimana pemimpin mereka Rakijanwojo maupun lelaki berjubah merah


Pertarungan keduanya sangat menakutkan, bahkan kini Rakijanwojo ragu untuk memulai serangan

__ADS_1


Sebuah trisula digenggam oleh lelaki berjubah merah, hanya dengan mengayunkan trisula itu ke arah Rakijanwojo, petir mulai menyambar lurus ke arah tubuh Rakijanwojo yang berdiri tak jauh dari tempat lelaki itu menyerang


__ADS_2